Prisma

Biaya Pembangunan: Mengurangi Ketergantungan pada Minyak

Pengantar

Minyak dan gas bumi memiliki fungsi sebagai sumber devisa dan penerimaan negara serta energi komersial. Selama ini biaya pembangunan terus bergantung pada sektor migas. Begitu dominannya sektor ini bagi biaya pembangunan tapi justeru merupakan titik lemah dalam struktur penerimaan negara. Turunnya harga minyak baru-baru ini telah merusak dan mengacaukan proyeksi ekonomi Indonesia tahun 2000 mendatang. Para perancang ekonomi terlalu optimistis melihat potensi minyak, sehingga luput meramalkan kemungkinan turunnya harga. Lantas apa usaha-usaha kita untuk memperbaiki kesalahan proyeksi itu dan bagaimana kita membiayai pembangunan nasional yang tingkat pertumbuhannya pun telah menurun?

Prospek ekonomi Indonesia di masa depan, menurut M. Arsyad Anwar, peneliti senior Lembaga Penelitian Ekonomi Masyarakat Universitas Indonesia, Jakarta, sangat tergantung pada usaha peningkatan penerimaan negara dari sektor nonmigas, seperti pajak dan tabungan masyarakat. Di samping perbaikan aparat perpajakan, penggalian potensi pajak yang besar ini sangat tergantung pada kemauan politik dan upaya penegakan hukum.

Sementara itu, ketergantungan biaya pembangunan pada sektor migas, menurut Herman Johannes, guru besar Universitas Gajah Mada, Yogyakarta akan membuat kita mudah terumbang-ambing. Kendati sampai tahun 2000 cadangan minyak masih cukup, sudah saatnya kita memanfaatkan energi alternatif, mengingat negara-negara lain kini telah masuk dalam era pasca minyak.

Dialog Prisma dengan dua tokoh ini membicarakan peranan migas bagi biaya pembangunan, kemungkinan penggalian potensi pajak dan tabungan masyarakat, serta upaya-upaya mencari energi alternatif pada masa masa mendatang. Redaksi.

Proyeksi Tergelincir Oli, M. Arsyad Anwar, Peneliti Senior, Fak. Ekonomi, Universitas Indonesia

Tanya: Pada tahun 1975, beberapa ahli ekonomi menyusun proyeksi Indonesia tahun 2000. Kesan kita waktu itu proyeksi tersebut begitu membesarkan hati. Sebutlah sangat optimistis. Sekedar mengutip angka, dengan asumsi rendah saja, waktu itu diproyeksikan laju pertumbuhan ekonomi kita antara tahun 1980-1990 akan mencapai 6,5 persen. Proyeksi yang dianggap lebih realistis (realisel) adalah 7 persen, sedangkan yang diharapkan (desirable) adalah 7,5 persen. Sekarang kita memasuki suasana yang penuh keprihatinan. Tiba-tiba kita mendengar laju pertumbuhan selama Pelita IV tidak akan lebih dari 5 persen. Bagaimana tanggapan anda tentang hal ini?

Selama Matahari Bersinar Tak Ada Krisis Energi, Herman Johannes, Guru Besar Universitas Gadjah Mada.

Peranan minyak dan gas bumi untuk pembangunan Indonesia pada tahun 2000 mendatang masih tetap sangat besar. Sumber minyak kita bahkan akan tetap tersedia sampai jauh lebih dari tahun 2000. Dilihat dari kacamata ini, tidak perlu ada kekhawatiran terhadap krisis energi di sektor minyak dan gas bumi (migas). Masalahnya sekarang adalah, apakah kita mampu menahan lajunya tingkat konsumsi migas yang tampaknya dari tahun ke tahun terus meningkat. Di samping itu maukah kita terus bergantung lebih banyak pada sektor migas untuk membiayai pembangunan kita. Ketergantungan biaya pembangunan lebih banyak dari sektor migas ini dalam pengertian sangat dominan tanpa mencari energi alternatif dan komoditi lainnya akan mengakibatkan kemampuan swasembada kita menjadi lemah. Kita sangat mudah terumbang-ambing. Turunnya harga minyak baru-baru ini, kemudian perang Timur Tengah dan pukulan negara mengekspor minyak di luar OPEC, sangat mengganggu perekonomian kita.

Anda dapat membaca versi lengkap Artikel edisi ini di LP3ES-Prisma Digital format cetak maupun e-magazine.

Untuk melakukan pemesanan dapat melalui link berikut: LP3ES-Prisma Digital

Bagikan