Pengantar
Hingga akhir tahun 1960-an, percaturan politik internasional ditandai suasana Perang Dingin antara Amerika Serikat dan Uni Soviet beserta sekutunya masing-masing. Dunia diliputi kecemasan tentang pecahnya suatu perang nuklir. Optimisme mengawali tahun 1970-an yang baru lewat oleh adanya berbagai upaya untuk meredakan ketegangan atau détente. Tetapi beberapa peristiwa internasional yang terjadi di akhir dasawarsa itu dan di awal tahun 1980-an ini, nampaknya telah membawa lagi dunia ke dalam suatu Perang Dingin baru.
Dialog kita kali ini mencoba ikut berbicara tentang soal-soal tersebut. Menurut Yuwono Sudarsono, seorang pengamat politik internasional dari kalangan universitas, masalah utama dari percaturan politik dunia dewasa ini masih tetap masalah ekonomi. Bagi Sulastomo, kolumnis masalah-masalah internasional, mundurnya pengaruh Amerika di negara-negara Dunia Ketiga akibat pendekatan yang salah, pengaruh Amerika kini mundur di negara-negara Dunia Ketiga. Terakhir, Sabam P. Siagian ikut memberikan pengamatannya, berdasarkan latar belakang pengalamannya yang luas sebagai jurnalis. Redaksi.
Persoalan dasar sekarang: masalah ekonomi, Yuwono Sudarsono, Pembantu Dekan I Fakultas Ilmu-ilmu Sosial Universitas Indonesia (FIS UI), Dosen Ilmu Politik FIS UI
Persoalan dasar politik internasional sekarang tetap masalah ekonomi: tata ekonomi internasional baru, masalah pembayaran hutang negara-negara sedang berkembang, energi, kebutuhan pangan dan sebagainya. Masalah Kamboja dan Afghanistan yang tampil belakangan ini, hanya menonjolkan aspek militer untuk sementara. Walaupun kedua masalah itu timbul, paritas nuklir Amerika Serikat (AS) dan Uni Soviet (US) tetap tidak akan kembali pada keadaan seperti tahun-tahun 1950-an, karena secara kasar keduanya kini berimbang.
Tetapi, dalam percaturan politik dunia akhir-akhir ini, AS memang sering kehilangan muka. Ia tidak dapat dilepaskan dari dua trauma yang diderita negara itu, yakni skandal Watergate tempo hari dan kekalahannya di Indocina, April dan Mei 1975. Kepada dunia internasional, skandal Watergate memperlihatkan bahwa sistem politik AS goyah. Karena itu pemimpin-pemimpin politik US dan negara-negara lain melihat bahwa kemauan politik AS berkurang. Begitu persepsi mereka. Dan untuk ini harus kita ingat, bahwa salah satu faktor penting dalam politik internasional adalah: bagaimana lawan menilai kita dari persepsi. Sejak skandal Watergate itu, persepsi lawan-lawan AS hingga kini adalah AS sedang mundur dan tidak punya kemauan melawan ke luar.
Kekalahan di Indocina, bagi AS menumbuhkan pandangan di dalam negeri bahwa negara itu tidak boleh terlibat banyak di luar wilayah kepentingan utama seperti Eropa, kecuali untuk sementara waktu. Di wilayah Pasifik, AS mencoba menata kembali kepentingannya dengan melandaskannya pada off shore strategy, berlindung di pantai, tidak masuk ke daratan Asia. Strategi ini juga menimbulkan kesan bahwa AS tidak mau lagi berperan. Ia memberikan bayangan bahwa hegemoni AS seperti tahun-tahun 1950-an sudah mundur.
Skandal Watergate dan kekalahan AS di Indocina oleh golongan kanan politik dalam negeri negara itu, dimanfaatkan untuk membuat negeri itu melawan kembali setelah “ditempelengi” orang. Jimmy Carter memanfaatkan kedua masalah ini. Atas dasar platform ini dia menang. Tetapi wajah yang lebih manusiawi itu justru dinilai US dan sekutu-sekutunya sebagai kemunduran dan kelemahan.

