Pengantar
Teknologi lahir dari akal manusia untuk menguasai dan memanfaatkan lingkungannya. Ia berkembang dengan pesat dan pernah diagung-agungkan. Namun, dalam kurun belakangan ini teknologi mengundang kecemasan di dunia. Di samping ia membawa kemajuan, ia juga menciptakan gangguan, kadang-kadang pengrusakan, yang dapat diartikan kemunduran.
Bagi Y.B. Mangunwijaya, pastor desa di Salam, Muntilan, Jawa Tengah, yang juga kolumnis dan dosen Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada, orang sekarang tak dapat lagi berpaling dari teknologi itu. Walaupun ia mencemaskan, teknologi takkan lagi dapat ditinggalkan manusia. Karena itu, katanya, dalam berteknologi yang penuh dilema itu, kita harus sadar tentang arah yang kita tuju: hendak diapakan dan mau dibawa ke mana masyarakat kita ini.
Prof. A. Baiquni, Direktur Jenderal Badan Tenaga Atom Nasional, melihat masalah ini lewat kacamata yang tak berbeda. Akibat sampingan yang ditimbulkan teknologi, katanya, dapat diatasi manusia dengan teknologi itu sendiri. Syaratnya, kata Baiquni, adalah kesadaran dan kemauan kita sendiri untuk membuat segala akibat yang mencemaskan itu menjadi sekecil mungkin. “Dialog” kita kali ini menampilkan pendapat kedua tokoh ini. Redaksi.
Masalah pengendalian efek samping teknologi, A. Baiquni, Dirjen BATAN.
Kalau saya berbicara mengenai teknologi maka yang saya maksudkan adalah hasil penerapan sistematik daripada sains, yang merupakan himpunan rasionalitas insani kolektif, untuk memanfaatkan lingkungan hidup dan mengendalikan gejala-gejala di dalam proses-proses produktif yang ekonomis. Ia dapat berbentuk suatu disain, rancangan, atau suatu proses yang dapat menghasilkan sesuatu yang berguna. Untuk dapat mewujudkan barang-barang yang dibutuhkan oleh masyarakat dengan teknologi yang tersedia, diperlukan pihak-pihak yang berani menanggung risiko dalam memproduksi, mendistribusi dan memasarkan barang-barang itu. Pihak-pihak ini dapat terdiri atas perorangan, kelompok dalam masyarakat atau pemerintah; namun mereka harus menyediakan modal, manajemen dan lain sebagainya yang diperlukan dalam rangkaian kegiatan ekonomi yang tersebut di atas.
Jadi bagi saya, peralatan dan mesin-mesin betapapun kompleksnya atau sederhananya bukanlah teknologi. Mereka adalah hasil teknologi; mungkin suatu sarana produksi yang dengan menggunakan teknologi tertentu dapat menghasilkan barang kebutuhan hidup manusia, suatu sarana distribusi, transpor atau lainnya.
Memang teknologi membawa perubahan dalam cara hidup masyarakat. Karena barang-barang yang tersedia di tengah-tengah masyarakat juga mengalami perubahan; baik mutunya, jumlahnya, maupun jenisnya yang beraneka ragam. Ia membawa kemajuan. Kalau dahulu masyarakat menggunakan tenaga otot, manusiawi maupun hewani untuk memenuhi kebutuhan hidupnya sehari-hari maka kemudian, dengan adanya mesin-mesin, tenaga hewani dan sebagian besar tenaga manusiawi digantinya dengan tenaga mesin. Malahan kini, dengan adanya mikroprosesor dan komputer, peranan otak manusia dalam berbagai bidang, dalam pengenalan pola, pekerjaan rutin, pengambilan keputusan dan sebagainya, telah mulai diambil alih sedikit demi sedikit oleh hasil teknologi elektronik tersebut.

