Merosotnya Peranan Pribumi
Tulisan Onghokham mengenai sejarah Indonesia selalu menarik diikuti. Namun dalam tulisan tentang “Merosotnya Peranan Pribumi”, Prisma Nomor 8, Agustus 1983 ada beberapa postulat yang perlu diuji kebenarannya. Mundurnya jiwa wiraswasta (wirausaha) pribumi Jawa menurut Onghokham di antaranya disebabkan oleh ketidaksenangan Mataram (Islam; penulis) terhadap para penguasa pesisir utara Jawa “Trauma Mataram adalah jatuhnya Majapahit oleh negara Demak yang dilukiskan sebagai “Hilangnya Sirna ing Bumi …”.
Lukisan candra sengkala berbunyi “Sirna Ilang Kertaning Bumi” Sirna = 0, Ilang = 0, Kerta = 4, Bumi = 1. Tahun 1400 Saka/Jawa, menurut tahun Masehi adalah tahun 1478. Buku sejarah untuk SMP karangan Drs. La Rope yang disetujui Perwakilan Departemen P & K Jawa Timur menyebutkan: “Kekuasaan Majapahit sudah sangat merosot, sehingga seorang raja dari Kediri bernama Girindrawardhana dengan mudah mengusir raja keturunan Raden Wijaya (1478)” (halaman 62).
Kesimpulannya: yang menghancurleburkan Majapahit hingga hilang tak berbekas bukan Demak tetapi Girindrawardhana. Sejarah Singasari mengungkapkan Ken Arok menghancurkan Kertajaya, kemudian Jayakatwang membalas dengan menghancurkan Kertanegara. Raden Wijaya dengan bantuan angkatan perang Khu Bilai Khan (Mongol) menghancurkan Jayakatwang. Suatu vendetta antar generasi (persis dengan “Pralaya”-nya kerajaan Medang Prabu Dharmawangsa).
Dari buku tersebut pada halaman yang sama disebutkan “Dalam tahun 1518, Majapahit diduduki oleh Demak, yaitu kerajaan Islam pertama di Jawa. Dengan demikian berakhirlah riwayat kerajaan Majapahit.” Pertanyaannya: sejauh mana eksistensi Majapahit sebagai suatu negara pada tahun 1518? Siapa yang memerintah, di mana ibu kotanya, dan berapa luas daerah kekuasaannya?
Saya tidak sependapat dengan Onghokham tentang trauma Demak—Majapahit yang menghinggapi Mataram. Saya cenderung berpendapat hal itu disebabkan karena kegagalan Adipati Unus dari Demak yang berusaha menghancurkan Portugis di Malaka (tahun 1513).
Kegagalan ini menghancurkan potensi kemaritiman Demak (baca: Jawa), sehingga kegiatan para saudagar Jawa di dunia niaga sangat berkurang. Kejatuhan perdagangan Jawa (meminjam kalimat Onghokham) itu menjadi paripurna setelah kegagalan Sultan Agung menghancurkan V.O.C. di Batavia. Sepeninggal Sultan Agung, raja-raja Mataram yang menjadi penggantinya disibukkan dengan pertikaian antara keluarga untuk memperebutkan tahta. Dari sejarah, kita ketahui bahwa V.O.C. selalu mengail di air keruh dengan membantu salah satu pihak yang bersengketa. Mulailah proses pembrindilan Mataram oleh V.O.C. Di mulai dari mana? Jelas dari pesisir.
Mataram tidak perlu punya daerah pesisir. Di satu pihak Mataram “terpaksa” berorientasi agraris, (sama sekali berbeda dengan splendid isolation-nya Jepang) dan di pihak lain tamatlah sudah ceritera tentang saudagar Jawa yang mengarungi lautan (seperti ayah Prana Citra-nya Roro Mendut). Orang Jawa jadi petani. Hilangnya semangat wiraswasta, padamlah keberanian untuk mengarungi gelombang samudera. Hidup yang baik adalah sabar lan nerimo sambil menyenandungkan tembang paman-paman tani utun.
