Prisma

Dialog: Mempelajari dan Belajar dari Sejarah

Pengantar

Kelangkaan sumber tertulis adalah suatu masalah yang dihadapi dalam penulisan sejarah Indonesia. Direktur Jenderal Kebudayaan, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Prof. Dr. Haryati Subadio, melihat masalah itu sebagai akibat tak dimilikinya “tradisi tulisan” oleh bangsa kita. “Tradisi lisan dalam pekerjaan penulisan sejarah menyebabkan kebenaran fakta harus selalu dipertanyakan, karena peristiwa dan keadaan masa lalu itu diceritakan pada saat lain, yakni sekarang. Ny. Haryati Subadio juga melihat, bahwa dalam menentukan kebijaksanaan di masa kini, sejarawan dan sejarah sebagai ilmu harus menempati peran yang lebih banyak untuk penanganan masalah secara antar disiplin ilmu.

Drs. Soeroto, Ketua Lembaga Penelitian Sejarah Nasional dan Guru Besar Ilmu Sejarah, Universitas 17 Agustus 1945, Jakarta, juga memandang kelangkaan sumber-sumber tertulis itu sebagai suatu kekurangan bangsa kita. Dia juga mempersoalkan obyektivitas dan kejujuran dalam menulis sejarah tersebut, sehingga tak terjadi penggelapan suatu fakta dan penonjolan berlebihan buat fakta yang lain. Pensiunan pegawai sipil yang pernah menjabat Kepala Inspeksi Pusat Pelajaran Sejarah, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan (1954 – 1963) ini, berbicara pula tentang pengajaran sejarah di sekolah-sekolah, sebagai pembangkit nasionalisme di kalangan anak-anak didik.

Redaksi.

Sejarah kita dan “tradisi lisan”, Haryati Subadio, Direktur Jenderal Kebudayaan, Departemen Pendidikan dan Pengajaran

Kita hendaknya dapat melibatkan “perasaan sejarah” dalam mengajarkan sejarah tersebut di sekolah-sekolah. Anak-anak kita cukup banyak tahu tentang perang kemerdekaan Amerika. Seharusnya mereka juga lebih tahu tentang tanah airnya sendiri, tentang negeri dan bangsanya.

Dalam masalah ini sebetulnya peranan bacaan cukup banyak. Tetapi selain itu, cara mengajarkan sejarah pun lebih menentukan lagi. Kemampuan guru untuk itu hendaknya betul-betul dapat diandalkan.

Penulisan sejarah nasional

Dalam proses penulisan sejarah nasional kita, “tradisi lisan” yang kita miliki dan tidak terbiasa merekam segala sesuatunya dalam bentuk tertulis, membuat kita harus mempertanyakan kebenaran-kebenaran kisah yang diceritakan. Masyarakat kita sebagian besar masih berada dalam tradisi lisan ini dan belum melangkah ke tradisi tulisan. Kita tidak terbiasa mencatat hal-hal atau peristiwa yang kita alami sehari-hari. Segala sesuatunya tentang masa lalu jika diceritakan kembali pada masa kini, dengan begitu harus dipertanyakan kembali kebenarannya.

Tokoh-tokoh kita yang terlibat dalam perang kemerdekaan tempo hari, banyak yang tidak meninggalkan catatan tertulis. Hanya beberapa orang yang berusaha menulis tentang ini, misalnya Bung Hatta. Bapak Subardjo dan Mohamad Rum. Akhirnya bahan-bahan yang dapat dipakai buat menulis sejarah terasa kurang.

Sesungguhnya banyak peristiwa dan tokoh-tokoh yang ikut berperan dalam peristiwa itu tetapi tidak ikut terekam dalam buku-buku sejarah yang ditulis pada masa sekarang. Jenderal Sudirman dan para pendampingnya misalnya, tidak meninggalkan catatan tertulis tentang aktivitas dan peristiwa yang dialaminya pada masa itu. Tokoh-tokoh kemerdekaan yang masih hidup seharusnya diminta menulis otobiografinya atau diwawancarai tentang pengalamannya pada masa lampau. Kita juga sudah mengusahakan hal semacam itu pada Proyek Sejarah Lisan, guna menghimpun peristiwa-peristiwa lama itu lewat wawancara dengan orang yang terlibat atau menyaksikannya. Hanya saja, ketepatan cerita tentang masa lampau yang didasarkan pada ingatan tak selamanya terjamin. Ia dapat muncul dengan interpretasi yang berbeda-beda.

Sejarah harus ditulis jujur, Soeroto, Ketua Lembaga Penelitian Sejarah Nasional, Universitas 17 Agustus 1945, Jakarta.

Menurut Muhamad Yamin, sejarah kita pernah mencapai tiga puncak, yakni zaman Sriwijaya, Mojopahit dan masa Republik Indonesia. Hanya pada masa-masa itu wilayah nusantara dapat dipersatukan.

Tetapi bagi saya, sejarah nasional Indonesia dimulai sejak kedatangan Belanda. Indonesia tidak akan bersatu seperti sekarang kalau tidak dijajah Belanda. Lihatlah, Kalimantan Utara yang bukan dijajah Belanda, sekarang tidak masuk wilayah Indonesia. Irian Timur yang kini disebut Papua Nugini juga demikian. Tetapi Timor Timur lain. Ia merupakan “keuntungan” bagi Indonesia.

Pembagian periode sejarah kita menurut saya, adalah: pra sejarah dan sejarah. Sejarah baru dapat kita sebut ada, jika kita menemukan peninggalan tertulis. Di Indonesia peninggalan tertulis ini sedikit sekali, antara lain hanya ada di Kutai, yakni Prasasti Mulawarman, dari tahun 400 Masehi. Tentang sumber tertulis ini, kekurangan kita besar sekali. Kita tidak mencatat apa yang terjadi dan apa yang ada pada masa lalu. Jika dibandingkan dengan Tiongkok, kekurangan kita terlalu besar. Mereka mencatat sejarah mereka. Kalau Dinasti Han hancur, catatan tentang itu tetap ada hingga dinasti-dinasti berikutnya dan begitu seterusnya walaupun terjadi pergantian-pergantian. Karena kekurangan catatan-catatan itu, sumber koloniallah yang antara lain dapat dipakai. Hal itu tetap terasa hingga kini. Kita belum menulis buku besar yang lengkap tentang sejarah kita. Untuk periode revolusi fisik saja, sejarah kita lebih banyak ditulis orang asing. Penulisan sejarah kita yang didasarkan pada sumber-sumber Cina, diragukan kebenarannya, karena dalam menggali sumber-sumber tersebut ada kesangsian kesalahan dalam melafal bahasa Cina tersebut, sehingga sejarah kita sekarang dikhawatirkan didasarkan pada sumber yang salah.

Anda dapat membaca versi lengkap Artikel edisi ini di LP3ES-Prisma Digital format cetak maupun e-magazine.

Untuk melakukan pemesanan dapat melalui link berikut: LP3ES-Prisma Digital

Bagikan