Tak mungkin menolak teknologi, Y.B. Mangunwijaya, Pendeta desa Salam, Jawa Tengah
Teknologi memiliki hubungan erat dengan science. Ia tidak dapat lepas dari struktur-struktur yang ada dalam masyarakat. Bagaimanapun teknologi tidak hanya sekedar “perpanjangan tangan” manusia, karena ia punya fundasi dan nafas khusus.
Pada masa akhir-akhir ini kita banyak berbicara soal teknologi tinggi, madia dan sebagainya. Namun sebenarnya masalah kita bukanlah tentang pemilihan jenis teknologi tersebut. Pada saat kita hendak kompor dengan energi sinar matahari–sebagai misal–kita membutuhkan aluminium. Aluminium diproses dengan teknologi tinggi juga. Jadi, tidaklah menjadi persoalan: apakah kita memilih teknologi tinggi atau teknologi madia. Masalah yang sesungguhnya adalah: apakah kita tahu dengan apa yang kita kerjakan.
Dengan demikian, masalah itu bukan lagi hanya sekedar masalah para insinyur. Ia sudah menjadi persoalan kaum politisi, yakni mau dikemanakan seluruh proses industrialisasi yang ada. Karena itulah di RRC, di setiap pabrik duduk komisaris politik. Hal ini menjengkelkan, tetapi memang betul.
Teknokrat dan teknologi
Teknokrasi yang sesungguhnya adalah raja. Di Indonesia, dalam banyak hal teknokrat juga raja. Dan kalau kita tahu bahwa teknologi bukan hanya keterampilan belaka, tetapi keterampilan plus ideologi, maka sudah sepantasnya teknokrat dikontrol oleh seluruh bangsa. Untuk itu dibutuhkan negarawan yang bertugas mengontrol serta mengarahkan teknokrat tentang apa yang harus mereka lakukan. Dan ini konflik inheren pada zaman moderen. Kesulitan tentang ini tidak hanya terdapat di Indonesia, tetapi di seluruh dunia.
Orang mengatakan, teknokrat harus dikontrol oleh masyarakat. Sebaliknya, apabila teknokrat tidak diawasi dan tidak disetir, dan tidak diberi arah policy, kita ini mau ke mana? Dunia menghadapi dilema seperti ini. Orang tahu, jika teknokrat tidak diarahkan atau tidak diawasi, bahayanya bukan main. Tapi apakah ini mungkin? Sedangkan teknokrat, teknologi, industri dan bisnis, telah menjadi blok yang besar. Dilema ini aktual untuk saat sekarang.
Dari kodratnya, teknologi sebetulnya tidak mau dicampuri. Dan sekarang, jika teknologi serta science diawasi atau dikontrol, apakah dapat ia maju? Apabila ada rencana ke angkasa luar, misalnya, ada dalih terlalu mahal. Jika membuat bayi tabung, ada pendapat bahwa hal tersebut tidak bermoral, dan sebagainya. Menjadi pertanyaan, apakah dengan cara begitu teknologi dan science dapat berkembang. Tapi kalau tak dikontrol, dunia kita ini bagaimana jadinya? Di sinilah timbul masalah decision, yakni decision manusia yang manusiawi. Artinya, suatu saat ia harus dapat membuat batas, walaupun batas sementara, tapi membuat batas itu inheren ada risiko dia ketinggalan. Sekarang masalahnya, apakah manusia mau relatif ketinggalan. Dan para ahli pernah berkata, kita harus berhenti dulu, atau kita masuk jurang.
Ada pendapat yang mengatakan, kita harus memodernisir diri, tanpa westernisasi. Masalah ini sulit, karena modernisasi bukanlah sesuatu yang abstrak. Kita sudah masuk pada situasi kongkrit, historis, dan tidak dapat mengatakan kita tidak mau berteknologi. Hal itu tak mungkin lagi. Kita sudah berteknologi. Inilah masalah yang dihadapi dewasa ini, dan inilah yang hendak dipecahkan generasi sekarang secara internasional. Namun jika kita tanyakan, bagaimana mengatasinya, cara yang pasti juga belum ada. Kita semua telah terlanjur berada dalam satu kapal, dan meraba-raba.
