PEMBANGUNAN Berkelanjutan (Sustainable Development) adalah konsep kunci yang diangkat dari laporan Komisi Dunia mengenai Lingkungan dan Pembangunan (World Commission on Environment and Development) pada tahun 1987. Untuk Indonesia konsep inipun telah masuk sebagai pedoman untuk diterapkan mulai Repelita V mendatang. Pertanyaannya, “Apakah Pembangunan Berkelanjutan itu?” Banyak definisi dan karakteristik yang diajukan untuk menjawab pertanyaan tersebut. Namun, benang merah yang bisa ditarik dari berbagai jawaban adalah semacam komitmen mengenai apa yang kita perbuat terhadap sumber alam dan lingkungan hidup sekarang, harus juga memperhitungkan akibat, dampak atau pengaruhnya terhadap kemampuan lingkungan hidup dalam menunjang kehidupan dan pembangunan yang berkelanjutan bagi generasi-generasi yang mendatang. Hal ini semakin signifikan apabila kita ingat, bahwa jumlah manusia generasi masa depan yang hendak ditunjang semakin terus meningkat. Untuk kasus Indonesia misalnya, berdasarkan perkiraan penduduknya saat ini berkisar 175 juta jiwa, dan apabila situasinya stabil dan kontinyu maka pada tahun 2040 jumlahnya akan mencapai dua kali lipat lebih yakni sekitar 370 juta jiwa.
Persoalannya sudah jelas, tahun-tahun mendatang adalah periode penuh tantangan, resiko dan bisa juga ketidakpastian. Walaupun bukan berarti di sana tidak ada harapan, kesempatan dan bahkan kehidupan yang lebih baik. Pertanyaan selanjutnya, “Mengapa konsep ini semakin mendesak untuk segera dipenuhi?” Harus diakui bahwa konsep tersebut tidak datang begitu saja secara tiba-tiba, tetapi ada beberapa proses tertentu yang menjadi latar belakangnya. Untuk menjawab pertanyaan itu memang diperlukan pengamatan situasi dan kondisi dunia pada tahun-tahun terakhir ini. Kemajuan pembangunan di berbagai negara di dunia, terutama yang diwarnai dengan pelaksanaan industrialisasi yang dipercaya sebagai agen perubahan, ternyata di samping melahirkan sisinya yang positif telah juga mengakibatkan hasil-hasil yang negatif. Pembangunan Nasional suatu negara seringkali direduksi hanya untuk mengejar pertumbuhan ekonomi. Akibatnya, segala daya upaya dikerahkan di sana demi target tersebut. Sampai di sini, persoalan yang sering dilupakan, aspek lingkungan, muncul ke permukaan. Rentetan perilaku dan praktek manusia yang kurang tepat lingkungan yang selama ini banyak dilakukan guna memacu keinginan-keinginan yang bernafaskan konsumtif, pada akhirnya telah melahirkan kerusakan-kerusakan berat di muka bumi ini. Kenaikan perusakan lapisan ozon, kenaikan suhu bumi, kerusakan hutan yang tidak terkejar oleh upaya pemulihan, pengurasan sumber-sumber alam secara besar-besaran, ekosistem yang terganggu, polusi dan juga limbah industri serta kerusakan-kerusakan lain yang sejenis, adalah beberapa contoh yang bisa diajukan sebagai bukti bahwa pembangunan yang dijalankan selama ini memang harus ditinjau kembali.
Lebih jauh dari itu, harus juga dipahami bahwa masalah pembangunan dewasa ini dan terutama menjelang abad 21, tidak bisa lagi dipahami sebagai milik satu negara sebagai individu atau kelompok negara dalam satu kawasan tertentu saja, tetapi ia telah menjadi mendunia dan merupakan bagian serta tanggung jawab semua orang atau negara. Globalisasi ekonomi, internasionalisasi kapital atau pembagian kerja internasional baru adalah gambaran mengenai derap langkah pembangunan dewasa ini dan masa-masa yang akan datang. Atas dasar itu maka strategi Pembangunan Berkelanjutan diterap sebagai paduan untuk menjadi strategi alternatif bagi pembangunan di negara-negara maju dan juga negara-negara sedang berkembang. Strategi ini, tidak sebagaimana strategi-strategi yang ada sebelumnya, mencoba menjalankan proses pembangunan dengan mengoptimalkan manfaat dari sumber alam dan sumber daya manusia, dan kemudian menyerasikan keduanya untuk kelangsungan pembangunan itu sendiri. Di sana ada aspek keberlanjutan, korelasi antara kualitas lingkungan dan kualitas hidup, pola penggunaan sumber alam yang terbatas serta kemungkinan mencari opsi yang lain, partisipasi masyarakat serta yang lebih penting kesejahteraan masyarakat saat ini dan juga bagi generasi-generasi mendatang.
Beranjak dari alur cerita di atas, maka Prisma kali ini mengambil tema Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development). Tujuannya sederhana saja, tetapi penting bagi kita semua, yakni menampilkan pemikiran-pemikiran para pakar, baik dari kalangan akademisi, swasta maupun pemerintah, yang dianggap dapat memberikan sumbangannya bagi terwujudnya penerapan model Pembangunan Berkelanjutan. Kemudian, memasyarakatkan atau mensosialisasikan penerapan model tersebut kepada kalangan yang lebih luas. Dan akhirnya, ada upaya-upaya untuk mencari model yang sesuai dan tepat bagi pembangunan di Indonesia.
Redaksi