Prisma

Dialog: Menggali Konsep Lama

Pengantar

Masalah pendidikan di Indonesia dewasa ini, nampaknya masih berputar-putar pada masalah lama, yakni proporsi besarnya kebutuhan masyarakat—terutama kelompok penduduk usia muda—terhadap pendidikan formal yang ternyata masih harus berhadapan dengan terbatasnya daya tampung lembaga-lembaga pendidikan yang ada. Kehadiran lembaga-lembaga pendidikan swasta di satu pihak memang mampu mengurangi beban daya tampung lembaga pendidikan negeri, tetapi pada pihak lain memunculkan sejumlah masalah baru yang menyangkut peningkatan mutu dan adanya kecenderungan “komersialisasi” pendidikan. Di samping itu munculnya berbagai peraturan pemerintah yang mengatur lembaga-lembaga pendidikan swasta juga menimbulkan berbagai persepsi yang berbeda di kalangan penyelenggara pendidikan swasta. Oleh karena itu, Prisma mengundang para pengasuh lembaga-lembaga pendidikan swasta seperti Perguruan Taman Siswa Ki Suratman, dan Muhammadiyah H.S. Prodjokusumo. Sedangkan untuk mendapatkan tanggapan mengenai perguruan tinggi swasta, kita hadirkan Rektor Universitas Kristen Indonesia (UKI) di Jakarta, yaitu Doktor S.C. Nainggolan MPH. Redaksi

Perjalanan Sekolah Taman Siswa, Ki Suratman, Ketua Umum Perguruan Taman Siswa

Kelahiran Taman Siswa terilhami oleh kondisi sosial waktu itu, yaitu kondisi masyarakat yang terjajah oleh Belanda. Ki Hajar Dewantara—pendiri Taman Siswa—setelah dibuang ke negeri Belanda dan berkesempatan mempelajari sistem pendidikan di sana, sepulangnya ke Indonesia melihat keadaan pendidikan yang jauh berbeda dengan di negeri Belanda, timbullah gagasan untuk membangun sistem pendidikan serupa yang berwatak budaya Indonesia; maka pada tahun 1922 lahirlah Taman Siswa.

Dunia Pendidikan Kita Gelap, S. C. Nainggolan, Rektor Universitas Kristen Indonesia (UKI)

Tanya: Di tingkat sekolah menengah, sekolah-sekolah swasta tertentu dianggap sebagai sekolah favorit, karena mutu pendidikannya yang diandalkan. Namun pada tingkat perguruan tinggi, nampaknya kefavoritan ini diambil alih oleh perguruan tinggi negeri. Menurut Anda, apa yang menjadi faktor penyebabnya?

Jawaban: Pertama-tama faktor biaya. Perguruan tinggi negeri lebih murah. Di samping itu perguruan tinggi negeri berusia lebih tua, ….

Muhammadiyah: Pertumbuhan Tingkat Bawah, H.S. Prodjokusumo, Ketua Majelis Pendidikan dan Pengajaran Muhammadiyah

Muhammadiyah—kalau dengan istilah sekarang—adalah suatu lembaga keagamaan, berdiri sejak tanggal 18 November 1912. Sebelum Perang Dunia ke–I, K.H. Ahmad Dahlan pendiri Muhammadiyah itu bermukim selama beberapa tahun di Mekah untuk belajar agama. Sebagai ulama pada masanya, beliau tidak mengalami pendidikan formal, tapi menjadi orang santri pondok, kemudian beberapa tahun bermukim di Mekah. Pada waktu itu—sebagaimana diketahui—di negara-negara Arab juga sudah ada yang dinamakan kebangkitan, kebangkitan ummat Islam, yang juga sering disebut aliran pembaharuan. Boleh dikatakan waktu itu Masjidil Haram merupakan pesantren yang tertinggi, dan KHA Dahlan studi di sana. Tetapi di samping itu beliau rupanya banyak membaca majalah-majalah, tulisan-tulisan yang dari Mesir, yaitu tulisan-tulisan atau majalah-majalah yang diterbitkan oleh para ulama pembaharuan. Juga tafsir Qur’annya Muhammad Abduh. Inilah yang mempengaruhi KHA Dahlan. Di samping KHA Dahlan, sebetulnya banyak juga pemuda Indonesia yang waktu itu belajar di sana, seperti KH Hasyim Asy’ari, yang kemudian dikenal sebagai pendiri NU. Hanya KHA Dahlan mendirikan Muhammadiyah lebih dahulu (1912) sedang KH Hasyim Asy’ari baru pada tahun 1926 mendirikan NU. Jadi beda 14 tahun. Sebelum mendirikan Muhammadiyah, pada tahun 1911 KHA Dahlan sudah mendirikan sekolah yang diberi nama Madrasah Muhammadiyah. Bedanya dengan pengajian-pengajian di surau atau di pesantren, murid-murid KHA Dahlan ini juga diajar ilmu pengetahuan umum, seperti tulis latin, ilmu ukur hitung, membaca dan sebagainya, persis seperti yang diajarkan di sekolah negeri. Jadi sebelum Muhammadiyah itu resmi berdiri, KHA Dahlan sudah lebih dulu mendirikan sekolah, yang nantinya menjadi ‘bayinya’ sekolah Muhammadiyah.

Anda dapat membaca versi lengkap Artikel edisi ini di LP3ES-Prisma Digital format cetak maupun e-magazine.

Untuk melakukan pemesanan dapat melalui link berikut: LP3ES-Prisma Digital

Bagikan