Pengantar
Iwan (6 tahun) tidak suka pada tentara. Dalam bayangannya, tentara adalah tukang-onel yang selalu marah kalau dia bermain dan melintasi jalan Jagorawi, 25 kilometer di selatan Jakarta. Bocah kecil yang tahun ini pernah duduk di kelas satu SD-dan ke luar kembali karena belum cukup umur-itu, ber-angan-angan betapa enaknya mengemudikan sedan, dan ingin jadi supir. Mobil-mobil yang dipacu di atas kecepatan 100 KK/jam di jalan bebas-rintangan, yang jadi tontonannya dekat rumahnya di Tapos itu, mungkin merasuki alam khayalnya.
Iwan dan beberapa anak lainnya dalam “Dialog” kali ini muncul bersama-sama. Dua di antara mereka adalah Viggy Ayu Tantri (Ayu) dan Hatuaon Ananda Wisesa Ritonga (Dudi), masing-masing murid kelas IV dan V SD Yayasan Perguruan Cikini, Jakarta Pusat. Dalam beberapa hal Ayu dan Dudi, berbeda banyak dengan Iwan. Mereka tergolong murid cemerlang di sekolahnya. Ayu berbicara seperti orang dewasa, serius, tidak malu-malu, susunan kalimatnya rapi, dan memakai istilah-istilah yang tak pernah terdengar dari mulut seorang murid SD. Kata Ayu, anak Indonesia malas belajar. Karena itu, kalau dia jadi Menteri P dan K, tahun ajaran akan diperpanjangnya menjadi satu setengah tahun. Dan dalam penglihatan Dudi, kawannya, masyarakat di mana dia dibesarkan tak patuh pada disiplin.
Namun, Kosim, seorang bocah penjual koran yang meninggalkan bangku kelas VI SD di Tegal tahun ini, mungkin tidak peduli banyak dengan kemalasan belajar dan tahun ajaran, serta disiplin masyarakat. Anak tukang beca yang kini setiap hari menjajakan suratkabar di daerah Pegangsaan dan Cikini, Jakarta Pusat ini melihat, apapun yang dilakukan orang untuk mencari nafkah penuh kesusahan.
Dari luar Jakarta pula, Aan Achmad Yani, murid kelas VI SD Inpres Cisalak, Kabupaten Bogor, bercita-cita ingin jadi doktorandus. Tapi dia belum paham bidang ilmu yang akan dipilihnya. Dan dalam pikiran Aan sekarang, Amerika adalah salah satu negara besar yang mengadu Arab dan Israel dalam konflik di Timur Tengah.
Aan adalah anak seorang guru SD, dan Dedi Priwanto (Tato) dari SD Bukit Duri, Tebet, Jakarta Selatan, adalah anak satu-satunya dari seorang penjual es dan minuman. Tidak seperti Dudi yang ingin jadi pilot dan mengagumi Einstein, Tato mungkin akan turut saja anjuran ibunya untuk jadi supir. Dia mengagumi Sukarno dan Soeharto.
“Dialog” kita kali ini mendengarkan suara anak-anak. Mereka berbicara dengan ukuran mereka sendiri, dan dari alam mereka sendiri. Redaksi.
Kita kurang disiplin, Hatuaon Ananda Wisesa Ritonga
Hatuaon Ananda Wisesa Ritonga (Dudi), lahir 1968 di Jakarta, anak kedua seorang penerbang Garuda Indonesian Airways, murid kelas V Sekolah Dasar Yayasan Perguruan Cikini, tinggal di jalan Rajawali Raya, Jakarta Pusat.
T: Dudi pernah melihat gelandangan di Jakarta, bukan?! J: Ya. T: Apa sebab mereka jadi gelandangan? J: Karena tidak mendapat pekerjaan di Jakarta. T: Dari mana mereka itu? J: Dari desa. T: Di Jakarta mereka jadi gelandangan. Apakah ketika di desa juga demikian? J: Tidak. Di desa mungkin saja dia punya kekayaan. T: Kenapa menurut Dudi mereka tidak kembali saja ke desa? J: Barangkali malu. Atau mungkin sawah dan hartanya telah dijual untuk ongkos ke Jakarta. T: Sebetulnya, apa yang mereka cari ke Jakarta? J: Mereka ingin mengadu nasib, mencari kerja untuk mendapatkan uang. T: Apakah yang namanya pekerjaan dan uang hanya ada di Jakarta? J: Tidak. Di desa juga ada pekerjaan.

Jadi apa saja, susah, Kosim
Karena orangtuanya tidak mampu lagi membayar, menurut Kosim, dia keluar dari sekolah. Anak yang kini jadi penjaja koran di daerah bioskop Megaria dan Pasar Cikini, Jakarta Pusat ini, tidak tahu kapan dia dilahirkan. Dia ke Jakarta, setelah meninggalkan bangku kelas enam Sekolah Dasar di Tegal, Jawa Tengah, awal tahun ajaran 1979/1980 ini, ikut ayahnya yang sehari-hari bekerja sebagai tukang beca di daerah Kawi, Jakarta Selatan. Tanggal 5 Oktober yang lalu, dia bercerita, baru seminggu di Ibukota. Ibunya kini di Tegal. Usia anak ini, sekitar 13 atau 14 tahun.
T: Ketika sekolah dulu, Kosim ingin jadi apa? J: Jadi petani saja. T: Sekarang? J: Tidak tahu. T: Menurut Kosim, jadi apa yang paling enak? J: Tidak tahu. T: Kenapa ke Jakarta? J: Ikut bapak cari uang. T: Untuk apa uang? J: Untuk makan.


