Tahun 2021 merupakan tahun istimewa bagi Lembaga Penelitian, Pendidikan, dan Penerangan dan Ekonomi Sosial (LP3ES) serta majalah Prisma. LP3ES didirikan pada Agustus 1971 oleh Bineksos (Perhimpunan Indonesia untuk Pembinaan Pengetahuan Ekonomi dan Sosial), sedangkan bila edisi perdana (nomor perkenalan) Prisma dihitung, maka November 1971 menjadi bulan lahir jurnal ini. Kelahiran Prisma dirayakan bertepatan dengan beredarnya “surat pemberitahuan sekaligus penawaran” yang ditulis oleh Ismid Hadad, inisator sekaligus redaktur Prisma, untuk calon pelanggan “media djurnal informasi dan pembahasan masalah2 Pembangunan Ekonomi, Perkembangan Sosial dan Perubahan2 Kulturil di Indonesia dan sekitarnja”, pada 4 Desember 1971. Dengan demikian, tahun 2021 merupakan the golden anniversary of LP3ES-Prisma.
LP3ES merayakannya dengan serangkaian seminar serta menerbitkan sejumlah buku, antara lain, tentang refleksi biografis para anggota dan mantan anggota lembaga swadaya masyarakat ini. Prisma tidak bisa mengikuti jejak seperti itu karena keterbatasan waktu dan dana. Yang bisa diperbuat oleh Prisma adalah merancang dan menerbitkan edisi khusus untuk merayakan 50 tahun keberadaannya dengan menggabungkan dua hal, yakni perayaan (celebration) yang sejalan dengan the nature of the journal. Meski sebuah perayaan, penerbitan edisi itu tetap mendukung visi dan misi Prisma sebagai “media informasi dan forum pembahasan masalah pembangunan ekonomi, perkembangan sosial, dan perubahan kultural di Indonesia dan sekitarnya.”
Dalam perjalanan selama setengah abad, Prisma telah melintasi dua era format politik yang berbeda: Orde Baru (1966-1998) dan Reformasi pasca-1998. Kendati sempat “mati suri” sejak pertengahan 1998 hingga pertengahan 2009, Prisma selalu tampil memberi insight kepada publik di negeri ini tentang beragam isu ekonomi, sosial, politik, dan budaya. Karena itu, dapat dikatakan Prisma merupakan potret dan rekam jejak pemikiran ekonomi, sosial, politik, dan kebudayaan Indonesia kontemporer.
Dalam memperingati “Setengah Abad Prisma”, Asia Research Centre-Universitas Indonesia (ARC-UI) bersama jurnal Prismamengadakan sebuah seminar hibrid secara daring dan luring pada 4 Desember 2021. Seminar dibuka oleh Direktur ARC-UI Inaya Rakhmani dengan pemantik diskusi Vedi R Hadiz(Redaktur Senior Jurnal Prismadan Guru Besar Universitas Melbourne, Australia). Sebagai Pembicara ialah Atnike Nova Sigiro(Dosen Universitas Paramadina, Jakarta), Evi Eliyanah(Dosen Universitas Negeri Malang dan Peneliti Senior ARC-UI), Fachry Ali(Mantan Kepala Program Penelitian LP3ES, 1985-1989), Ignatius Haryanto (Dosen Universitas Multimedia Nusantara), Manuel Kaisiepo(Anggota Tim Penasihat Senior Kantor Staf Presiden), dan Nasir Tamara(Cendekiawan, Dosen, dan Penulis Senior). Bosman Batubarabertindak sebagai Penanggap, sedangkan Nur Iman Subonodan Paulus Widiyantosebagai Penanya. Moderator diskusi Diatyka Widya Permata Yasih.