Prisma

Kritik & Komentar

Mengenai FKN Harahap

Dalam Prisma nomor 4, Mei 1978 pada rubrik: “Tentang Penulis Nomor ini,” menyangkut riwayat hidup ringkas F. K. N. Harahap antara lain ditulis: …” F. K. N. Harahap, lahir di Depok, Jakarta Selatan, tahun 1917. Ketika di Jakarta turut serta dalam Kongres Pemuda yang melahirkan Sumpah Pemuda…” dan seterusnya.

Membaca tulisan tersebut dirasakan ada kejanggalan. Pertama, Depok terletak dalam administrasi Kabupaten Bogor, bukan termasuk daerah Jakarta Selatan. Kedua, Kongres Pemuda yang melahirkan Sumpah Pemuda dilaksanakan pada bulan Oktober 1928. Kalau dalam Kongres Pemuda itu F. K. N. Harahap turut aktif, berarti pada masa itu F. K. N. Harahap baru berumur 11 (sebelas) tahun, karena ia lahir tahun 1917. Jadi, ketika ia masih duduk di bangku sekolah dasar. Sedangkan menurut catatan sejarah, para aktivis Kongres Pemuda seperti almarhum Prof. Muh. Yamin SH, Mr. Amir Sjarifudin, serta Prof. Dr. Abu Hanifah dan tokoh-tokoh pemuda lainnya diketahui lahir rata-rata di sekitar tahun 1904 sampai dengan 1910. Mereka umumnya mahasiswa, atau baru selesai studi pada perguruan tinggi. Timbul pertanyaan, siapakah yang keliru, F. K. N. Harahap si pemberi keterangan ataukah redaksi Prisma?

DRS TRIDAH BANGUN Komplek Perumahan MPR No. B–150, Cilandak Jakarta Selatan

Catatan redaksi Tentang koreksi anda yang pertama, anda benar. Depok terletak dalam daerah administrasi Kabupaten Bogor. Tapi mengenai keikut-sertaan F. K. N. Harahap dalam Sumpah Pemuda 1928, kami tulis berdasarkan pengakuan F. K. N. Harahap sendiri. Dalam riwayat hidup singkat yang dia kirim ke redaksi F. K. N. Harahap antara lain menulis, “Tahun 1928 turut Sumpah Pemuda sebagai peserta paling muda.” Dan untuk menjelaskan duduk perkaranya, anda ikutilah jawaban yang bersangkutan di bawah ini. Redaksi.

