Prisma

Kritik & Komentar

Ada yang “tidak realistis” dan “kontradiktis”

“Tema pembangunan hendaklah mengarah pada perbaikan hidup rakyat banyak dan dilaksanakan dengan cara yang manusiawi oleh rakyat banyak,” menjiwai tulisan Maroelak Sihombing dalam Prisma No. 11, November 1980, berjudul Partisipasi sebagai Permedekaan Manusia. Jadi, partisipasi sebagai perwujudan pembangunan yang manusiawi. “Kita memerlukan partisipasi”, demikian ditulis “yang dalam konteks ini berarti keturut-sertaan setiap orang di dalam setiap upaya perencanaan, pelaksanaan, pengawasan dalam menguasai dan memelihara alam, bukan sekedar melaksanakan apa yang telah orang (kelompok) lain rencanakan dan putuskan.”

Hampir setiap sarjana terutama yang menulis pada tahun 1970-an memasukkan masalah partisipasi dalam karya-karyanya walaupun cara memandangnya berbeda-beda.

Gabriel A. Almond (1974) mempertanyakan: “Apakah suatu demokrasi partisipan langsung benar-benar mungkin di dalam bangsa-bangsa moderen yang dihadapkan dengan keadaan-keadaan dan masalah-masalah. Saudara Maroelak Sihombing menulis:

“… seolah-olah pembangunan itu dengan sendirinya pasti baik. Pasti berguna. Seakan-akan semua pihak telah berpegang kepada kesepakatan diam-diam yang berpendapat bahwa pembangunan dengan sendirinya pasti bermanfaat. Padahal, istilah “pembangunan” bila dikaji lebih jauh, tak ubahnya dari semacam “perubahan” yang berkembang dan berfungsi ganda: positif dan negatif. Sangat tergantung kepada siapa yang mengubah dan siapa yang diubah serta bagaimana perubahan itu dilaksanakan”. (hal 32).

dan kemudian di halaman 38 :

“Ia (pembangunan) juga adalah-dalam arti yang lebih dalam titik pusat dambaan dan harapan-harapan yang memerdekakan serta menyelamatkan. Dan, dalam pengertian yang sangat penting, pembangunan adalah suatu kategori religius”.

Kedua kutipan tersebut mengandung kontradiksi. Tidaklah logis bila yang pertama dijadikan pangkalpikir serta yang kedua sebagai kesimpulannya. Lain halnya kalau yang kedua hanya untuk menjelaskan salah satu makna dan fungsi pembangunan (versi yang empunya tulisan) yaitu yang positif. Dengan demikian strategi yang saudara rumuskan bisa bermakna dan berfungsi negatif bila tidak ada tanda-tanda akan berhasil dilaksanakan. Jika saudara konsisten dengan tulisan sebagaimana dalam kutipan kedua, tidak perlu menyamakan “pembangunan” dan “perubahan”. Kedua hal itu jelas berbeda. Menerima anggapan pembangunan itu menjadi titik harapan-harapan yang menyelamatkan dan memerdekakan tentunya bukan karena orang tahu ia negatif.

Saya kemukakan beberapa pengertian yang lazim mengenai “pembangunan”, sekedar menunjukkan adanya perbedaan di antara kedua istilah tersebut. Istilah pembangunan sering dirumuskan sebagai proses perubahan yang terencana dari suatu situasi nasional yang satu ke situasi nasional yang lain yang dinilai lebih tinggi (Katz, 1971); dengan kata lain pembangunan menyangkut proses perbaikan (Seers, 1970), tanpa merusak norma-norma yang ada (Rogers). Sedangkan istilah perubahan dirumuskan sebagai suatu proses di mana situasi yang satu menjadi berbeda dengan situasi yang lain. Jelas, makna dan fungsi pembangunan hanya satu yaitu positif, demi kebaikan! Lagipula ia berbeda dengan perubahan, karena dalam pembangunan terkadang unsur kesengajaan dan kemajuan sedang dalam perubahan belum tentu.

Jaswadi ,Fakultas Sospol, UGM Yogyakarta.

Anda dapat membaca versi lengkap Artikel edisi ini di LP3ES-Prisma Digital format cetak maupun e-magazine.

Untuk melakukan pemesanan dapat melalui link berikut: LP3ES-Prisma Digital

Bagikan