Ketika anak Indonesia belajar sejarah, kepadanya oleh gurunya diberitahukan bahwa tanah airnya yang elok, kaya dan permai, menggiurkan kaum kolonialis yang datang untuk menjajah. Pada saat si anak belajar ilmu bumi, kepadanya oleh gurunya disampaikan pesan bahwa negerinya, zamrud di khatulistiwa adalah tanah subur, penuh dengan karunia yang melimpah.
Bertahun-tahun, selama di sekolah, si anak memperoleh pengetahuan serupa. Selama membentuk sikap anak didiknya, untuk bertahun-tahun pula, sang guru mengulang-ulang pesan yang sama. Tetapi si anak tak pernah bertanya, sampai di manakah cerita bapak dan ibu gurunya menjadi sama dengan kenyataan yang sesungguhnya.
***
Negeri yang penuh karunia itu sebetulnya adalah bagian dunia yang untuk dua sampai tiga dasawarsa mendatang masih berada dalam periode pemecahan masalah pokok “kualitas hidup manusia”: menyangkut pangan, sandang, pemukiman, kesehatan, dan pendidikan. Negeri dengan alam yang kaya itu berada dalam golongan negara sedang berkembang, yang oleh Club of Rome pada musim rontok 1971, diperkirakan akan sulit meningkatkan standar hidup rakyatnya.
Peningkatan kesejahteraan penduduk yang berpendapatan rendah ini, sekarang sering diperbincangkan, karena tidak pada posisi beruntung dalam tatanan kelembagaan internasional yang ada. Tatanan kelembagaan internasional itu tidak “bermurah hati” bagi perubahan kualitas hidup manusia yang harus diperbaiki ini. Ia hingga kini hanya mencerminkan kelangsungan “kekuasaan” negara-negara maju. Orang pun berbicara tentang pola perkembangan sistem internasional untuk masa sekarang yang tidak menguntungkan usaha pemerataan, pemberantasan kemiskinan dan penanggulangan pengangguran. Dalam hal ini, pesan bapak dan ibu guru dalam membentuk citra tentang negeri dan bangsa bagi muridnya di sekolah, tidak seperti kenyataan yang ada.
Dalam “Japan-Indonesian Seminar on Nation-building and Cultural Exchange”, 1973 di Jakarta, terdengar kritik bahwa di Indonesia kurang sekali terlihat kemauan untuk bekerja keras. Kritik tersebut datang dari pihak Jepang sendiri, bangsa yang dikenal punya semangat kerja tinggi dan dapat menjadikan negerinya sebagai “penguasa” dalam perekonomian dunia. Dalam hubungan dengan kemauan kerja keras itu, orang pun berbincang tentang usaha-usaha yang berjalan lambat dan usaha yang macet sama sekali. Orang juga melihat kepada para pelaksananya yang tidak bekerja sebagaimana mestinya. Sebagaimana lazimnya, orang tak lupa berbicara tentang feodalisme, sikap orang Indonesia dalam melihat pekerjaan, peranan di tengah masyarakat, sikap terhadap kehidupan sebagai suatu keseluruhan, serta akibat-akibat buruk masa penjajahan.
Ketika melihat masa sekarang dan memperkirakan hari-hari mendatang, kita memang tidak mungkin lepas dari akibat-akibat yang dilahirkan perkembangan dunia secara keseluruhan. Di dalamnya mungkin tersangkut pembentukan citra tentang negara dan bangsa, oleh guru terhadap muridnya di sekolah, citra yang lebih dekat pada kenyataan sesungguhnya, dan hari esok yang menunggunya. Mungkin di situ juga ada masalah kerja keras, serta nilai-nilai masyarakat yang sering kita sesali. Namun, ia belumlah segala-galanya. Di sini tentu tersangkut ketegasan sikap pemerintah dalam memotivasi masyarakat untuk bekerja dengan kesadaran tentang masa depan. Program pembangunan ekonomi negara-negara sedang berkembang, menurut Presiden Bank Dunia Robert McNamara, 1973, tidak disertai oleh ketegasan dalam tindakan-tindakan. Ketegasan dalam tindakan mungkin bisa berupa penciptaan rasa keadilan, dan agaknya juga menyangkut perbuatan para pemimpin yang dapat dijadikan teladan.