Prisma

Strategi Nasional Penanggulangan HIV/AIDS

Pengantar

Tragedi AIDS bukan lagi merupakan suatu ledakan tetapi sudah menjadi wabah di banyak negeri dan bakal menjadi bagian integral dari kehidupan umat manusia dalam waktu yang cukup lama. Karena itu, seielah melalui masa optimisme naif bahwa teknologi bisa menaklukkan HIV/AIDS yang disusul oleh masa pesimisme, kini tiba saatnya untuk menghadapi AIDS secara realitas.

Meskipun setiap hari berita tentang AIDS menghiasi berbagai halaman media massa di Indonesia namun masyarakat luas tampaknya belum memperhatikan masalah itu secara serius. Banyak alasan melatarbelakangi kenyataan itu, padahal pada saat ini dan kapan pun serta siapa saja tidak bisa meloloskan diri dari ancaman yang memiliki dampak sosial dan ekonomi ini. Masalah ini bertambah serius mengingat sasaran penyebaran HIV secara eksponensial. Saat ini di Indonesia diperkirakan terdapat 90 ribu lebih kasus HIV/AIDS yang tidak terdeteksi dan ada 280 lebih penderita HIV/AIDS menurut data Ditjen PPM-PLP Departemen Kesehatan per Maret 1995.

Apa dan bagaimana persoalan AIDS di Indonesia, serta strategi penanggulangan seperti apa yang dilakukan pemerintah untuk menghadapi masalah tersebut? Tim Liputan Prisma yaitu – Harry Wibowo dan Teguh Budiono – melakukan suatu wawancara dengan Dr. Suyono Yahya MPH – Sekretaris Menko Kesra, Dr. H.M. Abidnego – Dirjen Pemberantasan Penyakit Menular dan Penyehatan Lingkungan Permukiman, Departemen Kesehatan dan dr. Nafsiab Mboi pemerhati masalah AIDS yang juga anggota DPR-RI. Redaksi

Berpegang pada Trilogi Strategi Nasional

Suyono Yahya Sekretaris Menteri Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat.

Prisma (P): Dalam Strategi Nasional Penanggulangan AIDS dikatakan bahwa program tersebut merupakan gerakan yang dinamis dan melibatkan seluruh lapisan masyarakat. Bagaimana rincian strategi itu?

Suyono Yahya (SY): Program penganggulangan AIDS ini merupakan suatu gerakan karena dilakukan oleh semua aktor yang terlibat untuk mencegah dan menanggulangi AIDS. Mulai dari individu, keluarga, masyarakat, dengan berbagai diversifikasinya, dari kelompok ekonomi sampai kelompok profesi. Untuk mencegah AIDS, semua harus ikut dalam kegiatan ini sesuai dengan kepentingannya masing-masing. Karena itu disebut gerakan.

Pertama, gerakan ini menyadarkan kita agar peduli. Setelah peduli kita bisa berbuat untuk diri sendiri dan untuk orang lain. Kedua, gerakan ini menyebarluaskan. Ketiga, kita harus selalu waspada. Jadi gerakan ini tidak berhenti namun perlu dilakukan kegiatan berulang-ulang.

Kenapa? Karena selalau tumbuh generasi baru. Generasi saya sudah memahami masalah AIDS; generasi mendatang mungkin tidak memahami. Itulah gerakan. Sampai masalah AIDS nanti bisa dihapuskan dari muka bumi. Jadi ada universalitas yang terlibat dan berkelanjutan. Kehidupan kita ini pun merupakan gerakan dalam arti kesemestaan.

P: Dalam Strategi Nasional Penanggulangan HIV/AIDS kelihatan sekali kesungguhan pemerintah menghadapi ancaman HIV/AIDS. Sejauh mana strategi tersebut dijabarkan di dalam program kerja yang lebih konkret di tingkat Pusat?

SY: Kegiatan yang baru ini berproses, seperti juga proses pembangunan. Pertama, kita membangun tekad. Sebab menanggulangi AIDS sama dengan pembangunan. Karena yang diancam itu adalah manusia, sebagai subyek dan obyek pembangunan. Membangun untuk mengamankan orang yang dibangun. Untuk ini diperlukan tekad. Setelah ada tekad, diperlukan kebijakan. Hal ini disebut strategi nasional. Tekad itu adalah kemauan pemerintah untuk menangani masalah AIDS dengan membentuk Komisi Nasional. Setelah ada tekad diikuti kebijakan, lalu ada strategi, dilanjutkan program, kemudian pelaksanaan program itu sendiri. Jadi semuanya membutuhkan suatu proses. Namun dalam melakukan hal ini sebetulnya tidak dari nol, sebab telah didahului proses sebelumnya.