Saya yang termuda

Saudara Drs. Tridah Bangun, Saya telah menulis panjang lebar tentang Sumpah Pemuda, antara lain dalam Sinar Harapan (20 Oktober 1970) dengan judul “Sumpah Pemuda,” Indonesia Raya (29 Oktober 1973 dan 30 Oktober 1973) dengan judul “Kenangan-kenangan 45 Tahun yang Lalu-Sumpah Pemuda”. Tanggal 28 Oktober 1928 jatuh pada hari Minggu. Tahun 1973 Pak Diro (eks Walikota Jakarta) bermaksud mengeluarkan sebuah buku yang cukup tebal, kira-kira 200 halaman. Saya kini kurang tahu jumlah halamannya, karena present exemplar yang ada pada saya, tengah dipinjam seorang isteri pahlawan nasional. Di antara tokoh-tokoh – Mr. Muhammad Roem, Mr. Sunario dan lain-lainnya-saya juga diminta menulis, sebagai seorang peserta muda (bahkan yang termuda). Buku itu tak dapat terbit pada tahun 1973, karena karangan saya belum bisa masuk pada tahun itu. Januari 1974, saya ditelepon Pak Diro ke Bandung berkali-kali, supaya saya menyerahkan naskah tersebut. “Ik geef het boek niet uit zonder uw stuk (Saya tidak akan terbitkan buku itu tanpa tulisan anda),” kata Pak Diro. Kenapa Pak Diro bilang begitu? Saya tak tahu, dan mungkin bisa ditanyakan langsung sama beliau. Sebenarnya sebelum 1970, dalam beberapa harian dan mingguan saya sering menulis tentang Sumpah Pemuda. Karena saya tak punya dokumentasinya, tak bisa saya jelaskan di sini. Baru setelah 1970 saya mulai mendokumentasikan tulisan-tulisan saya itu (kini sudah lebih dari 1.000), dan belum ada yang membantah isinya. Antara lain saya menulis sebagai berikut: Tahun 1928 saya berusia 11 tahun dan duduk di kelas 6 Sekolah Dasar (1928-1929 kelas 6 dan 1929-1930 kelas 7). Tahun 1929 saya menempuh ujian HBS dengan angka rata-rata 8,75 (satu nilai 8 dan tiga nilai 9). Tetapi saya dinyatakan tidak lulus, karena (setelah ayah saya minta menyelidikinya lewat seorang kawannya yang menjadi PID) saya turut Sumpah Pemuda. Ayah saya berkata, “Kalau begitu, kau ke Nederland saja. Melalui jalan aneh itulah (atas biaya ayah sendiri) saya ke Nederland dalam usia 13 tahun. Waktu itu saya adalah pula anak Indonesia termuda yang pergi ke Negeri Belanda tidak dengan orangtua. Di Nederland saya tak perlu menempuh ujian masuk. Hanya atas dasar angka-angka rapor SD saja saya boleh masuk Lyceum. Semua itu pernah saya ceritakan, dan juga tak ada yang membantahnya. Tulisan-tulisan itu pun sudah dibaca kawan-kawan sekolah angkatan saya. Anggota intel Belanda (PID) itu berkata pada ayah saya, bahwa catatan pada penolakan saya masuk HBS berbunyi: HBS adalah sekolah untuk anak-anak Belanda dan anak-anak Indonesia yang orangtuanya “loyal” terhadap Pemerintah Belanda. Ayah saya masuk sebagai staf pada Postspaarbank (bank tabungan pos) di Molenvliet (kini Jl. Gadjah Mada) Jakarta. Jadi beliau dapat dianggap “loyal”, tapi saya turut Sumpah Pemuda. Demikian catatan PID. Dari kecil saya memang senang bermain dan bergaul dengan kawan yang lebih tua 4 atau 8 tahun. Di antara mereka ada yang kemudian (30-40 tahun setelah itu) menjadi menteri sosial, anggota Badan Pengawas Keuangan dan lain-lain. Tapi di masa muda kami sering berkata, “Apa-apaan kau ikut-ikut Sukarno yang sebentar lagi bakal ditangkap? Ayahmu memegang jabatan yang cukup tinggi. Sebentar lagi dia bisa dipecat gara-gara kau.” Waktu itu saya menjawab, “Ayah saya adalah ayah saya, dan saya adalah saya.” Saya rasa, kalau kita memang memiliki kesadaran, kesadaran itu sudah dapat kita punyai pada usia yang muda sekali. Tapi kalau kita memang telah ditakdirkan tidak memiliki kesadaran itu, setua apa pun kita, tak akan mempunyaianya. Mungkinkah sulit bagi Saudara Tridah membayangkan bahwa anak-anak muda dapat memiliki kesadaran? Adapun yang anda sebut “aktivis” dapat saya katakan sebagai berikut: dalam beberapa tulisan pernah saya ceritakan, bahwa para orangtua kami (yang disebut Saudara Tridah sebagai aktivis) agak ragu-ragu untuk menyelenggarakan kongres yang dicita-citakan. Kami yang muda-mudalah, pandu-pandu Jong Indonesia (kemudian Indonesia Muda) yang mendorong mereka, agar tetap pada maksud semula. Mungkin dapat kita bertanya, siapa yang sebenarnya aktivis, orang-orang tua atau kami yang muda-muda (11-17 tahun)? Pada waktu kongres memang yang jelas kelihatan duduk pada meja panitia (Sugondo Djojopuspito, Amir Sjarifuddin, Yamin, Tamzil dan lain sebagainya), tetapi kami yang menjaga keamanan, pantaskah dilupakan begitu saja? Hanya sedikit atau hampir tak ada tulisan yang menceritakan tentang kami, dan karenanya pula saya begitu giat menulis (sekali pun biasanya diminta). Pabila masih ada yang hendak anda tanyakan saya masih bersedia menjawab. Dan yang terakhir, tentang “usia muda” tadi; pada usia 30 tahun, saya diminta Amir Sjarifuddin duduk dalam kabinetnya sebagai menteri. Seandainya tawaran itu saya terima, tentunya waktu itu saya jadi menteri yang “termuda” pula.

DS. F. K. N. HARAHAP Jl. Sirnagalih 24 Bandung

Anda dapat membaca versi lengkap Artikel edisi ini di LP3ES-Prisma Digital format cetak maupun e-magazine.

Untuk melakukan pemesanan dapat melalui link berikut: LP3ES-Prisma Digital

Bagikan