Pendekatan Baru Pembangunan?
Pengantar
Gerakan Keluarga Berencana kini didefinisikan kembali dalam arti yang luas. Sejak diberlakukannya Undang-undang No. 10 Tahun 1992 tentang Perkembangan Kependudukan dan Pembangunan Keluarga Sejahtera, Gerakan KB tampak melangkah lebih maju lagi. Keluarga Berencana dirumuskan sebagai upaya peningkatan kepedulian dan peranserta masyarakat melalui pendewasaan usia perkawinan, pengaturan kelahiran, pembinaan ketahanan keluarga, peningkatan kesejahteraan keluarga untuk mewujudkan keluarga kecil, bahagia dan sejahtera. Gerakan KB dinilai amat strategis dalam upaya peningkatan dan pengembangan Sumberdaya Manusia Indonesia.
Apa makna lompatan strategis Gerakan KB pada PJP II? Menteri Negara Kependudukan/Kepala BKKBN, Dr. Haryono Suyono didampingi dr. Sunandar Ngaliun, Deputi Bidang Keluarga Berencana BKKBN dan Kepala Biro Penerangan dan Motivasi Drs. Oesman Hidayat menerima Tim Liputan Prisma, Paulus Widiyanto, Arya Wisesa dan Paul J. Litaay di ruang kerjanya, Kamis 16 Juni 1994 yang lalu. Dr. Haryono Suyono, kelahiran Pacitan 6 Mei 1938, Doktor Ilmu Sosiologi dari Universitas Chicago (1972) dengan Spesialisasi Komunikasi, Perubahan Sosial, Kependudukan dan Pembangunan, menguraikan banyak hal berkaitan dengan program Keluarga Sejahtera. Pada Hari Keluarga Nasional di Sidoardjo, 29 Juni 1994, Presiden Soeharto mencanangkan Gerakan Pembangunan Keluarga Sejahtera. Redaksi.
Prisma (P): Dalam PJP II seolah-olah terjadi pergeseran arah pembangunan keluarga berencana. Sekarang tekanannya lebih pada pembangunan Keluarga Sejahtera (KS). Apa pertimbangannya?
Haryono Suyono (HS): Sejak awal kita ingin membangun keluarga kecil, bahagia dan sejahtera. Kita melakukannya secara bertahap. Tahapan pertama bersifat maju di depan, ing ngarso sung tulodo. Tahap kedua adalah pembinaan dan tahap ketiga adalah pembudayaan. Selama ini kita menyelidiki bahwa titik lemah dalam pembangunan keluarga adalah kaum ibu. Dalam dua tahun pertama kita berusaha keras memampukan kelompok ibu, baik masa sekarang maupun masa depan, dan keluarga secara keseluruhan, Kita terus meneliti lagi titik lemah kaum ibu. Ternyata titik lemahnya, pertama menyangkut pendidikannya, kedua ketidakmampuan mengerem kehamilan, sehingga tidak bisa melakukan sosialisasi bagi anak perempuan sebagai calon ibu berikutnya. Mereka tidak mampu mengerem kehamilannya, karena ternyata titik lemah kaum ibu yang ketiga adalah ketidakmampuan mereka meyakinkan suami agar mereka tidak perlu sering hamil. Kita telah melakukan banyak program untuk menanggulangi masalah ini. Temanya selalu kita ubah sesuai dengan keadaan sehingga program ini selalu menarik perhatian. Sebetulnya isi program pembangunan keluarga dulu dan sekarang tetap sama yaitu membangun keluarga kecil, bahagia dan sejahtera. Hanya kemasannya saja diubah dan disempurnakan.
Pembinaan keluarga tetap menjadi titik pangkal. Selama 20 tahun hal menonjol memang keluarga berencana. Secara langsung kita promosikan keluarga berkualitas. Kita juga menempelkan program pendidikan kependudukan termasuk KB dalam program wajib belajar 6 tahun yang dicanangkan dalam program Departemen P & K yang hasilnya cukup menggembirakan. Kita mempromosikan agar anak perempuan harus masuk sekolah agar calon ibu generasi mendatang tidak buta huruf. Tema Keluarga Berencana, sesuai undang-undang No. 10/1992, kita rumuskan kembali sebagai kepedulian dan peranserta masyarakat untuk membangun,
melalui pendewasaan usia kawin, penjarangan kelahiran, peningkatan ketahanan keluarga dan peningkatan kesejahteraan keluarga.
Program Keluarga Berencana tidak perlu diartikan secara sempit, sebaliknya program Keluarga Berencana hendaknya dilihat secara luas. Dengan tema Keluarga Berencana kita memperoleh penghargaan dari PBB pada tahun 1989 sebagai negara yang berhasil dalam program kependudukan. Keberhasilan ini kita manfaatkan untuk lebih merangsang masyarakat dan lembaga-lembaga perwakilan rakyat untuk melahirkan undang-undang No. 10 tahun 1992. Pembangunan NKKBS artinya pembangunan keluarga kecil, bahagia dan sejahtera. Karena kecilnya keluarga telah terkenal, kita kemudian kembangkan topiknya dan kita kedepankan keluarga berencana dengan pendekatan baru yaitu keluarga sejahtera. Ini merupakan ringkasan dari keluarga kecil, bahagia dan sejahtera.

