SEBUTLAH Imah, seorang buruh perempuan pada sebuah pabrik tekstil di kawasan industri Botabek. Jam kerja yang panjang dengan upah rendah adalah kesehariannya. Tanpa hak cuti, asuransi kesehatan apalagi jaminan sosial. Di pabrik tersebut dipekerjakan ratusan buruh, mayoritas perempuan, umumnya berpendidikan sekolah menengah. Ayahnya petani gurem dengan lahan 0,2 hektar, mencari tambahan sesuap nasi bagi lima anaknya yang lain dengan menggarap lahan seorang juragan tambak udang di pesisir Utara Jawa. Ibunya berdagang sayuran dan sesekali menuai padi untuk tambahan beberapa lembar rupiah sehari. Bila panen tiba adik perempuannya yang berparas manis laku me’dongbret’ sehingga dua adik lelakinya masih bisa bersekolah.
Suatu hari meledak pemogokan, karena pengusaha tak memenuhi janji upah minimum. Puluhan buruh yang dianggap memotori unjuk rasa diinterogasi lantas dipecat perusahaan. Imah salah satu di antara mereka, kini kehilangan pekerjaan, sambil menanti putusan P4D, lebih setahun lamanya. Pulang ke”desa” cuma membebani orang tua, di kota ribuan pencari kerja berjejal antri di gerbang pabrik.
Tak ada pilihan bagi Imah. Walaupun ia tak sendirian, ratusan buruh lainnya mengalami “nasib” serupa. Ribuan keluarga buruh tani hidup jauh lebih miskin ketimbang keluarganya. Bahkan ratusan ribu keluarga lainnya berada di bawah garis kemiskinan: menganggur atau menjadi gelandangan; “tinggal tiga puluh juta dari penduduk Indonesia”, kata seorang pakar. Sementara jutaan orang di “desa” maupun kota hidup pada tingkat subsisten pada lapis paling bawah dalam sektor informal.
Tapi rupa yang membedakan orang miskin dan buruh? Sederhana saja. Orang miskin belum tentu menjadi buruh. Penganggur tidak bekerja. Pengemis tidak memproduksi komoditi. Mereka tidak menjual tenaga kerjanya kepada industri, tidak menerima upah. Sebaliknya, mayoritas pekerja (workser) adalah buruh (labour), dan mayoritas buruh hidup dalam kemiskinan. Tapi semua ini cuma gejala dalam masyarakat industri, sejak akhir abad ke-18. Kini tidak ada lagi perbudakan, yang muncul adalah kemiskinan dan keterasingan, buah akumulasi kapitalis yang memisahkan pekerja dari sarana produksi dan menghapuskan kontrol buruh terhadap proses kerja.
Prisma di awal tahun 1992 ini mempresentasikan beberapa hasil penelitian tentang buruh dalam gerak kapitalisme yang tengah mentransformasikan negeri agraris ini ke era industri. Ini tentu berkait dengan melonjaknya jumlah pemogokan di tahun 1991 dan berbagai isu pelik di sekitar perburuhan serta kenyataan bahwa Indonesia tengah menghadapi transisi penting dalam proses industrialisasinya.
Yang khusus dibandingkan nomor-nomor Prisma sebelumnya, masalah perburuhan tak hanya dilihat sebagai fenomena tenaga kerja dalam perencanaan pembangunan, melainkan ataupun disorot dari persoalan sektor informal dan urbanisasi belaka, tetapi mencoba lebih mendalami masalah pekerjaan buruh dan kondisi mereka di tingkat pabrik.
Aspek lain yang patut disimak, ialah kenyataan bahwa kerja upahan tidak hanya ada dalam sektor-sektor “formal seperti di pabrik atau industri rumah tangga, melainkan juga dijumpai dalam jenis pekerjaan seperti penarik becak dan pembantu rumah tangga. Karena keterbatasan ruang, maka Prisma akan menyajikan hasil-hasil penelitian tersebut dalam dua nomor. Redaksi
Pemimpin Umum: Arselan Harahap; Pemimpin Redaksi: Ismid Hadad; Dewan Redaksi: Daniel Dhakidae (Ketua), Taufik Abdullah, Ismid Hadad, M. Dawam Rahardje, Aswab Mahasin, Rizal Ramli, Didik J. Rachbini, Vedi R. Hadiz, Paulus Widiyanto; Redaktur Pelaksana: Paulus Widiyanto; Staf Redaksi: Nur Iman Subono, E. Dwi Arya Wisesa, Harry Wibowo; Sekretaris Redaksi: Tri Wijayati; Pemimpin Perusahaan: Maruto MD; Wakil Pemimpin Perusahaan: Arys Sutarman; Sirkulasi: M. Sholeh, Sukandar; Iklan: Arys Sutarman; Tata Usaha: Nina Herliana, Sunarwanto; Produksi: Awan Dewangga, Suradi Suprapto, Yahya Sukaria.
Penerbit: PT Pustaka LP3ES Indonesia, Anggota SPS. ISSN 0301 – 6269. SIUPP: No. 072/SK/MENPEN/SIUPP/D.I/1986, 4 Maret 1986. Alamat: Jl. S. Parman 81, Jakarta 11420; Telepon: 5663525, 5663527 (langsung), 5667139, 5667141, 597211; Kotak Pos 6275/11062, Jakarta 11062. Bank: BUKOPIN, Cabang S. Parman, Jakarta, Nomor Rekening 004.0010.5; Pencetak: PT. Temprint.