Prisma

Laporan Khusus: Polusi di Kajen, dari Rakyat, untuk Rakyat

Pengantar

Kabupaten Pati di Jawa Tengah banyak memproduksi tepung tapioka. Ngemplak di Kecamatan Margoyoso, daerah Pati selatan, adalah salah satu desa yang penduduknya bermata pencaharian membuat tepung singkong itu. Dari sana muncul masalah pengotoran, baik di lingkungan Ngemplak sendiri, maupun pencemaran air yang merambat ke desa-desa tetangganya.

Kali ini Prisma menurunkan laporan khusus tentang pengotoran yang dibuat rakyat dan untuk rakyat itu. Laporan ini dikerjakan oleh Manuel Kaisiepo dan Masmimar Mangiang. Redaksi.

Ratusan ribu sayatan lontong singkong berwarna merah putih yang dijemur menghampar di atap dan halaman rumah penduduk desa Kajen, menjadi pemandangan menyolok kalau matahari bersinar di waktu siang. Pembuatan kerupuk adalah usaha yang menghidupi hampir setiap keluarga di desa itu dengan pendapatan sekitar Rp 400 dalam sehari. Tetapi pengolahan bahannya – tepung ketela – di desa Ngemplak, mengharuskan Kajen dan beberapa desa lainnya menampung setiap air kotor yang dibuang. Ia menyebarkan bau busuk, mengusik kehidupan ikan-ikan piaraan dan membuat lingkungan jadi kumuh. Kepada Kajen dan beberapa kampung di daerah itu, Ngemplak sekaligus mengajukan dua tawaran. Pada saat ia menyodorkan sumber penghasilan, ia juga menciptakan pengotoran.

Kabupaten Pati adalah penghasil tepung ketela yang besar untuk Jawa Tengah. Di kabupaten ini produksi terbanyak datang dari Kecamatan Margoyoso, dan Ngemplak duduk di tempat teratas untuk jumlah produksi di kecamatan itu. Pembuatan tepung singkong di sana adalah usaha yang telah dilakukan penduduk dari generasi ke generasi. Dan sejak pertengahan 1960-an yang silam kegiatan itu meningkat banyak, ketika lima penduduk menjadikannya sebagai usaha yang lebih sungguh-sungguh. Sejak itu pula beberapa hal yang kini terasa sebagai pengganggu sudah diawali. Industri rumah yang berkembang dan tumbuh sendiri ini akhirnya menghadapi masalah pembuangan kotoran, baik yang bernama kulit ketela, ampas singkong, ataupun air bekas penyaring pati untuk tepung.

Di Ngemplak, usaha yang hampir merata di seantero kampung ini, menciptakan pengotoran lingkungan. Kulit ketela yang beronggokan menunggu kering untuk dijadikan bahan bakar, serta ampas yang ditumpuk di sana-sini, menyebarkan bau yang menusuk. Salah seorang pengurus pesantren di daerah itu pernah menggambarkan ironi industri milik rakyat di sana sambil bergurau. “Jika dari Pati anda hendak ke Ngemplak,” katanya, “hidung dapat dipakai buat mencari tempat yang anda tuju. Apabila bau busuk tercium dalam perjalanan berarti anda sudah sampai.” Ucapan ini hanyalah seloroh. Tetapi walaupun dalam gurau, bau asam dan busuk, telah menjadi simbol bagi Ngemplak. Mungkin memang demikian. Di desa ini tempat tinggal manusia, usaha pembuatan tepung, tempat ternak berteduh, serta wadah penampung sampah, hampir berbaur jadi satu.

Tetapi kulit ketela dan ampas yang dipandang sebagai pembawa cemar ini bukanlah barang yang tiada harga. Sebagai makanan ternak ia dapat dijual Rp 25 per kilogram. Di desa produsen tepung tapioka itu, diperoleh 15 ton ampas setiap hari. Ternak piaraan yang dibesarkan dengan makanan ini adalah hewan-hewan yang sehat serta gemuk. Satu di antara sapi di sini tempo hari terpilih sebagai sapi sehat nomor tiga dalam kontes tingkat nasional, dan memperoleh penghargaan Kepala Negara. Mungkin karena itu pula usaha memperkecil gangguan sampah yang merisaukan itu tak kunjung terpikirkan. Hanya saja agaknya masalahnya bukan sekedar produksi tepung singkong atau penggemukan sapi, paling tidak bagi desa-desa di sekitarnya. Bagi Kajen di timur laut ia melahirkan pencemaran air dan bau busuk yang menjengkelkan. Bagi desa Bulumanis di dekatnya, ia membawa persoalan pada tambak-tambak milik rakyat, tempat bandeng dan udang windu mereka dibesarkan.

Anda dapat membaca versi lengkap Artikel edisi ini di LP3ES-Prisma Digital format cetak maupun e-magazine.

Untuk melakukan pemesanan dapat melalui link berikut: LP3ES-Prisma Digital

Bagikan