Pengantar
Belakangan ini ilmu ekonomi dihujani kritik dan sesalan. Sebagai ilmu sosial, ia menerima pernyataan rasa tak puas dan bahkan protes dari berbagai pihak. Semuanya itu bersumber pada teori-teorinya yang tetap diajarkan dan pendekatan-pendekatannya yang senantiasa terpakai hingga sekarang. “Dialog” kali ini ingin menampilkan pandangan dan pendapat tentang ilmu ekonomi beserta teori-teorinya dan kritik-kritik yang dilancarkan kepadanya.
Sebagai seorang ekonom, Prof. Emil Salim, Menteri Negara Pengawasan Pembangunan dan Lingkungan Hidup, melihat tak satupun yang salah dalam teori ekonomi. Gurubesar dari Universitas Indonesia ini menyatakan, kaum ekonom hanyalah orang yang menangkap apa yang menjadi keinginan masyarakat, mempelajarinya dengan keseluruhan etik profesinya dan obyektivitas ilmunya, serta melahirkan rumusan-rumusan. Ekonom, katanya, tak pernah menyodorkan pilihannya untuk diterima masyarakat dan karena itu tak perlu menyesali ilmu dan teori ekonomi.
Dr. Rudolf Sinaga dari Survey Agro Ekonomi, Bogor-yang banyak terlibat dalam studi kasus tentang ekonomi pedesaan-di sini mempersoalkan peranan institusi yang dilihatnya terlalu menonjol. Katanya, kenyataan memang tidak sebagaimana dikatakan teori, karena kondisi yang ada di negeri kita tidak sesuai dengan struktur di mana teori-teori tersebut harus diterapkan. Adakah “keberanian” merombak struktur tersebut?
Di bawah ini adalah beberapa petikan hasil wawancara dengan kedua tokoh itu. Redaksi
Bukan kesalahan ilmu ekonomi, Emil Salim, Menteri Negara Pengawasan Pembangunan dan Lingkungan Hidup.
T: Ilmu Ekonomi sebagai teori umum sebenarnya berlaku di negara-negara maju yang jumlahnya sedikit, sehingga ditinjau secara keseluruhan itu hanya merupakan kasus kecil yang jarang. Kenapa ia dapat dianggap sebagai teori umum, yang juga berlaku buat negara-negara sedang berkembang?
J: Mari kita bicara apa teori ekonomi itu sebetulnya.
Untuk hidup, manusia harus makan, dan supaya bisa makan, manusia harus bekerja menghasilkan barang. Jika barang bisa dimakan memenuhi keperluan hidup, maka lingkaran tertutup untuk diulang dalam tahap berikutnya. Jika barang itu tidak bisa dimakan, manusia perlu menukar barang tersebut dengan barang lain yang dapat dimakan. Terjadi kegiatan tukar-menukar.
Kita tangkap ciri-ciri pokok kenyataan hidup sehari-hari ini, yang dianggap berguna sebagai peralatan analisa memahami keadaan. Perumusan ciri-ciri pokok ini merupakan usaha penyederhanaan kenyataan dalam rangkaian prinsip-prinsip yang terangkum dalam model ekonomi. Isi model adalah sebagai berikut: Memenuhi kebutuhan manusia adalah fungsi dari konsumsi, yang pada gilirannya adalah fungsi dari produksi yang dipengaruhi oleh nilai tukar atau harga.
Model ekonomi ini menjelaskan hubungan kaitan antara variabel satu dengan yang lain, dan hubungan fungsional, tanpa besar kecil nilai yang diberikan kepada variabel, berlaku secara universal di semua negara, baik kapitalis, komunis, sosialis ataupun fasis.
Bila kita memberi nilai terhadap variabel ini, perlu diperhatikan lingkungan yang meliputi variabel itu. Nilai variabel konsumsi berdasarkan abstraksi kenyataan dari masyarakat penganut ajaran Mahatma Gandhi, berbeda sekali dengan nilai variabel masyarakat kapitalis. Ini berarti bahwa bobot asumsi dan hasil abstraksi dalam ilmu ekonomi tidak bisa dilakukan dalam lingkungan hampa, tetapi berlangsung dalam masyarakat yang hidup dengan kebudayaan, ideologi, tradisi, dan sistem nilai tertentu. Maka bobot asumsi dan kadar abstraksi ini dapat memberi hasil berlainan, sungguhpun model teori yang dipakai sama. Karena itu sangatlah penting memahami isi dan bobot asumsi yang dipakai sebelum teori ekonomi dipakai sebagai peralatan analisa. Contoh: di dalam masyarakat penganut ajaran Mahatma Gandhi, di mana kebutuhan itu secukupnya saja, maka masalah konsumsi dan produksi itu menjadi sangat sederhana. Tapi sebaliknya, pada masyarakat kapitalis di mana konsumsi itu didorong, lahirlah usaha meningkatkan konsumsi dan demand.

