Pengantar
Tahun ini kita tak perlu bimbang soal pangan. Pemerintah mengumumkan bahwa persediaan amat cukup. Ini adalah bagian dari politik pangan kita selama ini, yang senantiasa menjaga kesiapan dalam hal stock sehingga terjamin stabilitas harga, di samping mengejar pertumbuhan produksi. Tetapi masalahnya mungkin belum selesai sampai di situ.
Drs. Frans Seda, 54 tahun, Ketua Umum Yayasan PTK-Atmajaya, berturut-turut dari 1964-1973 menjadi Menteri Perkebunan, Menteri Pertanian, Menteri Keuangan, Menteri Perhubungan dan Pariwisata, serta pernah menjadi Gubernur Bank Pembangunan Asia, melihat bahwa kebijaksanaan pangan kita sekarang-peningkatan produksi, menjamin kesiapan stock dan stabilitas harga-belum memecahkan persoalan inti yang sesungguhnya. Ekonom lulusan Negeri Belanda ini, mempersoalkan jaringan masalah yang melatarbelakangi semuanya itu, baik tentang tercecernya nilai tukar petani oleh tingkat perkembangan harga sebagai akibat tak berjalannya distribusi pendapatan yang wajar-walaupun petani meningkat produktivitasnya; kemiskinan; maupun masalah pemilikan atas tanah. Dia melihat penyelesaian semua masalah ini sebagai suatu urgensi yang jauh lebih relevan daripada keinginan untuk swasembada pangan. Kata Frans Seda, tujuan pembangunan pertanian kita harus diarahkan ke sana, dan pilihan yang dapat ditempuh untuk itu adalah melaksanakan landreform dengan konsekuen.
Dalam “Dialog” ini pun turut berbicara Menteri Muda Urusan Produksi Pangan Ir. Achmad Affandi, yang melihat ketergantungan kita pada beras dapat melahirkan kerawanan pangan.
Kita belum menyentuh masalah pokok, Frans Seda, 54 tahun, Ketua Yayasan PTK-Atmajaya
Tanya (T): Dalam membicarakan masalah pangan di Indonesia, kita bisa kembali kepada pepatah Cina yang mengatakan: “jangan berikan ikan kepada orang yang lapar, tetapi berilah dia kail.” Dengan kail, orang yang lapar itu tidak hanya akan makan ikan hari ini, tapi dia juga dapat makan buat seterusnya. Untuk Indonesia, bagaimana keadaan pangan ini menurut anda kini. Apakah kita masih sekedar makan ikan, ataukah kita sudah mempunyai kail?
Jawab (J): Kedua-duanya tidak. Tidak ada ikan, dan tidak ada kail.
T: Tetapi kita selalu mendengar bahwa produksi pangan dalam negeri selalu meningkat. Persediaan beras stabil. Atau sekurang-kurangnya senantiasa ada pengumuman tentang kebijaksanaan pangan yang baru, agar kita berswasembada dalam bidang ini.
J: Bukan baru sekarang kita mendengar hal seperti itu. Jauh hari sebelum adanya trilogi pembangunan-di zaman Bung Karno-kita mendengar tentang program mencukupi sandang, pangan dan papan.
Kembali kepada pepatah Cina tadi, saya kira, selain kita memerlukan ikan untuk makan sekarang, kita juga memerlukan kail serta ikan-ikan kecil untuk umpan, supaya kita dapat terus memancing. Yang harus dipersoalkan dalam membicarakan kenaikan produksi pangan itu, adalah: apakah kenaikan produksi tersebut telah diikuti oleh kenaikan tingkat pendapatan petani, terutama petani kecil. Inilah tujuan utama pembangunan pertanian.

Ketergantungan pada Beras dapat timbulkan kerawanan, A. Affandi, Menteri Muda Urusan Produksi Pangan
Lukisan situasi pangan khususnya beras di Indonesia tahun 1980 ini memang dapat dikatakan lebih baik dari tahun-tahun yang lampau. Hal ini dimungkinkan karena diperkirakan adanya peningkatan produksi sebesar 11 persen dibandingkan tahun sebelumnya, sehingga akan mencapai 20 juta ton. Selain itu pengadaan beras oleh BULOG yang 90 persen dilaksanakan melalui KUD-KUD juga meningkat mencapai 2,5 juta ton, bahkan sekarang mungkin sudah lebih dari itu. Hal ini memberikan gambaran dalam masyarakat bahwa iklim atau gairah berproduksi di kalangan petani sedang menaik, dan ini tentu menggembirakan kita semua.
Tetapi, di balik lukisan yang menggembirakan itu perlu kita akui masih ada titik-titik negatif: kenaikan produksi tidak merata di semua daerah, adanya serangan hama wereng dan hama tikus, dan terutama lagi masalah kekeringan di beberapa daerah. Karena itu masih perlu diadakan perbaikan terus-menerus.
Kemajuan di bidang pertanian tergantung kepada banyak faktor, baik faktor-faktor teknis maupun non-teknis, dan ini tidak bisa diketahui begitu saja. Tetapi secara pasti, yang menentukan kemajuan pertanian seterusnya khususnya dalam peningkatan produksi adalah faktor-faktor yang ada dalam keadaan minimum. Dalam usaha perbaikan, faktor-faktor minimum inilah yang dicari.
Pengendalian konsumsi masih sulit
Dalam menjalankan kebijaksanaan di bidang pangan untuk mencapai swasembada pangan, harus diperhatikan tiga aspek pokok: aspek produksi, aspek konsumsi dan aspek pengadaan. Ketiga aspek ini saling berkaitan satu sama lain. Produksi yang meningkat tidak akan membawa hasil yang berarti bila tidak diimbangi distribusi yang baik. Sebaliknya distribusi atau pemasaran dan pengendalian konsumsinya tidak akan berhasil bila produksinya tidak meningkat. Demikian juga, peningkatan produksi seperti sekarang ini disertai distribusi yang baik sekalipun, tidak dapat dikatakan berhasil mencapai swasembada pangan bila konsumsi tidak dapat mencukupi supply dan stabilitas harga, tetapi harus ditujukan pada kemakmuran bangsa dan diarahkan pada sektor yang miskin. Di sinilah terjadi “kortsluiting” antara yang dikehendaki pemerintah dan tujuan-tujuannya dengan yang jadi kehendak masyarakat, yakni memperluas sasaran.
