Prisma

Kritik dan Komentar

Wahid Dihinggapi Kuman . . .?

Prisma bulan Maret memang sungguh menarik. Tidak hanya karena “boss” saya diwawancarai, melainkan karena materi pokok ada arti sungguh-sungguh. Namun, dalam Penafsiran Teoritis yang ditulis Abdurrahman Wahid et al., khususnya kerangka Teoritis (hal. 28) ada beberapa ungkapan yang menyebabkan saya bertanya, adakah ini ditulis oleh seorang kyai dan beberapa pastor (atau eks pastor), ataukah oleh seorang penganut Marxisme?

Pada akhir fasal tersebut dikatakan: “Dalam kesatuan struktural ini ekonomi merupakan bagian yang infrastruktur terhadap sistem-sistem lainnya, karena secara dasariah menentukan corak dan sifat sistem-sistem lainnya sebagai superstruktur.” Memang, penulis mempertahankan suatu lobang ke luar dengan menambah: “. . . tanpa mengingkari adanya kemungkinan bahwa, bagian-bagian suprastruktural memberikan pengaruh terhadap sistem kehidupan ekonomi.” Ini membingungkan. Mana yang dipertahankan oleh para penulis, kalimat pertama atau kedua. Saya mengharapkan kemantapan, sehingga jalur pikiran tim penulis nampak dengan jelas. Sudah terpengaruh oleh kuman Marxisme atau tidak? Jangan-jangan secara diam-diam para pembaca disuguhi doktrin Marxis. Atas perhatian Anda saya ucapkan banyak terima kasih.M. BUDI SARJONO d/a Majalah BASIS Jl. Abu Bakar Ali 14 Yogyakarta

Beri Tempat Bagi Kami yang Kecil

Setelah membaca nomor pertama tahun 1982, terasa ada udara baru yang ditiupkan Prisma kepada pembacanya. Menurut pendahuluan dari rubrik baru yang dimuat dinomor tersebut, Prisma akan memuat secara tetap rubrik Tokoh, di mana akan ditampilkan tulisan yang agak mendalam tentang buah pikirannya, perwatakannya, dan arti kehadirannya di tengah-tengah masyarakat.

Setelah menyimak tulisan tentang tokoh Mohammad Hatta, maka agak jelaslah gambaran mengenai pribadi, buah pikiran dan peran yang telah ia sumbangkan kepada bangsanya. Tetapi sayang, tulisan itu sedikit sekali mengungkapkan latar belakang kehidupan sang tokoh tersebut dalam lingkungan keluarganya, baik semasa dia masih dalam lingkungan orangtuanya di Sumatera, mau pun semasa dia bertindak sebagai orang tua di Jakarta. Demikian pula dengan latar belakang yang mendasari pilihannya pada pergerakan yang bersifat nasional, yang pada waktu itu menimbulkan perdebatan cukup seru melalui media massa dengan teman seperjuangannya yang juga berasal dari Sumatera.

Selain itu sedikit komentar untuk redaksi yaitu, apakah dengan ditampilkannya rubrik baru ini akan secara tetap pula menggeser rubrik lama yang cukup lama pula ditampilkan Prisma? Secara pribadi sangat kami sayangkan kalau rubrik DIALOG itu dihapus, karena melalui rubrik itu kadang-kadang Prisma tampilkan dialog dengan “kalangan besar” yang mempunyai suara kecil, yaitu dialog dengan rakyat sehubungan topik yang Prisma tampilkan. Misalnya No. 10 Tahun 1979 dan No. 12 Tahun 1981. Naah kalau sekarang rubrik itu sudah tidak ada, maka makin berkuranglah suara yang kecil itu di tengah hiruk pikuk berbagai suara yang menggaung di kalangan terbesar itu.

Untuk itu bagaimana kalau selain rubrik baru yang sudah dan akan ditampilkan Prisma secara tetap itu, tetapi tidak menggeser rubrik lama seperti dialog. Tentunya akan lebih afdhol lagi jika pada beberapa dialog ditampilkan pula suara “si kecil yang besar” itu, atau suara para praktisi di desa-desa yang secara langsung mengalami, merasakan dan menganalisa kejadian dan aspirasi yang ada dan berkembang di kalangan luas dari yang bersuara kecil itu, di samping suara para akademisi dan teorisi yang biasanya ditampilkan Prisma.

Ada lagi satu suara dari kami yang kecil ini. Yaitu bagaimana kalau Prisma mulai nomor depan menggunakan nomor halaman yang bersambung dengan nomor pertama tahun 1982 ini. Sebab, pembaca akan lebih mudah mencari sumber bacaan dari Prisma melalui bundel-bundelnya. Barangkali sudah bukan lagi rahasia jika Prisma telah dijadikan sumber referensi dalam berbagai penulisan makalah, paper, skripsi atau bahkan disertasi barangkali.

Ini hanya sekedar suara sikecil yang kurang dapat membuat tulisan dan konsep-konsep yang aduhai. Tapi akhirnya kami ucapkan selamat pada Prisma dalam menempuh arus pemikiran masa kini yang cukup deras pusarannya. MOEHAMMAD MOECHROM SMA. Muhammadiyah I Gresik Jl KH. Kholil 73 Gresik, Jatim

Anda dapat membaca versi lengkap Artikel edisi ini di LP3ES-Prisma Digital format cetak maupun e-magazine.

Untuk melakukan pemesanan dapat melalui link berikut: LP3ES-Prisma Digital

Bagikan