Pendekatan Amerika ke Dunia Ketiga tidak selalu tepat, Sulastomo, kolumnis masalah politik internasional
Walaupun ketegangan antara Amerika Serikat (AS) dan Uni Soviet (US) reda dalam perkembangan yang kita lihat sejak tahun-tahun 1960-an, di pihak US sikap membantu gerakan progresif di negeri-negeri sedang berkembang tetap berjalan. Uni Soviet sendiri pernah menyatakan sikapnya itu. Pada perkembangan selanjutnya, terlihat perubahan dalam kompetisi antara kedua kekuatan raksasa itu. Perubahan itu: seolah-olah menjadi kompetisi dua sistem atau nilai, yakni yang dianut Amerika Serikat-dengan demokrasi sistem perdagangan bebas dan seterusnya-dengan sistem yang dianut Uni Soviet-dengan ideologi beserta sistem ekonominya. Di situ terlihat, walaupun di beberapa daerah US harus mundur, namun di tempat-tempat tertentu ia berhasil menancapkan pengaruhnya: Ethiopia, Yaman dan sebagainya.
Di balik itu, dalam perubahan pola politik internasional dari bipolar menjadi multipolar, kita menyaksikan tumbuhnya RRC. Sekarang negara ini sedang menjalankan program moderenisasi, yang dalam hemat saya pada tahun 2000 mendatang akan memberikan dampak yang besar jika ia dapat berkelanjutan. Negeri itu punya potensi besar.
Perubahan senantiasa berjalan. Ketika perang dingin reda, muncul prinsip ko-eksistensi damai. Dalam pada itu muncul ide-ide, antara lain tentang rencana pembentukan Pacific Basin. Ide ini muncul dari AS dan Jepang, yang antara lain meliputi Jepang, Korea, Hongkong, Malaysia, Indonesia, Australia, Amerika Serikat sendiri dan sampai ke Meksiko. Vietnam berada di luarnya. Mereka melihat, bahwa negara-negara ini walaupun belum sama betul satu dengan yang lain, tetapi menerapkan suatu sistem yang “mendekati” sistem Barat dalam segi ekonomi. Inilah salah satu dasar pemikirannya. Menurut ide ini, dengan menumbuhkan sistem itu, tentu saja sistem yang lain tidak dapat masuk dan tak dapat berkembang. Dalam upaya mempengaruhi negara yang belum sepenuhnya mengikuti salah satu sistem itu, terjadilah “pertarungan” antara kedua kekuatan tersebut.
Selain itu, mereka melihat bahwa pertumbuhan ekonomi di kawasan ini cepat, ada yang 6, 7, dan bahkan ada yang sampai 9 persen per tahun. Jadi mereka mendapat cukup alasan untuk memandang kawasan ini sebagai kawasan yang bermakna dan dengan kegiatan ekonomi yang tinggi.
Alasan selanjutnya adalah keinginan membuat kerjasama yang dapat melahirkan hubungan yang saling membantu. Amerika Serikat punya teknologi, Indonesia dan Meksiko punya minyak, jika Indonesia perlu beras, Australia dan Selandia Baru dapat mengekspor beras, dan seterusnya.
Tetapi di balik itu, ada hal yang sebenarnya berbeda secara prinsipil, yakni dari segi sosial budaya. Ada di antara negeri-negeri itu yang selama ini jadi anggota gerakan non blok dan ada pula yang tidak. Selain itu menurut saya, dalam hal latarbelakang sosial dan ekonomi, untuk masing-masing negeri itu, disparitasnya masih sangat jauh.
Tetapi, di mana tempat Indonesia dalam semuanya itu? Mungkin kita berpangkal pada politik luar negeri kita yang bebas aktif dan diabadikan kepada kepentingan nasional. Konotasi kepentingan nasional dewasa ini adalah pembangunan ekonomi. Dalam beberapa Pembangunan Lima Tahun (Pelita) yang kita laksanakan, pertumbuhan ekonomi kita usahakan dengan lebih mengandalkan kerjasama dengan negara-negara Barat. Kita sudah tentu tidak dapat begitu saja mengubah pola ini.

