Pengantaran
Jika dilihat pada intensitas penghayatan pengarang dalam karya-karyanya, begitu H.B. Yassin, perkembangan sastra kita kini dapat dikatakan relatif baik. Dosen Jurusan Sastra Indonesia, Fakultas Sastra, Universitas Indonesia dan kritikus sastra ini menyebut, masyarakat sekarang lebih dekat pada sastra dibanding dengan masyarakat Indonesia dahulu. Tetapi menurut Wildan Yatim, seorang pengarang yang juga menjadi dosen biologi pada Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran, Bandung, situasi sosial politik sekarang tidak mendukung perkembangan sastra kita. Dalam hubungan sastra dengan kaum elite dewasa ini, Yatim mengatakan, elite sekarang adalah produk sistem pengajaran bahasa yang terbengkalai di zaman Jepang, tidak gemar membaca, dan tak kenal sastrawan serta karyanya. Walaupun demikian, Yudhistira Ardi Nugraha Massardi, seorang pengarang muda usia, melihat munculnya kelompok pembaca baru dalam masyarakat. Mereka adalah golongan pelajar. Dan Yudhistira berpendapat, merosotnya dunia bacaan dalam tahun belakangan ini, dikarenakan tak sanggupnya pengarang mempertahankan mutu.
Ketiga tokoh ini berbicara juga soal pengajaran kesusastraan ini di sekolah-sekolah, dan juga tentang profesi pengarang yang dikatakan tak memberikan jaminan untuk hidup sekarang ini. Pendapat-pendapat mereka dipertemukan Prisma dalam “Dialog” berikut ini. Redaksi.-
Tidak didukung situasi sosial politik, Wildan Yatim. Pengarang, Dosen Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran, Bandung
Perkembangan sastra kita pada masa penjajahan dahulu didasari oleh situasi sosial-politik, dan media-massa menjadi penunjang utamanya. Pandji Pustaka dengan anggaran besar. Tujuannya adalah menyisihkan bacaan berbau komunis yang bermunculan pada masa itu. Belanda berpendapat, bacaan seperti itu dapat meracuni kehidupan kolonial. Buku cerita asing disuruh terjemahan banyak-banyak dan disebarkan ke seluruh pelosok tanah air lewat perpustakaan sekolah. Para penterjemah lambat-laun terangsang untuk mencipta sendiri. Ini disalurkan dan diberi honorarium yang tinggi. Nilai Barat pun meresap ke dalam kesusastraan kita lewat usaha menterjemahkan dan hasil terjemahan.
Berdirinya Pujangga Baru juga merupakan lanjutan situasi serupa. Nilai Barat lewat buku bacaan menimbulkan kesadaran baru pada banyak sastrawan asuhan Balai Pustaka, untuk bergerak bebas sendiri demi pembinaan kesusastraan nasional.

Ekonomi yang harus dibereskan dulu, Yudhistira Ardi Nugraha Massardi, pengarang
Pada tahun 1977/1978 dunia bacaan kita berkembang secara kwantitas. Banyak pengarang baru yang muncul. Mungkin mereka dirangsang oleh sukses pengarang-pengarang terdahulu, mungkin oleh tujuan komersial atau boleh jadi untuk popularitas. Kelompok pembaca baru juga lahir pada masa itu. Mereka adalah murid kelas terakhir sekolah lanjutan pertama dan pelajar sekolah menengah lanjutan atas. Kelompok ini menggemari fantasi. Pengarang dan penerbit merasakan hal itu, dan jumlah bacaan akhirnya bertambah.
Saya sendiri tidak membaca semua karya yang diterbitkan itu. Paling-paling yang saya ikuti hanya satu-dua judul. Dan bagi saya, sulit untuk membicarakannya secara kwalitas, karena saya tak tahu bagaimana kriteria karya sastra yang baik.
Tetapi, dengan meningkatnya jumlah bahan bacaan, dan munculnya golongan pembaca baru itu, saya masih agak ragu untuk mengatakan bahwa minat membaca kita dewasa ini meningkat. Menurut saya, pembaca novel yang terbit akhir-akhir ini adalah golongan pembaca yang dahulu juga ditambah dengan kelompok baru itu tadi.