Strategi itu tertuang dalam rencana lima tahun sebagai pedoman dalam perencanaan semua kegiatan yang bersifat lintas sektoral. Untuk itu melalui program pembangunan 1995/96 secara lebih terintegrasi, masing-masing departemen mempunyai kegiatan untuk menanggulangi AIDS dengan fungsi dan tugasnya. Di samping itu, diharapkan semua masyarakat dengan dukungan departemen-departemen juga bisa bergerak sendiri. Kalau kita perhatikan secara nasional, gencarnya gerakan ini sebetulnya baru bisa kelihatan dengan nyata pada tahun 1995.

Tetapi tahun-tahun yang lalu pada setiap hari AIDS internasional, hanya beberapa LSM saja yang meributkannya. Sekarang pemerintah sudah bertekad: masyarakat harus didorong sehingga Hari AIDS sedunia diperingati di Indonesia, Menko Kesra, Menteri Kesehatan, dan Menteri Kependudukan berbicara dalam peringatan Hari AIDS ini; apakah AIDS ini, bagaimana cara penanggulangannya. Masyarakat sudah melakukan banyak kegiatan akhir-akhir ini. Dulu peringatan itu biasanya dilakukan oleh satu departemen saja.

“Soal AIDS, Tanggungjawab Kita Bersama”

Nafsiab Mboi Anggota DPR-RI

Prisma (P): Apa pendapat Ibu tentang Strategi Nasional Penanggulangan AIDS yang memiliki tiga pendekatan?

Nafsiah Mboi (N Mb): Memang ada tiga pendekatan utama dalam strategi penanggulangan HIV/AIDS. Prinsip dasar itu adalah, pertama pelestarian good behavior, kedua, change highrisk behavior, ketiga, STDs control dengan testing-konseling. Sebenarnya di dalam strategi itu tidak ada urut-urutan mana yang paling penting dan mana yang kurang penting. Namun benar bahwa harus ada pertimbangan kekhususan daerah dalam penerapannya. Di dalam strategi itu juga dikatakan bahwa penelitian menjadi sangat penting dalam manajemen seluruh program. Sehingga pelaksanaannya jangan bantam kromo. Memang benar, bahwa di beberapa daerah STDs tinggi, namun hal itu tidak terjadi di seluruh Indonesia. Menurut beberapa penelitian di daerah yang spesifik diketahui bahwa soal HIV/AIDS di situ tinggi. Karena itu wilayah-wilayah tersebut kita sebut sebagai high priority untuk secara intensif dilakukan kegiatan.

Kita memang sadar adanya keterbatasan sumber dana dan sumber daya. Karena itu penting sekali pemilihan prioritas. Pertama pemilihan prioritas wilayah. Kedua pemilihan prioritas action atau program. Dalam pemilihan prioritas wilayah ada beberapa kriteria yang penting. Misalnya pertama, adanya seks industri yang kuat di daerah itu. Kedua, prevalensi penyakit hubungan seksual tinggi. Ketiga, terdapat banyak penduduk dewasa muda; jadi jumlah dewasa muda tinggi, dan diperkirakan adanya perilaku seksual yang cukup longgar atau terdapatnya premarital sex yang longgar. Keempat, jalur-jalur transportasi komersial, seperti jalur bus dan truk. Jadi disepakati beberapa kriteria bagi komisi daerah menetapkan prioritas daerah.

P: Apakah kebijakan nasional berbeda dengan komisi daerah?

N Mb: Kebijakan nasional masuk dalam strategi nasional umum yang berlaku untuk seluruh Indonesia. Karena itu harus bersifat umum dan fleksibel. Jangan lupa strategi nasional harus menjadi panduan untuk setiap orang apakah pemerintah atau LSM; apakah dia berada di tingkat kebijaksanaan, atau apakah dia berada di program. Kita harus berada dalam satu kesatuan yang kita jadikan panduan mengikat. Tapi dalam mengembangkan dan menyusun strategi itu kita mengembangkan framework yang sangat komprehensif.

Kita berorientasi pada manusia. Manusia sehat tetapi beresiko. Kita anggap seluruh rakyat at risk. Ada yang high risk, ada yang low risk, bahkan mungkin zero risk, namun tetap at risk. Di dalam pendekatan, titik toloknya adalah manusia sehat tapi at risk

Pada suatu waktu mungkin ada beberapa orang atau sekelompok orang ragu-ragu apakah dia sudah terkena HIV/AIDS atau belum, karena kadar risikonya lebih tinggi daripada orang lain. Katakanlah dia melakukan hubungan seks di luar nikah, atau dia mendapatkan transfusi darah yang tidak diketahui dari mana darahnya, atau dia sering mendapat suntikan dari petugas kesehatan yang dia ragukan strerilisasinya dan lain-lain. Jadi ada sekelompok orang yang risikonya lebih tinggi. Pokoknya dia ragu-ragu. Karena itu dalam bergerak kita selalu berdasarkan pada pengetahuan. Karena itu di sini ada kelompok manusia yang dipermasalahkan.

