Perekonomian Indonesia sejak 1987 sampai 1991 ditandai oleh beberapa penyesuaian internal yang mengakibatkan pengaruh terhadap nilai tukar mata uang, distribusi pendapatan dan kesenjangan pendapatan regional. Menurut Anwar Nasution, implikasi jangka panjang dari keadaan ini adalah kemungkinan menurunnya pertumbuhan ekonomi Indonesia pada tahun mendatang.
Pendahuluan
PEREKONOMIAN Indonesia 1987-91 merupakan saat terbaik sekaligus terburuk. Periode ini ditandai hentakan yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam penanaman modal, ekspor non-migas, konsumsi swasta dan pertumbuhan ekonomi. Hal ini disertai perkembangan mantap dalam pengurangan kemiskinan, dengan persentase penduduk yang hidup di bawah garis kemiskinan resmi menurun dari 40% (1976) menjadi 20% pada tahun 1987.1 Tetapi peninggalan masalahnya masih ada. Sejak awal 1990, Indonesia menentang krisis serius dalam bentuk inflasi dan tingkat suku bunga yang tinggi, infrastruktur ekonomi yang tidak memadai, defisit neraca transaksi berjalan yang membengkak, masalah pertambahan hutang luar negeri, serta sistem keuangan yang rapuh.
Optimisme besar selama tahun-tahun awal 1987-91, karena kendala eksternal yang menetap, lambat-laun mengendur. Syukurlah pertumbuhan cepat ekspor non-minyak bertepatan setelah serangkaian tindakan deregulasi yang dimulai bulan Oktober 1986 – seperti halnya arus masuk modal swasta dan tersedianya pinjaman publik yang baru – menyebabkan berkurangnya defisit neraca transaksi berjalan dari US$ 1,4 milyar pada tahun 1988 menjadi US$ 1,1 milyar di tahun 1989. Konsekuensinya sebagian, pemerintah mendorong BUMN dan sektor swasta untuk mempercepat peminjaman jangka pendek dengan menyediakan proteksi baik langsung maupun tak langsung untuk mengatasi resiko nilai tukar mata uang. Ketika andil investasi meningkat 26% dari GDP tahun 1988 hingga hampir 29% di tahun 1990, tingkat pertumbuhan ekonomi riel mencapai titik puncak 7,4% di tahun 1989. Ketika perekonomian terlalu panas pada tahun 1990 pemerintah menetapkan tingkat suku bunga yang tinggi untuk mendinginkannya.
* Artikel ini diterjemahkan dari BIES 27 (2), Agustus 1991.
1 J. Mackie dan Sjahrir, “Survei Perkembangan Terkini”, BIES 27 (1), hal. 3-38, 1989.