Koreksi untuk buku suku “Manusia dalam Kemelut Sejarah”
Cetak ulang Prisma nomor 8 tahun 1977 (Manusia dalam Kemelut Sejarah) dalam bentuk buku suku oleh LP3ES sangat mengembriakan karena penyajian dan isi yang berbobot, serta ditulis oleh para ahli/ende- kiawan.
Namun (barangkali salah cetak atau salah informasi) di antara penulis telah membuat kekeliruan:
- Taufik Abdullah: “Manusia dalam Sejarah: Sebuah Pengantar” hal. 8; “Apakah nabi Muhammad SAW akan tetap hijrah, jika saja pamannya Abu Thalib tak meninggal dan pamannya yang lain, Abu Jalal, tidak memusuhinya?” Abu Jalal ataukah Abu Jahal?; 2. Onghokham: “Sukarno: Mitos dan Realitas” hal. 20; “Pada masa puncak-pun- cak kekuasaannya, Sukarno digelari Pemimpin Besar Revolusi, Penyambung Lidah Rak- yat, Amirul Amri, Panglima Tertinggi, dan lain-lain.”
Amirul Amri ataukah Waliyul Amri Dharuri Bissyaukah?
Mohon kekeliruan ini dapat “dijernihkan”. Salut pada akhir kata “Sekapur Sirih” pener- bit: “Kita memang mencoba untuk jernih, sebab hanya dalam kejernihan kita bisa ber- kaca.”
Manusia Dalam Kemelut Sejarah
Mereka yang mengungkapkan masa lalu le- wat artikel-artikel yang di muat itu, tentu te- lah bersusah-payah untuk melihat masalah- nya secara obyektif. Walau pun begitu, saya masih memperoleh kesan, bahwa subyektivi- tas para penulis tidak bisa dihindari. Malah saya nyaris berkesimpulan, bahwa para penu- lis adalah orang-orang yang jadi “pengikut” tokoh yang ditulisnya.
Saya sadar, betapa sulitnya meninggalkan subyektivitas dalam menulis sejarah. Tapi saya lebih menyadari bahwa perlu ada pelu- rusan dalam hal ini.
Generasi muda Indonesia kini membutuhkan cerita yang lebih lengkap tentang bapak-ba- paknya, karena bukankah masa sekarang me- rupakan proses lanjut dari masa silam?
Tanpa mengecilkan arti akan setiap usaha yang telah dilakukan para penulis, kepada Prisma saya usulkan agar cerita tentang “ma- nusia dalam kemelut sejarah” dilanjutkan lagi. Selagi kita masih memiliki orang-orang yang ikut dalam lakon masa lalu, alangkah baiknya Prisma mencari dan menemukan ke- benaran tentang kisah-kisah masa lalu itu. Mungkin para pelaku dan para penulis seja- rah kita akan tertarik berbincang tentang masalah ini. Bisa saja perbincangan itu dila- kukan hanya lewat suatu pertemuan. Saya Sebagai awam yang termasuk dalam generasi sekarang, akan sangat senang hadir sebagai pendengar. Bisakah diselenggarakan? Terpu- lang pada Prisma.
Manusia dalam Kemelut Sejarah
A.A TARSONO
Jalan Ujung Berung 2
Bandung