Prisma

Pembangunan Ekonomi: Meluruskan Benang Kusut

Pengantar

Sudah lama disadari, pembangunan ekonomi tidak saja ditentukan oleh faktor-faktor ekonomi, tetapi juga ikut ditentukan oleh faktor-faktor non-ekonomi. Dan justeru di sinilah letak kesulitannya, karena yang terakhir ini tidak bisa dihitung atau diukur. Lalu, kalau pembangunan ekonomi dalam suatu negara lebih banyak ditentukan oleh faktor-faktor non-ekonomi, apa yang akan terjadi? Menata pembangunan ekonomi semacam ini jelas merupakan usaha menegakkan benang kusut yang melingkar-lingkar. Tetapi akan lebih celaka lagi, bilamana dalam menegakkan benang kusut itu kita terjebak dalam model-model pembangunan ekonomi yang sama sekali tidak cocok dengan kondisi masyarakat kita, yang akhirnya menghasilkan kegagalan demi kegagalan.

Untuk mendapatkan gambaran lebih jelas tentang perkembangan perekonomian kita, Prisma kali ini mengajak bicara seorang ekonom dari Universitas Gadjah Mada, Prof. Dr. Mubyarto. Memperoleh M.A. untuk Ekonomi Pembangunan dari Vanderbilt University ((1962), kemudian mendapatkan Doktor untuk Ilmu Ekonomi Pertanian dari Iowa State University (1965); kini di samping sebagai dosen, juga Direktur Pendidikan Pasca Sarjana Fakultas Ekonomi UGM. Tanggal 19 Mei 1979, dia baru saja dikukuhkan sebagai guru besar dalam ilmu ekonomi pertanian dengan pidato pengukuhan berjudul: “Gagasan dan Metode Berpikir Tokoh-tokoh Besar Ekonomi dan Penerapannya bagi Kemajuan Kemanusiaan”. Sehari setelah upacara pengukuhannya, Aswab Mahasin, Manuel Kaisiepo dan Sasmito dari Prisma telah berkesempatan mewawancarainya. Redaksi,-

Tanya: Dalam pidato pengukuhan sebagai guru besar, Anda menyebut bahwa teori neo-klasik masih sangat kuat mempengaruhi pemikiran para perencana pembangunan ekonomi di negara kita, lalu dikaitkan dengan teori Keynes. Bagaimana hal ini dapat dijelaskan.

Jawab: Teori neo-klasik lahir tahun 1776 sampai dengan 1870, yaitu dengan terbitnya buku-buku Leon Walras, Alfred Marshall dan Karl Menger, dan ini berjalan sampai tahun 1936. Keynes, yang disebut bapak ekonomi moderen itu, sebelumnya banyak sekali memakai teori-teori neo-klasik juga. Kalau Marshall menganggap teori neo-klasik itu dengan beberapa perubahan bisa mencapai efisiensi, maka Keynes mengatakan liberalisme yang lebih bebas tidak akan mencapai hasil; hingga diperlukan campurtangan pemerintah. Jadi teori-teori itu sebetulnya bukan merupakan sesuatu yang berbeda-beda tetapi merupakan suatu garis kontinum yang makin lama makin disempurnakan. Mengapa saya sekarang tidak mengatakan yang dipakai di Indonesia itu teori Keynes, karena sudah dikatakan teori klasik itu sekarang menguasai para pemikir kita, termasuk para penentu kebijaksanaan, dengan segala kelemahan dan kekuatannya. no, alasannya Keynes hanya menyempurnakan teori neo-klasik, dengan hanya kelemahan-kelemahan diperbaiki. Tetapi dasar-dasar teori ekonomi mikro, yaitu resources allocation itu memang sepertinya sudah tidak bisa dikembangkan lagi.

Warisan dua keburukan: ekonomi-liberal dan etatisme

T: Bagaimana Anda bisa mengatakan ekonomi kita pada dasarnya berdasarkan pasar bebas. Padahal peranan negara dalam perekonomian kita boleh dibilang besar sekali. Sebutlah misalnya Pertamina, Bulog dan perusahaan-perusahaan besar lainnya yang dikuasai oleh negara.

J: Pertanyaan ini baik sekali. Jadi Saudara mempertanyakan apakah saya mengatakan tepat bahwa Indonesia itu sekarang menganut teori neo-klasik. Justeru isi pidato saya menerangkan mengapa hal itu sebenarnya tidak tepat kalau kita mengatakan bagi seluruh perekonomian. Kita mengatakan pasar bebas untuk beberapa sektor yang kuat. Di sana memang ada pasar bebas, dan juga ada persaingan. Dalam perekonomian kita, di samping perusahaan-perusahaan swasta besar, justeru perusahaan-perusahaan negaralah yang paling kuat dalam persaingan ini, seperti Pertamina dan PN-PN lainnya. Karena itu antara pemerintah sebagai lembaga pemerintah yang mengadakan pengaturan perkonomian dengan perusahaan-perusahaan negara sebenarnya harus ada batas, harus ada pemisahan.

Anda dapat membaca versi lengkap Artikel edisi ini di LP3ES-Prisma Digital format cetak maupun e-magazine.

Untuk melakukan pemesanan dapat melalui link berikut: LP3ES-Prisma Digital

Bagikan