Prisma

Sedia Payung

Ada tiga komoditi strategis yang belakangan ini jadi bahan perbincangan dunia: pangan, minyak dan senjata. Ketiganya membawa cuaca mendung. Dalam hal pangan, diramalkan separuh umat manusia akan dirundung kekurangan yang berkepanjangan hingga akhir abad ini. Panen baik konon hanya akan berlangsung sampai pertengahan dasawarsa ini, itu pun hanya terjadi di belahan bumi utara, yang sebenarnya kurang membutuhkannya. Sesudah itu, diramalkan bayang-bayang Malthus akan melingkupi seluruh dunia.

Dalam format kecil, keadaan serupa terjadi di negeri kita. Panen baik dewasa ini, konon akan segera terkejar konsumsi, dan tingkat swasembada beras yang kini agak melegakan itu akan cenderung menurun lagi. Ini berarti cuaca mendung, sebab, beras sejak lama merupakan batu uji politik yang penting, di samping minyak dan Pancasila. Rakyat sangat peka terhadap gejolak harga beras, terutama sekali konsumen kota. Bagi yang berada di lapisan pendapatan terendah, beras mungkin masih terasa luks—menurut Peter Timmer—tetapi goncangan harga beras niscaya akan merembet ke bahan pangan lainnya. Jadi, beras bisa jadi bahan isyu bersama.

Minyak kadang-kadang juga bisa jadi bahan isyu bersama, terutama bila mengenai bahan bakar yang dikonsumsi di dalam negeri. Karenanya benar-benar tak gampang mencabut subsidi di sini. Tetapi ia memiliki bobot yang lebih strategis lagi dalam hal devisa dan pendapatan negara. Adapun Pancasila, sangat strategis sebagai ukuran siapa kawan siapa bukan, siapa yang setia dan siapa yang tidak.

Maka beras, minyak dan Pancasila benar-benar merupakan batu uji politik yang strategis. Ketiganya menentukan stabilitas, ketiganya malahan menentukan pasang surut suatu rezim. Karena itu pula ketiganya senantiasa ditempatkan dalam pengendalian negara.

Kebolehan Orde Baru mungkin terletak pada pengawasan efektif atas batu uji politik itu. Ada BULOG, ada Pertamina, tetapi ada juga Kopkamtib dan BP7. Sebaliknya, Orde Lama dahulu, entah karena enggan, sembrono atau barangkali nasib sial, tak sanggup bertahan menghadapi batu uji politik itu. Walaupun sudah ada Pertamina, harga minyak sangat rendah waktu itu (OPEC belum menang perang). Akibatnya, devisa kita sangat mepet. Dan ketika rakyat butuh beras, sementara produksi dalam negeri tak mencukupi, tak cukup dana untuk menambalnya dengan impor. Maka rakyat pun dianjurkan makan jagung.

Jagad perlambangan juga kacau-balau waktu itu. Ada Pancasila, tetapi ada juga Manipol-Usdek, Nasakom, dan di atas semuanya itu ada revolusi. Ada panitia pembina jiwa revolusioner, tetapi tak ada BP7, sedangkan Kopkamtib justeru mempercepat kejatuhannya. Orang bisa mengatakan mereka lengah, atau lemah, atau tak bijak menjaga pertimbangan, tetapi yang terang rezim itu jatuh.

Beberapa ramalan mengatakan bahwa cuaca tampaknya mendung di akhir dasawarsa ini, khususnya untuk beras dan minyak. Tentu saja tak ada orang yang berani membuat ramalan tentang Pancasila. Tetapi kita, seperti kata pepatah, rasanya perlu bersedia payung.

Anda dapat membaca versi lengkap Artikel edisi ini di LP3ES-Prisma Digital format cetak maupun e-magazine.

Untuk melakukan pemesanan dapat melalui link berikut: LP3ES-Prisma Digital

Bagikan