Prisma

Dialog: Menguak Tabir Pertumbuhan Segitiga Emas

Batam – Singapura – Johor

Pengantar

KONSEP pertumbuhan segitiga (The Growth Triangle Concept) melibatkan kawasan Singapura-Batam-Johor kini telah meluas dan menjangkau pulau Bintan dan pulau lain di Riau kepulauan. Perkembangan ini adalah masuk akal mengingat pertumbuhan ekonomi yang pesat di kawasan tersebut pada dekade 1990-an. Pemodal-pemodal dalam negeri dan luar negeri semakin gencar mulai berdatangan ke wilayah yang sedang “membuka diri” tersebut. Timbul berbagai persoalan – untuk tidak menyebutkan kekhawatiran – menyangkut perluasan daerah di Riau kepulauan yang diperuntukkan untuk mewadahi luapan deras investasi di sana.

Latar belakang historis wilayah tersebut tidak terlepas dari penguasaan kerajaan melayu pada abad XV. Konon, di daerah yang kini menjadi ajang penanaman modal asing tersebut, bertahta raja Melayu yang melahirkan banyak keturunan yang kemudian menguasai pulau Bintan, pulau Panyengat, pulau Batam, dan wilayah Semenanjung Melayu. Karena itu, penamaan “segitiga emas” barangkali tidak dilakukan secara kebetulan, melainkan merujuk dan berkaitan erat dengan sejarah melayu tersebut. Kini orang mempertanyakan siapakah sebenarnya pencetus nama segitiga emas tersebut dan apa tujuannya di balik nama itu.

Namun bagi Indonesia, pengembangan wilayah Riau Kepulauan – dalam hal ini Batam dan Bintan – memiliki nilai strategis mengingat wilayah itu merupakan inti dari posisi silang dimana Indonesia diapit oleh dua benua dan dua samudera. Aspek pertahanan-keamanan dengan kekuatan militer terhadap kawasan Segitiga Emas di Riau Kepulauan perlu diperhatikan di samping aspek-aspek ketahanan nasional lainnya.

Pertumbuhan Segitiga Emas di kawasan Riau Kepulauan memiliki berbagai aspek yang saling berkaitan. Kekayaan sumber daya alam, posisi strategis, pengerahan tenaga kerja, penerapan teknologi canggih, keikutsertaan pengusaha pribumi dan non-pribumi, semuanya bergumul di balik tabir pertumbuhan itu. Pendapat dan gagasan yang disampaikan oleh Prof. St. Munadjat Danusaputro, Sayidiman Suryohadiprodjo dan Jusuf Wanandi dalam dialog Prisma edisi ini menarik untuk disimak. Paling tidak untuk mengantisipasi berbagai kemungkinan yang akan terjadi di waktu mendatang dan Indonesia dapat bersiap diri guna mencegah kemungkinan buruk atau ekses negatifnya.

Redaksi

Batam Ibarat Piring Penampung, St. Munadjat Danusaputro, Guru Besar Universitas Padjadjaran Bandung.

HENDAKNYA istilah “segitiga emas” tidak tenggelam sekadar istilah ekonomi tetapi pertama-tama yang harus diingat adalah, penjelasan dengan mempergunakan latar belakang kesejarahan (latar belakang sejarah). Pada tahun 1530 berdiri kerajaan Johor, yang waktu itu dinamakan Batu Sawar. Kerajaan ini berhubungan erat dengan kerajaan Aceh, karena salah satu raja Johor adalah putra dari raja Aceh yang menikah dengan putri Johor. Namun, pemerintahannya tidak disenangi lantas dijatuhkan. Inilah sebenarnya yang kemudian menimbulkan silang sengketa dengan kerajaan-kerajaan di Riau, sebuah kerajaan cikal akan kerajaan Melayu. Pada 1829 seorang raja Johor menyerahkan daerah yang sekarang dinamakan Singapura kepada Raffles karena Johor diakui sebagai suatu kesultanan. Dengan diserahkannya Singapura kepada Raffles seolah-olah Inggris berkuasa di sana. Ini sesungguhnya refleksi Inggris untuk menghantam Portugis, sebelum itu pada 1511 Portugis merebut Malaka. Sejak Malaka dikuasai, jalur perdagangan di sepanjang Selat Malaka diawasi dengan ketat oleh Portugis. Ini yang akhirnya memancing Inggris untuk menyingkirkan Portugis dari lingkungan Malaka. Sejak itu konflik internal antar keluarga di wilayah-wilayah Johor-Singapura-Melayu terus menerus berlangsung.

