Prisma

Sumo dan Zainun

Karena bangkrut, Sumo (nama ini bukan nama sebenarnya dari yang bersangkutan), pembuat tempe asal Pekalongan menjual tempat usahanya di Cibubur, Jakarta Timur, kepada toke Tionghoa penyalur kacang kedelai di Pasar Lama, Jatinegara. Dia pindah ke Klender, juga di Jakarta Timur. Ke bekas tempatnya di Cibubur tadi, oleh sang toke dimasukkan seorang “anak buah”, pembuat tahu dari Tasikmalaya. Kedudukannya di sana berada dalam ikatan perjanjian sewa-menyewa dengan penyediaan kedelai oleh sang toke. Usaha seperti itu—dan banyak jumlahnya—menurut Sumo adalah usaha yang sulit bagi pembuat tahu dan tempe. Sebagian besar laba hanya akan jatuh ke tangan pemilik tempat yang sekaligus berfungsi sebagai penyalur bahan baku. Sumo ogah dengan cara yang demikian. Dan karena itu pula, walaupun dengan “merangkak”, dia tak mau menyewa tempat dan memperoleh bahan baku dari sang toke dalam ikatan hutang.

Hasil Sumo tak terlalu buruk. Di Klender dia bangun pelan-pelan. Empat tahun kemudian, ketika dia datang dengan scooter ke Pasar Lama, sang toke menyapanya ramah dengan sebutan “Boss.” Sumo ditawari mengambil kedelai lebih dari yang dia perlukan. “You boleh ambil berapapun kamu mau. Pembayaran soal belakangan, setelah jadi uang.” Sumo menolak. Pemberian piutang toke Tionghoa itu dia hindari.

***

Zainun (juga bukan nama sesungguhnya) dari Pariaman, Sumatera Barat, tersingkir dari Pasar Jatinegara, karena tak kuat menebus toko baru ketika pasar itu dibangun menjadi pertokoan berlantai tiga tahun 1970 yang silam. Jika dalam pasar yang lama dia adalah pemilik toko, khusus menjual sandal jepit, setelah pasar menjadi baru Zainun menjadi penyewa toko di luar pasar bertingkat itu. Dagangannya tetap sandal jepit. Tetapi di suatu hari dalam tahun 1970 itu dia berangan-angan mendirikan industri rumah, yang akan dibuatnya juga sandal jepit dan peralatan serba sederhana mulai dibeli. Zainun pun berproduksi. Tetapi apa yang dia temui?

Tiga bulan Zainun memotong lembaran karet bahan sandal jepit dengan sangat berhati-hati buat menghasilkan jumlah yang maksimal. Selama tiga bulan itu dia berkeliling mencari bahan dengan harga yang paling rendah yang mungkin dia dapatkan. Tiga bulan pula dia menekan ongkos produksinya sekecil mungkin. Tetapi pada akhirnya, biaya pembuatan sepasang sandal jepit Zainun tetap lebih mahal Rp 12,50 dibandingkan dengan harga dari penyalur Tionghoa di Pasar Pagi. Zainun tak lagi melihat apa yang harus dilakukannya. Dia tutup industri rumahnya dan kembali menjadi “sambungan tangan” penyalur Tionghoa kenalan lamanya.

***

Sumo dan Zainun tidak membangun citranya tentang kekuatan ekonomi non-pribumi lewat sejarah nasional berabad-abad. Kedua orang ini tidak pernah mendengar cerita intelektual tentang Belanda yang dahulu tak memberi kesempatan bagi golongan Tionghoa untuk menjadi bestuursambtenaar ataupun leger officier, serta melarang mereka membeli tanah dan menjadikannya kelompok yang berkembang dalam dagang dan industri setingkat di bawah Belanda. Sumo dan Zainun tidak membangun citranya dengan menyaksikan arsitektur Cina yang menonjol di pusat-pusat kota yang tua. Kalau Sumo dan Zainun cemburu, dia bukan sekedar terbawa oleh kebiasaan sinis orang yang menyebut pagar rumah yang terlalu tinggi dengan julukan “pagar rumah Cina”, lambang sifat yang eksklusif. Dan jika Sumo dan Zainun iri, bukan pula karena gotun, captun, jigo, gocap, cepek, gopek, ceceng dan ceban di pasar lebih populer daripada lima perak, sepuluh rupiah, duapuluh lima, lima puluh, seratus, limaratus, seribu dan sepuluh ribu.

Bagi Sumo dan Zainun paling tidak, kekuasaan keturunan Tionghoa dalam jalur ekonomi bukan lagi sekedar mitos. Sumo telah menyaksikan kawan-kawannya tetap kerdil dalam tangan penyalur hasil bumi. Zainun sudah menemukan pintu yang tertutup rapat baginya ketika berkeliling mencari karet bahan sandal jepit dan gagal mendapatkan harga yang memungkinkan produksinya dapat bersaing dengan sandal dari Pasar Pagi.

Anda dapat membaca versi lengkap Artikel edisi ini di LP3ES-Prisma Digital format cetak maupun e-magazine.

Untuk melakukan pemesanan dapat melalui link berikut: LP3ES-Prisma Digital

Bagikan