ASEAN: bagaimana mengatasi kesulitan struktural, Sabam P. Siagian, Redaktur Harian “Sinar Harapan”
Ketika mengkover penandatanganan perjanjian SALT II antara Carter dan Breznev bulan Juni 1979 di Wina saya melihat bahwa suatu periode détente mulai merekah antara dua negara super power ini. Bukan hanya karena segi sentimentalnya saja, tetapi juga karena struktur kepentingan kedua negara ini sedang bertemu. Di pihak Amerika Serikat, mengurangi perbelanjaan militer dan juga untuk menyelesaikan krisis energi; di pihak Uni Soviet timbul keinginan untuk mengejar ketinggalan mereka dalam teknologi di mana hanya Amerika yang dapat membantu secara berarti. Demikian pula, adanya tuntutan akan konsumsi yang semakin meningkat merupakan suatu tekanan politik di Uni Soviet. Untuk memusatkan perhatian pada RRC, Uni Soviet harus memantabkan hubungannya dengan Amerika. Ini semua menunjukkan bahwa perundingan SALT II di Wina itu sebenarnya bukan suatu khayalan.
Tetapi mengapa setelah bulan Juni 1979 itu, keadaan tiba-tiba memburuk? Soviet mengadakan invasi terang-terangan ke Afghanistan. Di situ nyata bahwa apa yang dicapai di Wina itu masih agak rapuh, karena itu perlu pemantapan.
Perdebatan yang timbul di Amerika, proses politik dalam negeri, tidak selalu dapat dimengerti oleh dunia luar, terutama Uni Soviet. Seorang bekas Kepala Staf Angkatan Laut Amerika mengatakan bahwa SALT II itu membahayakan bagi keamanan nasional Amerika; proses legislatif yang begitu bertele-tele; konsesi-konsesi sementara yang mesti diberikan oleh pemerintahan Jimmy Carter. Semuanya ini memperkuat golongan yang dari semula memang tidak begitu mempercayai détente. Amat sedikit yang dapat kita ketahui tentang perimbangan kekuatan interen politibiro di Uni Soviet, antara yang pro dan yang kontra terhadap détente. Proses legislatif yang bertele-tele di Amerika itu memperkuat anggapan mereka yang dari semula curiga terhadap détente. Kasus Afghanistan tentu memiliki latarbelakang masalah tersendiri, tetapi saya kira itu ada kaitannya dengan golongan di dalam negeri Uni Soviet yang tidak begitu percaya terhadap détente, sehingga mendorong timbulnya invasi itu. Apa yang kita lihat sekarang ini memang menampakkan suasana konfrontatif.
Soviet dan ideologi komunis Ideologi komunis bukan suatu ideologi yang monolit seperti kita duga, karena ideologi itu dianut oleh manusia yang memiliki latarbelakang budaya yang berlainan. Jadi tidak mengherankan jika di dalam gerakan komunis internasional itu banyak terjadi percekcokan, Maksudnya ialah bahwa cukup alasan jika terjadi ketegangan antara RRC dan US. Hal ini dapat dimaklumi baik dilihat dari sudut ideologi maupun dilihat dari sudut kepentingan nasional-militer dan ekonomi. Kalau nanti di suatu waktu mereka akan rujuk itu pun tidak mengherankan. Amerika memang merasa untung jika RRC tidak bersahabat dengan US, apalagi di saat peranan US lebih menonjol seperti sekarang ini. Di pihak lain Rusia selalu merasa tidak aman, merasa terkepung. Karena usahanya untuk melepaskan diri dari kepungan itu lalu mereka berperan di dunia ini. Dalam beberapa hal kenyataan seperti itu juga didorong oleh menonjolnya AS di abad XX ini, terutama di segi teknologi militer dan budaya. Sedangkan bagi Rusia peranan itu didorong oleh faktor budaya dan komunisme. Komunisme memberikan pada Rusia harga diri untuk membangkitkan nasionalisme mereka. Sehingga Rusia jadi jago di dunia setingkat dengan AS. Dan adanya SALT II penting bagi Moskow karena SALT II merupakan bukti bagi Amerika bahwa orang udik kemarin dulu itu sekarang sudah menjadi tuan. Kalau mereka pencet kenop Washington dan New York bisa hancur. Tapi menjadi tuan di dunia ini tidak cukup dengan keunggulan militer saja. Jadi serba sulit bagi Uni Soviet. Unggul di bidang militer berarti harus menahan perkembangan kemajuan di bidang-bidang non-militer, seperti produksi pangan, fasilitas kesejahteraan rakyat yang lebih meningkat. Jadi ketegangan-ketegangan ini menimbulkan macam-macam masalah bagi US