Kalau konsep latar belakang kesejarahan sudah dipegang maka masalah kemudian apakah nantinya kawasan industri di segitiga Johor-Batam-Singapura bisa berjalan. Bila tidak ada landasan historis jelas akan terasa sulit. Tinjauan-tinjauan ekonomi, politik atau sosial janganlah mengabaikan segi historis, tetapi juga tidak perlu silau dengannya karena masalah yang muncul belakangan masih baru. Kalau sekarang sudah dibangun kerjasama maka lebih lanjut harus dijelaskan pengertian segitiga “emas”. Bila dikatakan segitiga emas maka jelas terkait dengan latar belakang kesejarahan. Segitiga lain, misalnya di Indonesia bagian Timur (IBT) yang lebih banyak lingkungan laut tentu harus menggerakkan aspek kelautannya, sehingga segitiga Ambon-Kupang-Darwin akan terbangun. Segitiga terakhir ini bukan segitiga emas karena belum diketahui sejauh mana mampu merealisasikannya secara konkrit. Bayangan orang tentunya menyebutkan segitiga Johor-Batam-Singapura adalah meniru model segitiga Karibia yang sebenarnya sudah dalam kesatuan bahasa, sosial, atau budaya.

Seperti telah dimaklumi, Singapura memisahkan diri dari Malaysia karena masalah etnis. Etnis Cina di Daratan Cina berjumlah 1,2 milyar; Taiwan 16,8 juta dan Cina Perantauan di Asia Tenggara 21,8 juta. Jika ditotal jumlahnya sekitar 1,250 milyar. Etnis itu berada di tengah manusia seluruh dunia yang jumlahnya 6 milyar. Dengan jumlah yang demikian besar dan tersebar di seluruh pelosok dunia, Eropa sejak dini sudah khawatir jika nasionalisme Cina bersatu maka kekuatannya akan jauh lebih besar daripada nasionalisme Arab. Kebesaran nasionalisme Cina akan menjadi satu-satunya nasionalisme yang mampu berdiri dan mencukupi kebutuhannya sendiri, tidak tergantung dari luar negeri. Dengan kata lain, secara ekonomis Cina dengan industrinya yang bertambah maju akan mampu terus berputar. Jumlah penduduk satu seperempat milyar sangat mendukung tahapan produksi sehingga pemasaran cukup berkembang di Daratan Cina. Pikiran tentang nasionalisme Cina ini sebenarnya merupakan pikiran Eropa menghadapi bersatunya Eropa pada 1992. Ternyata Eropa yang akan segera bersatu dengan kemajuan dan kemundurannya merasa tidak akan sekuat seperti bersatunya nasionalisme Cina.

Organisasi Keamanan Asia Tenggara, Perlu, Sayidiman Suryohadiprodjo, Penasehat Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT)

TATKALA menjabat Gubernur Lembaga Pertahanan Nasional (Lemhannas) saya pernah datang ke Riau, melakukan pengkajian, selanjutnya menulis laporan tentang Riau untuk kepentingan intern ABRI. Saya menyatakan pentingnya wilayah Riau dilihat dalam kaca-mata pertahanan nasional, baik secara umum maupun secara keamanan militer. Riau memiliki potensi dan kekayaan yang besar. Di Riau daratan terdapat sumber dan kilang minyak; hasil ekspor minyak dari Riau pada waktu itu sekitar 800 ribu barel per hari. Di Riau kepulauan terdapat bauksit dan timah. Belum lagi potensi hasil laut di perairan Riau.

Selain melihat kekayaan wilayah Riau, kajian itu juga melihat posisi strategis Riau di mana daerahnya merupakan pertemuan Laut Cina, Selat Malaka dan Selat Karimata. Inilah inti persilangan penting Indonesia di tengah dua samudera dan dua benua. Dilihat dari sudut kesejahtearan, posisi Riau memiliki makna yang tinggi; dilihat dari sudut keamanan, posisi Riau adalah strategis sekali. Pada waktu itu saya pernah memberikan saran kepada pimpinan ABRI untuk memperhatikan nilai-nilai strategis tersebut. Pulau Natuna, misalnya, harus diperhatikan secara khusus dan dalam penguasaan yang baik.

Dulu kemampuan negara untuk mengembangkan wilayah itu terbatas sekali. Riau kurang dimajukan, kecuali minyak bumi yang dikelola maskapai asing. Sekarang dengan kemampuan yang lebih baik, daerah Riau telah dikembangkan untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat. Ini amatlah masuk akal, karena dengan peningkatan kesejahteraan kita akan memperoleh manfaat yang lebih besar bagi kepentingan nasional.

Kita ingin memanfaatkan potensi Riau daratan dan Kepulauan agar tumbuh menjadi kekuatan yang nyata. Namun kenyataannya kemampuan Indonesia terbatas; kita tidak mampu melakukan sendiri untuk membangun wilayah itu guna mengejar sasaran yang lebih besar. Jalan keluarnya adalah melakukan kerjasama dengan negara tetangga terdekat – Singapura dan Malaysia. Sebenarnya kita tidak rela kenapa selama ini hampir semua komoditi ekspor Indonesia harus dipasarkan melalui Singapura. Dalam hal ini sebaiknya kita lebih berprinsip untuk memanfaatkan kemampuan mereka terlebih dulu untuk selanjutnya bila kita sudah memperoleh banyak pengalaman dan kemampuan pada suatu saat mendatang kita bisa melakukannya sendiri. Karena kita belum mampu bersaing, lebih baik bergabung dan bekerja sama dulu dengan mereka.

