UNTUK anak-anak muda yang garang, yang mencoret-coret tembok kota dengan kata-kata dan kalimat protes — yang mereka sebut sebagai suara hati nurani rakyat — dalam demonstrasi menumbangkan Orde Lama pada 1966, penyair Taufiq Ismail menulis puisi, berjudul ”Mimbar”:
Dari mimbar ini telah dibicarakan
Pikiran-pikiran dunia
Suara-suara kebebasan
Tanpa ketakutan
Dari mimbar ini diputar lagi
Sejarah kemanusiaan
Pengembangan teknologi
Tanpa ketakutan
Di kampus ini
Telah dipahatkan
Kemerdekaan
Segala despot
Tidak bisa merobohkan
Mimbar kami
Suara-suara kebebasan pada masa syair itu ditulis terdengar tanpa ketakutan. Kemerdekaan sudah dipahatkan. Dan, mimbar itu tak akan bisa dirobohkan. Taufiq pada masa itu adalah bagian dari mereka yang memiliki, tegak dan berseru di ”mimbar” itu. Kata-kata dalam syairnya itu terasa tegar, tiada gentar.
Kemudian, penghuni kampus berganti, dan generasi demi generasi pun berlalu. Dan dalam masa-masa berikutnya memang tiada mimbar yang roboh. Rasa memiliki kebebasan dan ”pahatan kemerdekaan” pun barangkali belumlah hilang. Tetapi, mimbar yang ada adalah mimbar yang sunyi, hening, mimbar yang bagaikan tertidur atau seperti sibuk dan asyik dengan dirinya sendiri. Itulah yang terjadi dalam satu dasawarsa belakangan ini di dunia kampus yang pernah menyuarakan kebebasan tanpa ketakutan dan yang sudah memahatkan kemerdekaan itu.
Ketika di negeri ini terjadi kecenderungan sentralisasi kekuasaan, gerakan mahasiswa pernah menjadi satu-satunya oposisi yang ampuh dalam masyarakat. Ketika kepercayaan untuk menyalurkan aspirasi begitu kecil lewat organisasi politik yang ada, mahasiswa dan generasi muda pada umumnya dipandang sebagai pahlawan yang kehadirannya — agaknya — pernah diharapkan. Ia, kata orang memiliki ciri sebagai pendobrak, tuntutannya disertai dengan retorik-retorik yang radikal, romantik, dengan appeal kerakyatan.
Tapi, sesudah berakhirnya gelombang protes kaum muda 1977/1978, segala ciri kaum muda yang bisa jadi pembebar itu, tinggal hanya dikenang. Boleh jadi memang tidak ada yang mengharapkan adanya aksi protes, tapi mungkin ada kerinduan mendengarkan pendapat kaum muda. Hanya saja, siapa pun yang merasakan kerinduan seperti itu haruslah sadar bahwa kalau mahasiswa dan kampusnya dipandang sebagai suatu alternatif, perannya barangkali tak selamanya dapat diharapkan. Yang terlihat selama ini adalah, mereka yang pernah memahatkan kemerdekaan itu, pemilik kebebasan yang disuarakan tanpa ketakutan itu, bagaimanapun, tidaklah bergerak dalam ruang yang tiada berbatas.
Batas-batas — yang terkadang penuh risiko — itulah yang tampaknya membuat mimbar mereka jadi sunyi. Kesunyian mimbar itu pula yang sekarang melahirkan kecenderungan baru di luar kampus. Di sana berlangsung banyak diskusi, di banyak tempat dan memilih banyak tema dan diselenggarakan dalam banyak kelompok. Merekalah yang hadir dalam diskusi di Prisma pada akhir April dan awal Mei silam. Dari diskusi itu ada catatan.
Kesan yang amat menonjol dalam pertemuan ini ialah; kegairahan berdiskusi dalam berbagai kelompok studi dalam beberapa tahun belakangan ini telah melahirkan kecakapan dalam berbicara, menelurkan pendekar-pendekar dalam forum. Teknik dan gaya berdebat yang diperlihatkan anak-anak muda itu sekarang tergolong apik, tetapi kecenderungan berteori begitu tinggi. Sayangnya, dari banyak pendapat yang diperdengarkan, banyak yang terasa sebagai pengulangan: pengulangan untuk apa yang sudah disuarakan oleh angkatan sebelumnya, dan pengulangan apa yang biasa menjadi bahan pembicaraan cendekiawan.
Mungkin masalah lama memang belum selesai dan karena itu harus ada pengulangan. Tetapi, boleh jadi pula pengenalan terhadap realitas yang ada agak miskin, sehingga gagasan segar tak kunjung tergugah. Ada kesan, ketenangan kampus selama hampir sepuluh tahun belakangan ini telah melahirkan tradisi di kalangan mahasiswa dan generasi muda pada umumnya untuk asyik mengaji teori, menghafal dan menampilkannya kembali di dalam forum sebagai alasan dalam berargumen. Terkadang ia terjebak oleh konsep-konsep besar yang serba abstrak, dan begitu sulit dicerna, apalagi dipahami oleh mereka yang agak awam. Ada banyak “kecurigaan”. Persepsi dan cara memandang masalah pun amat beragam.
Mungkin inilah produk dari satu dasawarsa kebijaksanaan pembinaan kampus dan generasi muda. Hampir tak ada lagi gejolak anak-anak muda melakukan aksi unjuk-rasa melontarkan gagasan-gagasan korektif ataupun menuntut perbaikan keadaan. Jika di situ terasa ada ketenangan, bagi pengendali stabilitas, keadaan seperti ini barangkali dirasakan sebagai suatu keuntungan. Namun berbarengan dengan itu agaknya bisa lahir pula sikap tidak peduli lingkungan, atau masa bodoh pada keadaan sekitar. Memang ada banyak juga kelompok yang sadar dan prihatin, tapi mereka seperti kehilangan pengenalan yang jelas akan realita yang ada, dan dibiarkan terus tumbuh dalam dunia abstraksi. Padahal pada mereka itulah, republik ini akan bertumpu, 15-20 tahun mendatang. Ketika menyaksikan kenyataan seperti itu, kita teringat pada sebait syair yang ditulis W.S. Rendra buat kaum muda yang resah di kampusnya pada tahun 1977 dan 1978 silam. “Kesadaran” tulis Rendra, “adalah matahari. Kesabaran adalah bumi. Keberanian menjadi cakrawala. Dan perjuangan adalah pelaksanaan kata-kata.” Rasanya, puisi ini sekarang masih bisa berbicara pada kita.