Prisma

Kritik & Komentar

Batak dan Jawa dalam tesis Schweizer

Hasil penelitian Doktor Margarete Schweizer tentang “Pendapat-pendapat Antar Etnis pada Mahasiswa UGM Yogyakarta” (Prisma, No 4, April 1979), sungguh menarik. Di samping masalahnya sangat baru, hasil penelitian ini pada hemat kami juga sangat berguna bagi tenggang-menenggang dalam pergaulan sosial antar ketiga etnis tersebut. Dalam komentar ini kami hanya membatasi pembicaraan pada etnis Batak dan Jawa. Di samping jumlahnya cukup significant bagi suatu penelitian, kedua etnis ini begitu mudah dijumpai karena penampilan mereka.

Dalam penelitian ini Doktor Margarete rupanya terjebak oleh stereotype yang bertebaran di mana-mana. Hal yang bukannya tanpa disadari oleh Margarete dan olehnya dinamakan semacam “pengetahuan umum”. Memang stereotype bisa dianggap sebagai suatu teori atau setidak-tidaknya suatu hipotese yang belum/tidak dipublikasikan. Tapi dia sudah menjadi semacam public opinion (pendapat khalayak) yang boleh dikata sudah tersebar ke segala penjuru angin.

Sebagai contoh, jika dilihat tabel hasil penelitian, stereotype semacam ini mempunyai korelasi begitu tinggi baik itu pernyataan dari ingroup maupun outgroup dari kedua belah pihak. Orang sudah tahu, stereotype orang Jawa (Tengah) adalah halus pembawaan, ramah tamah dan bersopan santun. Orang Batak yang belum pernah kenal-tapi pernah mendengar tentang orang Jawa-kalau ditanya pendapatnya tentang orang Jawa kebanyakan akan menjawab berdasarkan stereotype itu.

Dari data hasil penelitian Margarete, ketiga stereotype itu mendapatkan dukungan yang sangat tinggi dari ingroup-nya, masing-masing: 88%, 84% dan 86%. Sedang pendapat dari outgroup-nya juga tak kalah tingginya, masing-masing: 90%, 84% dan 75%. Sedang stereotype orang Batak adalah kasar dan berani, dalam ingroup-nya mendapat angka sangat tinggi, masing-masing: 84% dan 92%. Sedang dari outgroup-nya mendapat nilai: 76% dan 82%.

Dari data ini asumsi bahwa sifat-sifat itu merupakan suatu stereotype yang menurut Margarete merupakan “pengetahuan umum” setidak-tidaknya telah terbukti. Persentase pendapat antara kedua etnis tentang stereotype masing-masing etnis mendapat nilai yang sangat tinggi. Sedang item no. 18 (sedia membantu) pada orang Jawa (Tengah) ingroup-nya memberi nilai 62% sedang outgroup-nya (Batak) cuma mendapat nilai 24%. Item ini pada orang Batak ingroup-nya memberi nilai 76% sedang outgroup-nya (Jawa Tengah) cuma mendapat nilai 22%. Demikian juga pada item no. 17 (bersifat memberi) pada orang Jawa ingroup-nya memberi nilai 50% sedang outgroup-nya mendapat nilai 20%. Pada orang Batak untuk item ini ingroup-nya memberikan nilai tinggi yaitu 71% sedang outgroup-nya memberi nilai sangat rendah yaitu 8%.

Jika diamati data itu lebih teliti pada setiap item maka didapatkan bahwa sifat yang positif pada ingroup mendapat nilai tinggi, dan sebaliknya pada outgroup. Sedang sifat yang negatif misal licik, kecuali pemalas), akan dinilai rendah oleh ingroup-nya sedang outgroup-nya dinilai tinggi. Ini berarti bahwa masing-masing etnis tidak mau mengakui sifat-sifat yang negatif (yang ditanyakan pada item) kecuali yang telah menjadi stereotype. Itu saja sifat negatif yang telah stereotype itu lebih sering ditafsirkan positif oleh etnis yang bersangkutan, tapi belum tentu positif oleh etnis lain. Sedangkan penelitian mengenai social distance (jarak sosial), Margarete menggunakan skala/model Bogardus. Dari tabel hasil penelitian dapat kita lihat hampir semua orang Jawa tak mau menerima orang Batak sebagai anggota keluarga sendiri dengan perbandingan jawaban responden sangat menyolok (8 setuju, 42 tidak). Sedang untuk sebaliknya nilainya juga 26% responden Batak setuju menerima orang Jawa menjadi anggota keluarga sendiri, sedang 24 tidak setuju. Cukup banyak orang Jawa yang tak mau makan bersama orang Batak (28 setuju, 32 tidak) dan 32 responden Batak bersedia makan bersama dengan orang Jawa sedang 19 responden menolak. Persentasenya sangat kecil untuk orang Jawa yang mau bertetangga dengan orang Batak (28 setuju, 22 tidak). Hampir semua orang Batak bersedia makan bersama dengan orang Jawa (47 setuju, 3 3 tidak). Hampir semua orang Jawa mau berteman kuliah dengan orang Batak (46 setuju, 3 tidak). Sedang 50 responden Batak yang ditanyai hal ini semua setuju untuk berteman kuliah dengan orang Jawa.

Dari data ini dapat ditarik suatu kesimpulan atau setidak-tidaknya suatu hipotese bahwa ada semacam pobi (ketakutan) orang Jawa terhadap orang Batak. Masalah ini pernah saya tulis di koran kampus UGM, “Batakto Pobi, Adakah di Jawa?” (Gelora Mahasiswa no. 2, Tahun V, 20 Oktober 1979) yang mendapat tanggapan pro dan kontra dari kalangan mahasiswa Batak. Yang pro mengatakan bahwa hal itu memang benar, sedang yang kontra pada dasarnya dapat ditafsirkan menyatakan seperti yang pro, tetapi mereka berpendapat bahwa hal itu tidak sepantasnya diungkapkan apalagi dalam suatu media yang dibaca banyak orang.

Sayang, Margarete dalam penelitian ini tidak mempilah-pilah orang Batak menjadi beberapa suku (dalam arti sempit) misal: Toba, Mandailing, Karo dan Simalungun. Sebab setiap suku ini memiliki kadar stereotype yang berbeda yang pada gilirannya akan mempengaruhi validitas dan signifikansi hasil penelitian. Misal: Orang Mandailing lebih tidak kasar dibanding orang Toba. Juga orang Jawa Tengah tidak dipilah-pilah. Misal: orang Semarang tentu saja memiliki kadar stereotype yang berbeda dengan orang Yogya atau Solo misalnya.

Tapi sekarang ada suatu gejala banyak orang Jawa (Tengah) yang mengawinkan anak perempuan mereka dengan pemuda dari tanah Batak, yang pernah saya lihat yaitu dari Toba, Mandailing dan Karo. Tentu timbul pertanyaan pada diri kita, apakah motivasi yang mendasari tindakan mereka ini? Mungkin gejala ini bisa dijadikan obyek penelitian yang menarik bagi para sosiologi dan anthropologi termasuk Doktor Margarete, di samping sangat positif bagi proses integrasi nasional.

Muhammad Firdauz Ap Fakultas Ilmu Sosial dan Politik UGM Yogyakarta.

Anda dapat membaca versi lengkap Artikel edisi ini di LP3ES-Prisma Digital format cetak maupun e-magazine.

Untuk melakukan pemesanan dapat melalui link berikut: LP3ES-Prisma Digital

Bagikan