Arab dan Israel diadu Amerika, Aan Achmad Yani
Aan Achmad Yani, lahir 1969 di Bandung, murid kelas VI Sekolah Dasar Inpres, Cisalak, Kabupaten Bogor, anak seorang guru SD.
T: Tamat SD mau masuk sekolah apa? J: SMP. T: Ingin jadi apa nanti? J: Doktorandus. T: Ada bermacam-macam doktorandus. ada doktorandus ekonomi, farmasi, doktorandus publisistik dan sebagainya. Aan mau jadi doktorandus apa? J: Belum tahu. Pokoknya sarjana. T: Siapa orang Indonesia yang paling Aan kagumi? J: Jenderal Soekarno.

Tentara itu mengomel melulu, Iwan
Iwan lahir di kampung Kebayunan, Tapos, Kecamatan Cibinong, Jawa Barat, di pinggir jalan Jagorawi, kurang lebih 25 kilometer sebelah selatan Jakarta. Kata ayahnya, Asik bin Omah (34 tahun), anak dia satu-satunya itu lahir 20 Safar 1793 H (1973 M). Awal tahun ajaran yang lalu, Iwan dimasukkan ke Sekolah Dasar Inpres di desanya.
Pada suatu hari, anak ini disuruh gurunya menyanyi di depan kelas. Dia maju dan tarik suara. Lagunya berjudul Cilup Bak. Gaya penyanyi cilik di televisi-menutup muka dengan kedua telapak tangan dan membukanya seperti mengagetkan orang ketika mengucapkan “cilup bak”-ditiru Iwan dengan cara yang lain. Pada setiap kata “cilup bak” dia menarik kedua pipinya sehingga matanya menyipit, dan mengangakan mulut ke arah gurunya.
Melihat tingkah anak ini, sang guru lantas menegur: “Tidak baik begitu. Nanti tidak naik kelas.” Tapi teguran ini diterima Iwan dengan kesan yang lain. “Dia minta pindah ke sekolah lain. Katanya, dia benci sama guru ini,” ujar Asik menceritakan ulah anaknya.

Sesama manusia harus saling menghormati, Dedi Priwanto (Tato), lahir 1968, murid kelas IV Sekolah Dasar Negeri III, Bukit Duri, Tebet, Jakarta Selatan, anak penjual minuman.
T: Kenapa orang bersekolah? J: Cari kepintaran T: Untuk apa kepintaran J: Untuk kepentingan sendiri. Untuk kerja. T: Untuk apa orang bekerja. J: Cari duit. Buat makan. T: Menurut Tato, pekerjaan apa yang paling mudah menghasilkan duit ? J: Dokter. T: Ingin jadi dokter? J: Belum tahu. Ingin barangkali?! T: Kalau tamat SD mau pilih sekolah apa? J: Belum tentu, bisa meneruskan apa tidak. T: Kalau bisa, Tato ingin sekolah apa? J: Ibu bilang, kalau tamat SD, saya ke Bogor (daerah asal ibunya-Red.) saja. Jadi supir. T: Apa mau jadi supir? J: Sebetulnya kepingin juga T: Menurut Tato, kenapa ada orang jadi gelandangan? J: Karena cari pekerjaan susah. T: Apa betul mencari pekerjaan itu susah? J: Kata orang iya. T: Bagaimana perasaan Tato melihat gelandangan, atau pengemis? J: Kasihan. T: Kenapa kasihan? J: Mereka tidur di pinggir jalan. T: Kalau mereka kita tolong, bagaimana cara menolongnya? J: Pindahkan ke tempat lain.

Anak-anak Indonesia tak suka belajar, Viggy Ayu Tantri, lahir 1969 di Jakarta, murid kelas IV Sekolah Dasar Yayasan Perguruan Cikini, anak ketiga seorang dokter, tinggal di jalan Manuhua, Halim Perdana Kusuma, Jakarta Timur.
T: Kalau sudah besar ingin jadi apa? J: Kalau bisa jadi dokter, atau insinyur. Dan kalau mungkin, jadi menteri, dan kalau mungkin lagi, jadi presiden. T: Kalau jadi menteri, mau jadi menteri apa? J: Menteri P dan K. T: Mau bikin apa kalau jadi Menteri P dan K? J: Saya perpanjang tahun ajaran. Kenaikan kelas, satu setengah tahun sekali. T: Kenapa? Apa tidak cukup satu tahun seperti sekarang? J: Sebab, saya lihat anak-anak Indonesia tidak suka belajar. Malas. T: Kalau begitu kita harus tunduk pada yang malas? J: Bukan. Memang banyak juga yang rajin. Tapi, kalau tahun ajaran satu setengah tahun, anak yang malas ataupun anak yang rajin diberi kesempatan memperbaiki prestasi mereka. T: Kalau Ayu jadi presiden, apa yang diperbuat untuk pertama kalinya? J: Jika mama dan papa masih hidup, saya mau bikinkan rumah untuk mama dan papa. Kalau eyang masih hidup, saya juga mau bikinkan rumah untuk eyang. Eyang sampai sekarang masih belum punya rumah.
