Prisma

Yang Jadi Tantangan: Mengurangi Ketergantungan pada Minyak Bumi

Pengantar

Dalam rangkaian konflik Timur Tengah, tahun 1973 yang lalu negeri-negeri Arab melakukan embargo minyak bumi. Kalangan industri di dunia, menemukan kenyataan bahwa kekayaan alam yang selama ini mengambil bagian penting dalam memutar roda ekonomi mereka telah menjadi senjata politik. Orang menghadapi krisis bahan bakar.

Selang beberapa waktu kemudian, organisasi negara-negara pengekspor minyak, OPEC, yang didominir suara dari Timur Tengah menaikkan harga berkali-kali. Itu berarti biaya yang dikeluarkan untuk memenuhi kebutuhan energi kian bertambah. Orang pun berbicara tentang kelesuan ekonomi dunia. Dalam pada itu kesadaran bahwa rahmat yang dibawa minyak bumi selama ini, tak lagi akan terlalu lama dinikmati. Minyak bakal habis.

Lantas, orang berpaling pada kemungkinan-kemungkinan sumber energi lain. Amerika Serikat dan beberapa negeri industri lain menanam dana bermilyar dollar untuk mengongkosi usaha mencari pengganti minyak bumi. Pernah dipikirkan membuat minyak sintetis, namun untuk masa sekarang biayanya terlalu tinggi. Dicoba pula mengembangkan nuklir, tetapi bahaya yang pernah ia perlihatkan, mengundang protes di berbagai tempat. Ketika pilihan ditujukan pada energi surya, biaya yang tinggi kembali jadi penghambat. Menurut Menteri Pertambangan dan Energi, Prof. Dr. Subroto, ketika grafik persediaan minyak bumi mulai merosot limabelas tahun di muka, mungkin sumber energi alternatif itu belum kunjung dapat dipakai. Pada saat itu krisis terasa semakin berat.

Menteri mengatakan, kebijaksanaan Indonesia dalam masalah energi sekarang adalah “memperkecil ketergantungan pada minyak bumi” itu. Ada beberapa usaha yang akan dilakukan, antara lain memperbesar peranan gas, batubara dan juga tenaga air. Pada tahun terakhir Pelita III ini saja diharapkan, sumber energi non-minyak ini dapat menutupi 23 persen kebutuhan energi di Indonesia. Dan setelah pemerintah mengeluarkan seruan agar masyarakat berhemat dalam menggunakan sumber tenaga yang ada, untuk program yang lebih jauh, akan dilakukan pengaturan, di samping mempertebal kesadaran masyarakat. Dengan beberapa ketentuan yang akan dibuat itu, pemakaian sumber energi dapat ditekan 5 persen.

“Dialog” kali ini berisikan wawancara dengan Menteri Subroto tentang sumber energi dan penggunaannya. Redaksi.

T: Karena khawatir minyak bumi akan habis, orang mulai berpikir untuk mencari sumber energi yang lain. Dapatkah anda memaparkan masalah minyak bumi ini dengan melihat kebutuhan akan energi serta kemungkinan dalam beberapa tahun mendatang?

J: Menurut perkiraan sekarang, mulai tahun 1995 nanti, persediaan minyak bumi di dunia akan sangat menurun. Selama limabelas tahun, mulai dari sekarang, minyak bumi berada dalam suatu plato. Kita tidak dapat lagi mengharapkan ditemukannya sumber-sumber baru yang sanggup menambah supply.

Tahun 1960-an dahulu orang masih menemukan sumber-sumber minyak yang besar, yang dalam tahun 1975 mulai menghasilkan. Dari sejak ia ditemukan hingga ia menghasilkan diperlukan waktu 15 tahun. Kini penemuan seperti tahun 1960-an itu tak ada lagi. Setelah 1995, grafiknya mulai menurun. Pada saat itu nanti, minyak tidak lagi dipakai orang untuk keperluan industri ataupun buat kebutuhan rumahtangga. Persediaan yang ada hanya akan dipergunakan untuk beberapa keperluan, di mana minyak bumi tidak dapat diganti samasekali dengan bahan yang lain, umpamanya untuk transportasi dan industri petro kimia

Anda dapat membaca versi lengkap Artikel edisi ini di LP3ES-Prisma Digital format cetak maupun e-magazine.

Untuk melakukan pemesanan dapat melalui link berikut: LP3ES-Prisma Digital

Bagikan