Prisma

Ekonomi Gelandangan: Armada Murah buat Pabrik

Pengantar

Riwayat gelandangan di Jakarta adalah sebuah cerita lama. Orang telah banyak mempersoalkannya dari berbagai segi, dan penanggulangannya yang ditandai operasi-operasi penertiban, rupanya tak pernah memberikan hasil.$^2$

Ketika irama industri mulai terdengar di Jakarta dan wilayah Jawa Barat-sejak beberapa tahun yang lalu, kaum gelandangan mendapat pilihan baru. Ada kebutuhan akan kegiatan mereka berupa pengumpulan barang bekas yang akan diolah kembali oleh pabrik. Mungkin ia menawarkan pemecahan untuk masalah gelandangan, tapi bisa jadi pula ia menciptakan “keenakan” hidup sebagai tuna karya dan tuna wisma di Jakarta. Namun, kedudukan kaum gelandangan di mata perdagangan barang bekas itu bagaimanapun juga tetap sebagai jelata.

Berikut ini, dengan bahan-bahan yang dikumpulkan Yacob Rebong dan Anthony Ekna dari Yayasan Primus, Jakarta, dalam tiga bulan terakhir 1978 yang lalu, Prisma menurunkan laporan khusus, ditulis oleh Masmimar Mangiang. Redaksi.

Sum tertawa cekikikan dan sekali-sekali mengeluh genit dalam gubuk plastik di samping rel kereta api dalam semak Kali Malang, di seberang Pasar Rumput, Jakarta Pusat. Di atas tikar pandan kumal, dia rebah dalam pelukan Karyo. Sepanjang hari Minggu awal Maret yang lalu itu mereka hanya bermalas-malasan, seperti air keruh Kali Malang yang mengalir perlahan-lahan sepuluh meter di bawah mereka. Wanita 30 tahun asal Pemalang itu adalah satu di antara sekian pelacur yang beroperasi di sepanjang kali ini, dan Karyo “suami” yang tak pernah menikahinya itu adalah seorang dari ribuan pengumpul barang bekas yang kini berkeliaran di Jakarta. Kepada orang seperti Karyo puluhan pabrik di sekitar Jakarta menggantungkan penyediaan sebagian bahan bakunya, dan lewat tangan orang seperti Karyo pula bisnis yang melibatkan jutaan rupiah dapat dihidupkan. Tetapi kehadirannya dalam lingkaran bisnis seperti itu sama sekali tanpa suatu kekuatan, rapuh, bagaikan gubuk kertas tempat mereka tidur, yang dapat tersingkir seketika disapu petugas penertiban.

Suku Dinas Sosial Daerah Khusus Ibukota (DKI) Jakarta Raya tak pernah punya angka pasti tentang jumlah gelandangan yang ada di Ibukota. Pendatang yang masuk dan pergi sesukanya itu, pada akhir 1978 yang lampau diperkirakan berjumlah 10 ribu orang. Namun angka ini suatu saat sangat mungkin melonjak hebat, apalagi jika beberapa daerah di Jawa dilanda paceklik atau ditimpa bencana alam.

Yang merisaukan

Kehadiran kaum gelandangan selama ini mungkin terlalu banyak merisaukan Pemerintah DKI. Orang-orang ini membuat pemukiman di tempat yang dirasa “aman”, di sepanjang rel kereta api, daerah dekat pasar dan tempat pembuangan sampah, atau di tanah kosong sepanjang pinggir kali. “Perkampungan” yang dijadikan “sarang”, sama tetapnya dengan jumlah gelandangan yang menempatinya. Ia dapat pindah atau hilang tiba-tiba dalam waktu yang tak menentu.

Tetapi “sarang” yang umumnya merupakan kumpulan gubuk kertas, plastik dan papan rombeng itu adalah tempat yang punya kegiatan. Di sana ada usaha mengumpulkan barang bekas. Ia berbaur jadi satu dengan pembuatan makanan kecil, kerajinan tangan dengan harga murahan, bercampur dengan kriminalitas, pelacuran dan lelaki hidung belang yang menjadi langganan. Hari-hari yang dilewati di sana ditandai dengan kekerasan, tipu muslihat, dan selalu dirundung kekhawatiran. Minggu ketiga Maret yang lalu, gubuk Sum dan Karyo rubuh dihancurkan pembersihan yang berlangsung tengah malam. Kaum gelandangan sendiri menganggap, pembersihan itu dilancarkan untuk mencari penjahat yang diduga bersembunyi di daerah seperti itu. Tapi di malam berikutnya, di sana kembali berkumpul mereka yang luput dari penangkapan; penjual makanan, pelacur, dan gelandangan yang di waktu siang berjalan sepanjang hari, memungut barang bekas yang oleh berbagai pabrik menjadi suatu kebutuhan.

Anda dapat membaca versi lengkap Artikel edisi ini di LP3ES-Prisma Digital format cetak maupun e-magazine.

Untuk melakukan pemesanan dapat melalui link berikut: LP3ES-Prisma Digital

Bagikan