Prisma

Pengantar Redaksi

APAKAH masalah krusial di Indonesia pada tengah tahun 1994 ini? Kekeringan berlangsung di mana-mana. Panen gagal. Harga beras naik. Banyak warga desa meninggalkan kampung halimunannya, pergi ke kota mencari pekerjaan. Terminal bis di daerah-daerah ramai. Begitu pula kereta api kelas rakyat kecil dijejali penumpang. Banyak kota provinsi, kotamadya, dan kota-kota kecamatan yang potensial di Pulau Jawa menjadi kota tujuan pencarian kerja petani desa. Mereka bersedia bekerja dan mengerjakan kegiatan apa saja.

Tetapi urbanisasi tidak hanya disebabkan atau didorong oleh semata-mata persoalan ekonomi. Faktor sosial pun ikut mendorong perpindahan penduduk dari desa ke kota dan dari satu kota ke kota lain. Misalnya masalah pendidikan. Pada pertengahan Juli ini adalah masa awal tahun ajaran baru sekolah. Penduduk usia sekolah meninggalkan desa atau kotanya untuk melanjutkan pendidikan di kota lain. Mereka tidak terbatas pada kelompok mahasiswa perguruan tinggi, melainkan juga siswa-siswa sekolah lanjutan. Banyak kota kini kebanjiran anak-anak muda yang sedang haus menuntut ilmu.

Bulan Juli 1994 merupakan momentum tepat untuk membicarakan masalah migrasi di Indonesia bertepatan dengan Tahun Kependudukan. Beberapa artikel pada edisi No. 7-Juli 1994 mengetengahkan persoalan pergerakan atau mobilitas penduduk. Beberapa provinsi menjadi pemasok migran di provinsi lain. Provinsi yang kekurangan penduduk tetapi menyediakan lapangan kerja yang besar menjadi tumpuan harapan para migran. Kota-kota besar di berbagai provinsi pun dimasuki ribuan kaum pendatang dari pedesaan. Ada gula ada semut, begitu bunyi pepatah ternyata tetap berlaku. Kota sementara dinilai sebagai tempat yang kaya sumber kehidupan; kaum pendatang berebut mendapatkan serpih-serpih “roti” kehidupan.

Pembangunan desa tampaknya belum mampu menyelesaikan persoalan kehidupan masyarakat pedesaan. Manakah yang paling besar alokasi pembiayaan pembangunan: desa atau kota? Masih adakah sumber-sumber ekonomi pedesaan yang mampu menghidupi warga desa? Jumlah lahan pertanian di pedesaan memang kian terdesak oleh pemukiman dan industri. Orang-orang kota menginvestasikan modalnya dalam bentuk penguasaan tanah. Lantas di manakah warga desa bertempat tinggal? Di kota mereka dianggap sebagai beban. Di desa mereka telah tercabut akarnya. Ke manakah mereka pergi? Tentu saja tidak mungkin tinggal di awan-awang. Inilah sisi lain dari persoalan kependudukan di Indonesia. Redaksi.

____________________________________________________________________

Penerbit: PT Pustaka LP3ES Indonesia, Anggota SPS. ISSN 0301-6269. SIUPP: No. 072/SK/MENPEN/ SIUPP/D.I/1986, 4 Maret 1986.

Pemimpin Umum: Arselan Harahap. Pemimpin Perusahaan: Maruto MD. Pemimpin Redaksi: Ismid Hadad. Dewan Redaksi: Daniel Dhakidae (Ketua), Taufik Abdullah, M. Dawam Rahardjo, Aswab Mahasin, Rizal Ramli, Didik J. Rachbini, Vedi R. Hadiz. Redaktur Pelaksana: Paulus Widiyanto Staf Redaksi: E. Dwi Arya Wisesa, Harry Wibowo Sekretaris Redaksi: Eriko Sustia.

Produksi: Bambang Soetedjo (Manajer), Awan Dewangga, Yahya Sukaria, Idjas Saham, Teguh Supriyanto. Pemasaran: Arys Sutarman (Manajer), Anda Z. Noerzy, M. Sholeh, Jinan Muhammad. Iklan: Maruto MD. Tata Usaha: Soetadi Rahardjo (Kepala), Sudartoto, M. Jayani SA, Achmad Rifai. Alamat: Jl. S. Parman 81, Jakarta 11420 Kotak Pos 6275/11062 Telepon Redaksi: 5663525 Pemasaran/Iklan: 5663527 Tata Usaha: 5667139, 5667141, 5674211. Fax.: (021) 5683785. Bank: BUKOPIN Cabang. S. Parman Jakarta No. Rekening 14.0010. 2.003 BNI Cabang Senayan Jakarta No. Rekening 001.284.001. Pencetak: PT. Temprint (isi di luar tanggungjawab percetakan)

Anda dapat membaca versi lengkap Artikel edisi ini di LP3ES-Prisma Digital format cetak maupun e-magazine.

Untuk melakukan pemesanan dapat melalui link berikut: LP3ES-Prisma Digital

Bagikan