Struktur mengganggu teori, Rudolf Sinaga, Direktur Survei Agro Ekonomi, Bogor
Tanya : Dalam mengukur keadaan perekonomian masyarakat, anda selama ini menggunakan studi kasus, dan selain itu ada pula peneliti yang menggunakan data aggregate. Bagaimana masalah metodologi dalam usaha seperti itu? Dan apakah anda sudah sampai pada suatu pemikiran yang meninjau kembali metode-metode pemikiran ekonomi klasik?
Jawab : Kita harus berterima kasih kepada peneliti-peneliti yang menggunakan data aggregate dalam usahanya mencari tahu tingkat perekonomian masyarakat. Mereka juga senantiasa mencari metode yang tepat untuk dipakai guna mengetahui keadaan yang sebenarnya. Tetapi yang jadi persoalan adalah; belum ada kesepakatan tentang metodologi itu sendiri.
Selain itu, data yang mereka pakai juga jadi persoalan, misalnya: penggunaan data konsumsi dari Susenas untuk mengukur pendapatan. Dapat dipertanyakan, apakah data yang dipergunakan itu reliable atau tidak. Setelah saya memiliki pengalaman mengumpulkan data di pedesaan, saya agak meragukan data yang dikumpulkan Biro Pusat Statistik (BPS). Sulit dan hampir tak mungkin kita mendapat data yang baik hanya dengan satu kali kunjungan ke daerah yang diteliti. Image kita yang datang mengumpulkan data tersebut sangat mempengaruhi. Saya punya ilustrasi tentang ini, ketika mengumpulkan data tentang tanah.
Ketika kami datang ke suatu desa pertama kalinya buat mendapatkan data tanah dan luas usaha, ternyata angka yang diperoleh lebih tinggi dari yang sesungguhnya. Sebelum kami tiba di situ, rupanya team transmigrasi juga datang ke sana. Rupanya transmigrasi tidak dikehendaki, sehingga mereka memberikan jawaban tentang tanah mereka lebih luas dari yang sesungguhnya.
Pada kedatangan kami yang kedua kalinya, angka yang didapat menjadi lebih kecil, karena rupanya dikira ada hubungannya dengan pajak. Tetapi, ketika dikunjungi untuk ketiga kalinya, sebelum kami bertanya mereka mendahuluinya dengan mengatakan, “Beres Pak. Tanda gambar sudah kami tempel di setiap rumah.” Kedatangan yang ketiga kalinya ini adalah sebelum dilangsungkannya Pemilu. Karena itulah saya berkesimpulan, bahwa dengan satu kali datang saja, data yang kita peroleh belum tentu baik, dan reliability data itu dapat diragukan.
Tapi bagaimanapun juga kita tidak dapat mendiskreditkan usaha-usaha yang dilakukan BPS. Walaupun cara yang mereka pakai agak mahal, tetapi saya pikir tidak ada lagi cara lain yang lebih murah dari itu. Data itu harus kita pakai, cuma perlu disadari kelemahan-kelemahannya. Saya sendiri berpendapat, sebaiknya untuk memilih metodologi yang tepat, kita tidak usah lagi “bertengkar” karena metodologi apapun yang dipakai, dan bagaimanapun kesalahan-kesalahannya, angka tentang kemiskinan yang kita peroleh tetap tinggi. Kita sudah memperoleh jawaban, bahwa yang miskin itu masih banyak. Karena itulah, kita tinggalkan dulu masalah metodologi tersebut, dan kita pikirkan cara mengatasi kemiskinan itu. Di Survey Agro Ekonomi kami ingin mencari penyebab kemiskinan itu lewat studi kasus dari beberapa desa yang terbatas. Apakah kasus-kasus yang kita jumpai itu merupakan gambaran yang berlaku umum, kita juga belum tahu. Tetapi, paling tidak, dengan studi kasus itu kita mengetahui bahwa dugaan-dugaan selama ini ternyata tidak benar. Tentang pemikiran-pemikiran ekonomi klasik sendiri, saya tidak banyak mendalami.
