Prisma

Picture of Masmimar Mangiang

Masmimar Mangiang

lahir di Payakumbuh, Sumatera Barat, 10 September 1949, adalah Anggota Dewan Redaksi Majalah Prisma (sejak 1977), pernah kuliah di Fakultas Hukum, Universitas Indonesia (tidak selesai), dan kini sebagai Staf Pengajar Tidak Tetap pada Departemen Ilmu Komunikasi Massa, Fakultas Ilmu-ilmu Sosial, Universitas Indonesia. Menjadi wartawan Harian Kami, (1971-1972), wartawan harian Pedoman (1973-1974), staf siaran Radio Pendidikan Pemuda Radio Arief Rahman Hakim-LP3ES (1974-1976), Redaktur Pelaksana suratkabar kampus UI Salemba (1976). Ikut menyusun buku Pemilihan Umum 1971 (Jakarta: LPKP 1972), anggota Ikatan Pers Mahasiswa Indonesia (1971-1976), dan tahun 1976 mengikuti latihan’ jurnalistik pada International Institute for Journalism, Berlin Barat.

Dari Sebuah Diskusi

UNTUK anak-anak muda yang garang, yang mencoret-coret tembok kota dengan kata-kata dan kalimat protes — yang mereka sebut sebagai suara

Memberikan Peran pada Koperasi

Kenyataan di lapangan menunjukkan bahwa paham koperasi masih belum tumbuh dan hidup — dari bawah — sebagai suatu semangat yang

Korupsi

Setiap bentuk korupsi, kata orang, adalah pengkhianatan terhadap kepercayaan. Oleh karena itu, dalam usaha pemberantasan korupsi, setidak-tidaknya terlibat keinginan untuk

Kemerdekaan

Kurang dari enam bulan setelah beredarnya Common Sense, pamflet Thomas Paine setebal 47 halaman yang terbit 10 Januari 1776, kemerdekaan

Massa Periferal

Ketika serat kelopak batang pisang kering untuk pengikat digantikan tali plastik buatan pabrik pada pertengahan 1960-an, orang berjumpa dengan masalah

Kesadaran tentang Masa Depan

Ketika anak Indonesia belajar sejarah, kepadanya oleh gurunya diberitahukan bahwa tanah airnya yang elok, kaya dan permai, menggiurkan kaum kolonialis

Wanita

Gerakan Pembebasan Wanita, pembawa tuntutan persamaan hak serta kesempatan dengan pria yang pernah melanda dunia Barat, meneriakkan “jerit peperangan” terhadap

Sumo dan Zainun

Karena bangkrut, Sumo (nama ini bukan nama sebenarnya dari yang bersangkutan), pembuat tempe asal Pekalongan menjual tempat usahanya di Cibubur,

Upaya Menegakkan Keadilan

Lima orang penjelajah gua hampir mati terjebak dalam perjalanannya dan baru dapat diselamatkan setelah terkurung lebih dari tiga minggu. Sepuluh