Pengantar
Samsuri tak pernah gelisah kalau tak mampu membeli serta mengisap rokok barang dua atau tiga hari. Petani 54 tahun, kakek dari 13 cucu, kelahiran Kakenceng, Sukaraja, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat ini, hanya memiliki 0,11 hektar sawah, dan karena itu pula dia harus memburuh di sawah atau kebun orang lain empat hari dalam seminggu. Tetapi upah yang dia terima sekarang, sama saja dengan imbalan yang diperolehnya buat pekerjaan serupa tigapuluh tahun yang lalu.
“Laporan Khusus” kali ini mengisahkan riwayat petani tua itu. Bahan-bahan dikumpulkan dengan bantuan Z.S. Karim awal September yang lalu, dan ditulis oleh Masmimar Mangiang. Redaksi.-
Di Kakenceng padi sedang bunting. Kesibukan para petani kampung kecil dalam desa Salawi, Kecamatan Sukaraja, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat ini, sekarang beralih ke kebun palawija. Hanya beberapa orang yang masih menabur pupuk atau bersiang di sawah yang padinya muda. Buat pekerjaan seperti itu dari pukul 07.00 hingga lohor datang, mencangkul sawah ataupun kebun orang lain, seorang buruh tani di daerah ini memperoleh imbalan Rp 500, suatu nilai yang sama saja dengan dua liter beras ditambah makan dua kali, yang mereka terima juga untuk pekerjaan serupa tigapuluh tahun yang lalu. Samsuri, salah seorang di antara buruh tani itu, mengatakan tak pernah menikmati kenaikan upah tersebut hingga usianya yang ke-54 dalam tahun ini. Keadaan demikian disebutnya sebagai “hidup yang dingin” sebagai kuli tani, hidup yang begitu-begitu saja dari hari ke hari dan tanpa perubahan dari musim ke musim. Barangkali Samsuri hanya sekedar mengulang-ulang hari yang serupa sepanjang usianya, hari-hari yang tanpa perubahan dalam hidupnya, bagaikan tak pernah berubahnya angin dingin lereng Gunung Gede yang senantiasa berembus di kampung itu.
Tak punya keterampilan selain bertani
Riwayat Samsuri adalah kisah hidup seorang petani buta huruf yang hanya memiliki empat petak sawah seluas 0,11 hektar, tak pernah meninggalkan pekerjaan di sawah ataupun di kebun, dua kali menikah dan membesarkan empat anak yang kepadanya kini telah memberikan 13 orang cucu. Dia lahir di Kakenceng tahun 1926, pada tanggal dan bulan yang tiada dia ketahui.
Selain ikut bergerilya selama dua tahun setelah kemerdekaan Indonesia diproklamirkan dahulu, hampir tak ada lagi yang dapat disebut sebagai pekerjaan Samsuri, kecuali mencoba berdagang oncom, usaha kecil-kecilan yang selalu timbul-tenggelam karena ketiadaan modal, yang dilakukannya ketika urusan di sawah atau panggilan sebagai kuli pacul tengah-tak ada. Bahkan di suatu masa beberapa tahun yang silam Samsuri juga menyabit rumput dan memikulnya ke pinggir jalan menunggu kusir dokar datang membeli makanan kuda. Tidak ada keterampilan lain yang dia punyai, baik membuat sarung golok dari kayu atau tanduk, maupun mengasah batu hias seperti yang dikerjakan puluhan lelaki lainnya di antara 11.700 warga Pasir Halang, tempat tinggal dewasa ini.
Petani tua bertubuh pendek dengan rambut jarang dan beruban ini adalah satu di antara tujuh orang bersaudara. Ayahnya, Eros, menurut Samsuri dahulu memiliki sawah yang lumayan luasnya di kampung Kakenceng. Tetapi ketika hidup terasa amat sulit pada masa pendudukan Jepang, semua harta itu terjual habis. Dia berkata, “Untuk makan dan ongkos berobat.”