Profesi pengarang
Untuk masa depan, saya tidak begitu yakin, apakah saya dapat hidup sebagai pengarang. Untuk mengongkosi keluarga, sekolah anak-anak, membeli rumah, di Jakarta susah sekali. Sampai sekarang saya masih bertahan hidup sebagai pengarang, namun banyak penghasilan saya bukan dari tulisan. Dan kondisi sekarang tak begitu baik. Banyak beredar novel buruk. Pembaca malas karenanya, dan penerbit tak berani mengeluarkan novel sebanyak tahun-tahun yang lalu. Dalam kondisi seperti ini, honorarium bagi pengarang rendah. Masa panen sudah lewat. Pengarang harus siap-siap mencari lubang lain.
Bagaimana agar ia jadi baik? Karena ladang yang sekarang sudah habis pupuk alamnya, harus dibuka ladang baru. Ladang baru itu adalah pencarian pengarang sendiri, yakni mencari lebih banyak pengetahuan dan memperbaiki kwalitas karangan. Saya pikir harus dicari tema baru dengan gaya yang baru. Mungkin dari situ diperoleh panen yang baik, asalkan jangan dieksploitir sedemikian rupa sehingga ia gersang kembali.

Perkembangan sastra kita relatif baik, H.B. Yassin, Dosen Jurusan Sastra Indonesia, Fakultas Sastra Universitas Indonesia, kritikus sastra
Sastra semestinya menjadi bagian hidup, baik bagi seorang ekonom, teknikus ataupun pedagang. Artinya; sastra menjadi rohani kita. Dan kita menerimanya tidak hanya dengan kesadaran otak saja, tetapi dengan seluruh kesadaran perasaan. Sastra mencari obyek pada seluruh pengalaman manusia. Seluruh pengalaman itu masuk dalam kegiatan sastra. Semuanya saling berhubungan dalam kehidupan kita, dan bagi saya ia tak dapat dipisahkan. Ia suatu keutuhan.
Perkembangan di zaman penjajahan
Perkembangan kesusastraan kita pada masa kolonial yang silam dapat dikatakan relatif pesat. Untuk membicarakannya, kita harus menghubungkannya dengan kejadian-kejadian yang ada dalam masyarakat.
Politik Susila Belanda tahun 1901 dengan mendirikan sekolah-sekolah dan mengajarkan ilmu Barat pada bangsa kita membuat orang Indonesia kenal akan dunia yang dahulu tertutup baginya. Ukuran dan rasa hidup Barat itu berbeda dengan ukuran dan rasa hidup bangsa kita. Ia kemudian menimbulkan pandangan kritis dan skeptis terhadap lingkungan serta nilai-nilai yang waktu itu kita akui dan hayati sebagai milik kita.
Lewat pendidikan itu kita memperoleh kesadaran, muncul pandangan politis, dan timbul cita-cita untuk menjadi bangsa merdeka. Majalah dan koran adalah media yang berpengaruh kuat waktu itu di kalangan masyarakat yang bersekolah. Bagi kesusastraan, semuanya itu menjadi pendukung. Dan karena itu saya cenderung mengatakan, perkembangan itu relatif pesat.
Untuk masa sekarang, hal itu agak sulit dibicarakan kalau kita membandingkannya dengan melihat jarak waktu. Saya melihat sastra hadir pada suatu masa dan saat, dan dalam hal ini, pembabakan waktu hanya teoritis saja. Berapa karya yang terbit sejak kita mengenal sekolah dan ilmu Barat, sampai tahun 1945? Jika mau dihitung berdasarkan waktu dan dibandingkan dengan masa sekarang (masa sesudah kemerdekaan) perkembangan dewasa ini mungkin dapat dikatakan tidak pesat. Tetapi kalau dihitung intensitas penghayatan pengarang dalam karyanya, mungkin ia lebih padat, lebih kaya, dan lebih memancarkan penderitaan serta harapan lebih hebat. Karena itu saya tidak mau membaginya dengan pembatasan waktu.
Bagaimana jika hal itu kita lihat dengan menghubungkannya dengan pengaruhnya pada masyarakat luas? Buat membicarakannya, terlebih dahulu kita harus paham, bahwa karya sastra atau karya seni, tak perlu eksplisit, memasukkan cita-cita atau ajaran pengarang. Ia dapat saja melukiskan apa adanya, dan masyarakat pembaca mencari sendiri apa yang dapat disimpulkan dari isinya.
