Dari berbagai pengalaman dan banyak kasus, peran perempuan dalam gerakan koperasi simpan pinjam sangatlah menentukan. Namun, hanya segelintir koperasi produsen tani yang diprakarsai dan didirikan oleh perempuan, kemudian bertahan, bahkan berkembang hingga produknya menembus pasar dunia. Salah satu praktik terbaik ada di dua kabupaten Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam. Kaum perempuannya telah mengukir sejarah. Melalui pengorganisasian kerja kolektif dalam status hanya sebagai para istri petani kopi, mereka mampu merebut posisi menentukan dalam membangun dan mengembangkan koperasi kopi yang seluruh pengurus dan anggotanya perempuan. Berkat kerja keras mereka, kopi Gayo Aceh yang berkualitas telah diekspor ke berbagai negara. Koperasi produsen itu merupakan satu-satunya koperasi di kawasan Asia Tenggara yang masuk dalam organisasi petani kopi perempuan internasional. Rahadi T Wiratama menghimpun bahan dari berbagai sumber dan menuliskannya dalam laporan ini.
Praktik terbaik gerakan koperasi lainnya yang patut disimak dan bisa menjadi bahan pembelajaran adalah Koperasi Akuarium Bangkit Mandiri. Itulah koperasi yang kali pertama terbentuk di Jakarta yang memiliki dan mengelola rumah susun sederhana dalam wujud badan hukum koperasi. Koperasi itu meraih berbagai penghargaan, karena terobosan warga yang terdampak penggusuran mengajukan solusi alternatif rancang arsitektur partisipatif dan kepemilikan bersama dengan “model pembangunan tanpa penggusuran.” Dewan juri mengapresiasi kerja sama antara Pemerintah Provinsi DKI Jakarta dan gerakan warga yang memperjuangkan haknya atas perumahan kota dan ekosistemnya. Mereka menilai pembentukan koperasi perumahan tersebut memberikan solusi atas peruntukan lahan perkotaan, mengurangi spekulasi tanah, serta memperkuat jaminan bermukim (legal tenure) bagi para penghuninya. Untung Widyanto melakukan reportase dan mewawancarai para pengelola koperasi bersangkutan.