Tanggapan untuk dr. Boediono
Dalam artikel berjudul “Efektivitas Guru Sekolah Dasar di Pulau Jawa” (Prisma, No.7 Juli 1980), Dr. Boediono di beberapa tempat menyebutkan “kehadiran guru di dalam kelas”. Penggunaan kata-kata tersebut dapat menyesatkan, karena menimbulkan kesan seolah-olah ada kelas di mana guru tidak hadir atau jarang hadir. Nyatanya yang dijadikan variabel bebas dalam studi yang dilaporkan ialah karakteristik guru (jenis kelamin, pengalaman pendidikan, pengalaman pekerjaan); bukan kehadiran guru di dalam kelas.
Penulis artikel selanjutnya mempergunakan kata-kata “kenaikan tingkat prestasi murid” (halaman 35) dan “perubahan prestasi murid” (halaman 36). Gambaran yang diperoleh ialah bahwa guru dengan karakteristik tertentu mengakibatkan perubahan pada prestasi murid. Nyatanya studi yang dilaporkan-sepanjang yang dapat kita baca dari laporan ini-bukan merupakan studi longitudinal, melainkan studi cross-sectional. Prestasi murid hanya diukur satu kali saja, dan yang dijadikan variabel tergantung ialah prestasi murid dalam satu test baku; bukan perbedaan antara beberapa angka test dalam periode tertentu.
Informasi yang disajikan dalam tabel-tabel di beberapa tempat kurang lengkap, sehingga sukar diikuti. Ukuran untuk mengukur pengalaman mengajar, misalnya, tidak dijelaskan, sehingga kita mengalami kesukaran dalam menafsirkan data “rata-rata mengajar 0,56; penyimpangan standar = 1,27” (Tabel 4, halaman 38).
Dalam artikel disebutkan bahwa pengaruh karakteristik guru terhadap prestasi murid adalah meyakinkan pada tingkat kepercayaan 5 persen (lihat Tabel 5.1. sampai dengan Tabel 5.5, halaman 38-39). Namun di pihak lain kita memperoleh kesan bahwa kekuatan menjelaskan karakteristik guru tidaklah besar. Perubahan yang terjadi dalam kekuatan menjelaskan setelah variabel karakteristik guru dimasukkan ke dalam model (lihat perbedaan antara koefisien-koefisien dalam model A dan model B dalam Tabel 3, halaman 38) sangat terbatas.
Dari sejumlah studi fungsi produksi yang memakai angka prestasi sebagai variabel tergantung, diperoleh kesan bahwa dalam negara-negara yang sedang berkembang kekuatan menjelaskan dari faktor-faktor sekolah (termasuk faktor guru) adalah lebih besar daripada di negara-negara yang telah berkembang. Dengan perkataan lain, di negara-negara yang sedang berkembang faktor-faktor sekolah memegang peranan lebih besar dari pada faktor-faktor keluarga dan lingkungan. Sayang dalam artikel perbedaan antara kekuatan menjelaskan faktor-faktor keluarga dan faktor-faktor sekolah tidak dibahas. Kita hanya dapat menduga bahwa dalam masyarakat kita sekolah memegang peranan penting pula dalam proses belajar murid. Atas dasar dugaan itu, kesimpulan penulis artikel bahwa dalam masyarakat kita guru masih memegang peranan penting dapat diterima.
Saran penulis artikel mengenai studi lebih lanjut perlu diperhatikan pula. Suatu survei dalam skala besar memang memberikan suatu gambaran umum yang kasar mengenai kecenderungan-kecenderungan serta kaitan-kaitan antara berbagai gejala; namun apabila sebab-sebab adanya berbagai kaitan tersebut hendak dipelajari secara lebih mendalam, suatu survei perlu diikuti dengan pengamatan yang lebih bersifat kualitatif dan mendalam.
Kamanto Sunarto, Fakultas Ilmu-Ilmu Sosial UI Kompleks UI Rawamangun Jakarta Timur