Sejarah kadang-kadang melahirkan pemimpin-pemimpin besar yang penuh pesona dan membawa gelora buat bangsa dan zamannya, untuk kemudian dihempaskan. Soekarno, Mahatma Gandhi, Ben Bella, Kwame Nkrumah dan akhir-akhir ini Mujibur Rahman, adalah jenis pemimpin serupa itu. Mereka hadir ketika zaman penindasan mulai merembang petang dan kemerdekaan terasa akan lahir esok harinya. Mereka memasuki zaman yang kelam dan bergolak dan dalam kegelapan itu mereka nyalakan terang dan menggelorakan semangat bangsanya untuk menyongsong fajar zaman baru.
Ironinya, zaman baru itu kemudian menampilkan generasi baru pula. Pemimpin-pemimpin itu dirasakan tak lagi relevan; mereka harus menepi atau diketepikan. Gandhi dan Mujibur Rahman dibunuh, sedang Soekarno, Ben Bella dan Nkrumah terguling. Letih oleh pergolakan, orang menginginkan suatu masa tenang, di mana buah perjuangan bisa dinikmati dan pengejaran kemakmuran bisa dilakukan. Maka, generasi perintis pun mengakhiri riwayatnya secara tragis. Mereka hanya boleh sekali berarti, sesudah itu mati. Ibarat pohon pisang, mereka hanya boleh sekali membuahkan, untuk kemudian ditumbangkan.
Namun ada beberapa contoh lain di mana generasi perintis masih bertahan. Tito di Yugoslavia, Mao di Cina, masih berkuasa sampai akhir hayatnya. Generasi mereka seakan akan mati secara alami, dan dalam lika-liku perubahan zaman itu, mereka masih terus mencanangkan misi yang dibawanya. Sampai akhir hayat, Mao masih terus bersikeras menghidupkan ciri populis dan egalitarian dari revolusi yang dicetuskannya, berhadapan dengan birokrasi yang hendak menanamkan kukunya sendiri dengan menawarkan modernisasi.
Maka persoalannya mungkin bukanlah persoalan misi yang usai atau generasi yang jadi tak relevan lagi. Di balik retorika tentang generasi itu, ada lika-liku kekuasaan. Dan hanya generasi yang mampu mengkonsolidasikan kekuasaan bisa bertahan.
Agaknya persoalan generasi lebih mungkin muncul sebagai isyu politik ketika lokasi sosial lainnya seperti agama, kelas, atau kesukuan tak bisa lagi jadi bahan. Tak heran bila angkatan muda biasa muncul sebagai sesuatu kekuatan ketika kalangan tani, buruh, penganut sesuatu agama atau kelompok kedaerahan mengalami kebangkrutan atau dibuat tak berdaya secara politik. Persoalan generasi muncul juga, walaupun tak membawa semacam “misi zaman”. Generasi lalu menampakkan sifatnya yang temporer, sebagai suatu tahapan dari putaran hidup. Ciri-ciri idealis, radikal dan bersemangat selagi muda lalu berangsur-angsur jadi lebih realistis, moderat, atau malahan konservatif, ketika generasi itu makin matang dan makin mapan. Anak idealis dan radikal yang baru mungkin muncul lagi, berteriak lagi, untuk kemudian padam sendiri.
Tanpa misi historis yang hendak mengubah corak dan isi zamannya, suatu generasi hanya akan mewakili suatu siklus hidup. Ia hanya akan meninggalkan bercak-bercak kecil dalam sejarah atau mungkin dipermaklumkan sebagai “generasi yang hilang”.