P: Pendekatan apa yang pas bagi masyarakat Indonesia?

N Mb: Kita setuju bahwa sebagian besar penduduk Indonesia masih berperilaku baik.

“Bersikap Realistis, tak usah Pesimis”

Hadi Marjanto Abidnego Direktur Jenderal Pemberantasan Penyakit Menular dan Penyehatan Lingkungan Permukiman (PPM&PLP) Departemen Kesehatan.

Prisma (P): Dalam strategi nasional, prioritas masih diletakkan terutama untuk mengubah nilai-nilai dan perilaku; bukan misalnya pada pengendalian atau pengelolaan penyakit menular seksual? Bagaimana pendekatan yang dilakukan Departemen Kesehatan?

Hadi Marjanto Abidnego (HMA): Kita tidak bisa lepaskan persoalan ini dengan dua masalah penting di dalam cara penularan AIDS. Pertama, penularan oleh hubungan seksual. Kedua, penularan dari produk darah, atau dari darah atau penggunaan jarum suntik, atau alat-alat yang dicemari virus. Ketiga dari ibu kepada bayinya, ketika ibu itu sudah terkena HIV. Di dalam kecenderungan penularan itu di seluruh dunia ternyata penularan terbanyak melalui jalur seksual. Itu bukan berarti pola transmisi lain dikecilkan artinya.

Karena itu sejak awal, Depkes sudah mengantipasinya. Termasuk penanggulangan HIV/AIDS di dalam sub-direktorat tersendiri di dalam Direktorat Penyakit Menular dan Kelamin. Kedua, dari segi kesehatan masyarakat, ada 6 kelompok kerja yang dibentuk di tahun 1988: pokja epidemiologi dan surveillance, pokja penyuluhan, pokja laboratorium, pokja manejemen dan hukum, pokja pengobatan/perawatan, kemudian pokja penelitian. Enam pokja ini melihat HIV/AIDS secara keseluruhan. Hasil kerja mereka, antara lain sudah ditulis sebuah buku pada tahun 1989, lalu penerangan AIDS untuk petugas kesehatan, rumah sakit, dan lain-lain. Pokja-pokja juga melakukan tindak lanjut, menghimpun kelompok pakar soal HIV/AIDS.

Tapi kita juga lepas dari upaya untuk mengantisipasi dan menahan transmisi melalui jalur lain. Kita mengamankan darah PMI. Ini merupakan kerjasama kita dalam rangka screening terhadap darah melalui pemeriksaan dengan reagents yang sensitifitasnya tinggi. Kalau ada yang positif, kita singkirkan darahnya, tidak dijadikan donasi.

Yang kedua, kita melakukan tindakan surveillance yang makin meningkat. Kita tidak mungkin memeriksa seluruh orang Indonesia. Tapi kita melihat kecenderungan pada masyarakat yang bisa diperhitungkan.

Kalau kita lihat lingkaramnya, masyarakat itu terdiri dari tiga kelompok: (i) kelompok orang baik-baik; (ii) kelompok yang sakit ada HIV positif ada AIDS; dan (iii) kelompok yang mungkin berperilaku beresiko tinggi. Yang terakhir ini termasuk penyuntik obat bius; yang ada hubungannya dengan transfusi darah, atau paling tidak mereka yang bekerja di sana, misalnya paramedis. Kalau tidak kita waspadai mereka bisa menjadi kelompok penular. Karena itu tidak bisa dikatakan bahwa tekannya hanya pada penyuluhan yang berbobot moral.

Walaupun demikian, kelompok pertama, yaitu kelompok orang baik-baik jangan sampai masuk ke kelompok yang beresiko. Kelompok pertamalah yang terbanyak; mereka perlu diberi banyak penyuluhan supaya mereka tahu apa HIV itu.

Bagi kelompok yang beresiko, di samping diberikan penyuluhan, juga program supaya mereka: pertama, siap hidup dengan HIV; kedua, supaya tidak menjadi sumber penular; dan ketiga, jangan sampai mereka menjadi fatalis. Mereka bisa hidup biasa tanpa menularkan dan bisa tetap melakukan beberapa kegiatan.

Anda dapat membaca versi lengkap Artikel edisi ini di LP3ES-Prisma Digital format cetak maupun e-magazine.

Untuk melakukan pemesanan dapat melalui link berikut: LP3ES-Prisma Digital

Bagikan