Berbincang tentang hak asasi manusia rasanya seperti berbincang tentang kesebelasan yang kalah main bola. Betapa tidak. Bertubi-tubi pernyataan, protes dan keluh kesah tentang pelanggaran hak asasi dilontarkan, tapi tak banyak mengenai sasaran. Orang berbantah, berseminar, berdiskusi, tapi hasilnya seperti tak ada yang jadi. Bahkan rancangan tentang hak asasi yang disusun pada awal kebangkitan Orde Baru pada masa di mana terkesan adanya iklim yang kuat ke arah kebebasan ternyata tak juga berhasil disahkan oleh MPR.
Desakan dari dunia internasional pun tampaknya tak begitu mempan lagi. Misi Walter Mondale ke Asia Tenggara akhir-akhir ini, yang semula diterima dengan hingar bingar dan berbagai komentar, rupanya berakhir juga dengan bantuan dan rasa lega. Dan tema kepresidenan petani kacang dari Georgia itu pun tinggal himbauan belaka, yang kalau perlu siap berdamai dengan arah angin. Sebab menurut Ketua IGGI yang baru, Jan de Koning, soal hak asasi manusia harus “dijamah dengan bijaksana”, sekalipun masih merupakan suatu “kriteria yang penting” untuk pemberian bantuan. Dan hasil dari jamahan kebijaksanaan itu adalah tambahan bantuan, karena ia tak hendak melihat “rakyat negeri itu … sudah jatuh dihimpit tangga pula”.1
Perbincangan tentang hak asasi juga menjemukan karena argumentasi yang berlarut-larut. Terlalu lama soal ini dipandang sebagai soal-soal yang sangat filosofis. Biasanya di sana akan disebut nama-nama besar, dari John Locke sampai Rousseau sampai Herbert Spencer dan John Stuart Mill. Dari anggapan bahwa hak asasi adalah alami sifatnya, sampai kepada soal bahwa hak asasi itu timbul dari persetujuan anggota-anggota masyarakat.
Serangan-serangan kepada hak asasi juga berundan di sekitar yang abstrak-abstrak ini. Dari mulai pemujaan penjelmaan orang dalam komunitas dan negara, sampai kepada kepincangan penghisapan yang dibawa oleh individualisme, liberalisme dan kapitalisme – tiga istilah yang susah didefinisikan tetapi biasa diasosiasikan dengan Barat itu.
Dan semua perbincangan ini berlangsung di “angkasa luar”, di ruang-ruang diskusi yang tak terjangkau oleh rakyat banyak, sebab masalahnya memang sulit dipahami orang awam. Perbincangan tentang ini rasanya merupakan arena pertandingan antar-elite, dengan mengambil kasus orang-orang awam yang jadi korban atau taruhan.
1 Tempo, 27 Mei 1978