Batak dan Jawa
Saya memberikan sedikit tanggapan terhadap tulisan Muhamad Firdaus AP dalam rubrik “Kritik dan Komentar” Prisma, 6, 1979, yang mengomentari artikel Margarete Schweizer beberapa waktu yang lalu.
Dikatakan, hasil penelitian ini telah dipergunakan untuk memperkuat pendapat yang ditulis dalam koran kampus Universitas Gadjah Mada (Gelora Mahasiswa nomor 2 tahun V), yang berjudul “Batak Phobi, Adakah di Jawa?” Dengan kata dari penelitian Schweizer, demikian Firdaus, dapat ditarik kesimpulan, atau setidak-tidaknya hipotesa, bahwa ada semacam phobi (ketakutan) orang Jawa terhadap orang Batak.
Pada hemat saya, Firdaus menarik kesimpulan terlalu jauh. Dalam tesisnya, Margarete Schweizer tidak mensinyalir hal tersebut, walaupun umpamanya orang Jawa tidak mau menerima orang Batak sebagai anggota keluarga (8 setuju, 42 tidak). Itu berarti belum ada phobi terhadap orang Batak. Kalau ada, tidak mungkin mereka kuliah bersama (46 setuju, 3 tidak).
Dalam artikelnya Schweizer menyebutkan bahwa jarak sosial (jarak sosial) responden Batak terhadap outgroup Jawa Tengah termasuk dekat juga, walaupun responden Batak itu sangat menyadari perbedaan dengan outgroup Jawa Tengah tersebut. Dan kiranya adalah suatu yang tidak dapat diterima akal, ada mahasiswa punya phobi terhadap mahasiswa lain.
Jika hal itu dikatakan sebagai “pengetahuan umum” maka ia belum dapat disebut sebagai phobi atau ketakutan, karena dengan menyebutnya sebagai phobi, berarti kita menambah dan memperlebar jurang yang telah ada. Jurang seperti ini justeru seharusnya diperkecil atau kalau dapat dihilangkan dalam membantu proses integrasi dan persatuan bangsa.
Tetapi sebetulnya Firdaus telah membantah sendiri kesimpulan atau hipotesa yang dia kemukakan dengan kalimatnya: “Tapi sekarang ada suatu gejala, banyak orang Jawa (Tengah) yang mengawinkan anak perempuan mereka dengan pemuda dari tanah Batak.”
Dalton Sembiring, Mahasiswa Fakultas Sospol Universitas Katolik Parahiyangan Jl. Merdeka 30 Bandung