Tiga abad yang lampau telah terjadi mental switch di kalangan orang Jawa. Mentalitas ini hidup terus sampai masa kini. Karenanya salah satu syarat yang mutlak perlu untuk masa pembangunan ini adalah adanya mental reswitch, khususnya bagi orang Jawa, agar dapat menemukan kembali miliknya yang paling berharga yakni semangat wiraswasta, inovatif, bertanggungjawab dan berani mengambil risiko untuk kemajuan dan suksesnya pembangunan.
Kembali kepada sejarah didapatkan keterangan bahwa pada tahun 1518 terdapat dua peristiwa sekaligus, yakni: Demak menduduki Majapahit, dan Adipati Unus naik tahta sebagai raja Demak yang memerintah sampai tahun 1521.
Jadi besar kemungkinan “peperangan” antara Demak dan Majapahit terjadi pada akhir pemerintahan Raden Patah atau mungkin justeru pada awal pemerintahan Adipati Unus.
Suatu hal yang menarik untuk dionceki (dikupas, red) lebih lanjut. Jika kesimpulan itu benar maka suka atau tidak kita harus mengatakan bahwa legenda Demak—Majapahit, atau juga dikenal dengan legenda Raden Patah—Brawijaya, terakhir dengan Sabdo Palon dan Nayagenggongnya, tidak berdasar dan ambruk. Dengan demikian “ganjelan hati” yang merasuki kejawen terhadap Islam yang sempat hidup sampai saat ini tidak perlu terjadi.
Mungkin harus diteliti “sangkan paran dumadi”-nya yang lebih maton. Kalau kita tidak punya dasar tentang sesuatu pendapat, pandangan ataupun kepercayaan maka kita akan mengarang suatu dongeng dan kita lontarkan kembali ke dalam bak sejarah. Karena bangsa kita belum tumbuh, ditambah lagi budaya pencatatan sejarah di kalangan bangsa kita belum tumbuh, ditambah lagi dengan jumlah penduduk yang melek huruf pada saat itu sama langkanya dengan harimau Jawa pada saat ini, maka dongeng yang berbau politik tersebut telah menjadi sejarah. Kasturi Sukiadi Damokali 16 I, Surabaya.
Jawaban Prijono untuk Iskandar
Sehubungan dengan tanggapan saudara Iskandar Siahaan dalam Prisma no. 10/XII, Oktober 1983, hal. 93, terhadap tulisan saya berjudul “MNC Jepang dan Perusahaan Negara di Asia Tenggara” dalam Prisma no. 7/XII, Juli 1983, hal. 40, maka ini saya berikan penjelasan sebagai berikut:
- Pembukaan dan penutup naskah tersebut memang sama, sebab direction of problem antara Jepang dan ASEAN selama 10 tahun terakhir ini masih tetap sama, dan masih berkisar dari yang “itu” ke “itu” juga.
- Kedua naskah tersebut, yaitu artikel saya yang dimuat dalam Prisma no. 11/1981 dan Prisma no. 7/1983, memang merupakan rangkaian studi tentang MNC Jepang di negara-negara ASEAN. Naskah pertama adalah semacam laporan awal, tinjauan literatur, sedangkan naskah kedua berupa laporan akhir, sehingga sudah tentu ada pengulangan.
- Kedua naskah tersebut saya serahkan Redaksi Prisma dalam waktu yang berbeda tentunya. Naskah aslinya, dalam bahasa Inggeris. Kebijaksanaan penerbitan, penerjemahan dan editing, sepenuhnya berada pada Redaksi Prisma, yang memang berwenang untuk itu.
Jadi sama sekali tidak ada maksud penulis untuk sekedar membuat istilah yang berbeda-beda; sebab yang satunya memang memakai bahasa asing, yang kemudian diterjemahkan oleh redaksi, sedang satunya lagi memang saya tulis dalam bahasa Indonesia.
Demikian harap maklum, dan atas perhatiannya saya ucapkan banyak terimakasih. Prijono Tjiptoherijanto