Kita memang ingin membangun demi peningkatan kesejahteraan seluruh rakyat Indonesia. Sadarilah bahwa wilayah Indonesia begitu luas. Kita adalah negara besar. Kita mengembangkan Riau karena posisinya memang strategis selain potensi daerahnya juga besar. Kita harus memanfaatkan kerjasama pembangunan dengan Singapura dan Malaysia sebaik mungkin. Kita mengembangkan Batam; juga memajukan Bintan.

Kenapa perlu bersikap begitu? Saya cenderung mencontoh sikap Jepang terhadap Amerika Serikat setelah Perang Dunia II usai. Jepang merasa inferior di hadapan AS dalam hal kemampuan, tetapi tidak sebagai manusia. Sebagai negara yang kalah perang Jepang betul-betul “tunduk” kepada AS. Namun sebenarnya sikap ini adalah bagian dari taktik untuk memperoleh segala ilmu, pengetahuan dan kemampuan AS untuk kepentingan pembangunan daerahnya. Terbukti sekarang Jepang sudah sejajar dengan AS.

Dasarnya Adalah Kepentingan Bersama, Yusuf Wanandi, Ketua Dewan Penyantun CSIS

Tanya (T) : Bagaimana meletakkan persepsi Indonesia terhadap konsepsi segitiga pertumbuhan karena tampaknya inisiatif lebih dari Singapura ke-timbang Indonesia?

Jawab (J) : Dilihat dari segi strategi tentu kepentingan Singapura ada, terutama bagaimana menciptakan lebih banyak hubungan dengan Indonesia dalam jangka panjang supaya dengan demikian keterikatan itu membuat Singapura aman. Dengan meletakkan landasan kerjasama ekonomi di atas politik atau di bawah landasan kerjasama politik, Singapura ingin lebih mempererat hubungan dengan Indonesia. Kepentingan Singapura tentunya untuk mengamankan diri. Terus terang, survival mereka butuh good neighborhood policies dengan Malaysia dan Indonesia. Tetapi kalau landasannya hanya di bidang politik itu bisa berubah-ubah. Dalam hal politik mereka khawatir kalau ada perubahan pimpinan nasional Indonesia, maka ini bisa mengguncangkan landasan kerjasama yang sudah baik, tetapi kalau landasan kerjasamanya adalah ekonomi, tentu tidak semudah itu perubahannya, apalagi karena kedua belah pihak memiliki kelompok-kelompok yang berkepentingan untuk mempertahankan hubungan itu, dengan adanya manfaat-manfaat yang langsung dirasakan. Saya kira untuk jangka panjang pasti pemikiran mereka ke arah sana.

Kita memang melihat bagaimana pun kita tidak mau mengulangi fase pertumbuhan dalam hubungan yang pernah tidak baik dengan Singapura dan Malaysia melalui konfrontasi. Kita belajar dari sana bahwa bagaimanapun juga kita membutuhkan hubungan yang baik dengan para tetangga. Kita tidak usah harus memperhatikan anggaran pertahanan, karena prioritas perhatian ke bidang militer hanya akan mengganggu pembangunan. Sumber daya kita terbatas; kalau harus dialihkan ke bidang militer, maka pertumbuhan ekonomi akan terbatas. Sebab kita membutuhkan suatu lingkungan sekitar dan lingkungan yang stabil maka good neighborhood policy adalah nomor satu. Kalau ada gagasan Singapura untuk mempererat hubungan, juga untuk mengurangi kemungkinan ketegangan di masa depan, kita harus dukung karena ini adalah juga kepentingan strategis kita. Jadi dilihat dari kepentingan strategis ke dua belah pihak, memang ada keuntungannya. Untuk Singapura tentu lebih banyak ketimbang kita.

T : Artinya Singapura memiliki energi lebih?

J : Betul. Mereka pasti memerlukan lebensraum, karena tanah tidak mencukupi. Mereka juga memiliki access kapasitas dan memang menggunakannya itu supaya lebih produktif. Mereka tidak memiliki buruh, karena itu membutuhkan buruh Indonesia. Pokoknya, mereka membutuhkan hinterland untuk terus mendukung pembangunannya, dan itu bisa kita pasok. Seperti Hongkong, untuk bisa tetap kompetitif mereka mengandalkan Guandong. Dilihat dari kebutuhan atau kepentingan kita, dalam hal ini, kita memiliki akses dari buruh yang memang harus dicarikan pekerjaan. Kita menggunakan kemampuan penetrasi mereka untuk menjangkau ke dunia internasional terutama dengan strategi baru kita, yaitu pertumbuhan yang dipimpin ekspor. Untuk bisa melakukan penetrasi pasar dunia, kita masih baru dan terbatas; sebab itu bisa juga dompleng kapasitas penetrasi mereka yang duapuluh tahun lebih maju. Mereka pasti memiliki kemampuan dan infrastruktur yang jauh lebih baik dari pada kita. Itu yang kita pergunakan di samping tentunya teknologi dan kapital yang juga kita perlukan. Ini yang hendak kita gabungkan.

Anda dapat membaca versi lengkap Artikel edisi ini di LP3ES-Prisma Digital format cetak maupun e-magazine.

Untuk melakukan pemesanan dapat melalui link berikut: LP3ES-Prisma Digital

Bagikan