Pengantar
Nenek moyang kita meninggalkan suatu kepandaian dengan tidak pernah membayangkan, bahwa pada abad ke duapuluh, penemuan itu akan menjadi warisan turun temurun yang perlu dianalisa dengan komputer. Setelah memasuki era industri yang dipelopori jamu Jago pada tahun 1919, jamu terus disempurnakan dan disesuaikan dengan selera konsumen, serta dipasarkan ke negara lain sebagai salah satu sumber devisa non migas. Tidak terlalu digembar-gemborkan, dalam lima tahun terakhir, jamu yang sebelumnya dikenal di kratonan, tetapi juga digeluti masyarakat bawah, memiliki omzet penjualan yang cukup tinggi.
Kini, jamu sebagai obat-obatan tradisional berusaha mendampingi obat-obatan moderen. Penyempurnaan pun dilakukan di sana sini. Bila ini berhasil, jamu akan disejajarkan dengan obat moderen, dan diterima di kalangan dokter, bukan hanya diperdagangkan di rumah-rumah obat, tetapi masuk di apotik. Itu bayangan ke depan yang diharapkan bisa terwujud.
Untuk mewujudkan cita-cita itu bukan tidak mahal, sebab 33 species tanaman obat Indonesia menjadi punah. Pembudidayaan tanaman yang masih ada baru beberapa tahun ini disadari. Namun, untung belum kasep bagi species yang masih tersisa itu, kendati kita sendiri belum tahu banyak akan kekayaan flora yang ada di tengah hutan. Melihat hal itulah Prisma menurunkan Laporan Khusus seluk beluk dunia jamu di Indonesia, yang pengumpulan bahan tertulis, dan wawancara dilakukan oleh Paulus Widiyanto (Jakarta) bersama Edward Soaloon Simandjuntak (Jakarta, Bandung, Semarang, Solo, Yogyakarta, Wonogiri dan Ujungpandang). Laporan ini sendiri ditulis oleh Edward Soaloon Simandjuntak.
Redaksi.

