Persoalan tentang manusia memang merupakan persoalan lama, tapi tak kunjung habis juga. Sebab setiap peringkat perjalanannya senantiasa menimbulkan problematika sendiri. Karena itu tema abadi dari perjalanan manusia adalah mengenal kemanusiaannya sendiri—suatu kearifan lama yang biasa kita dengar dari renungan filsafat, telaah ilmiah, malahan juga ajaran agama-agama besar. Tentu bukan kebetulan jika pembangunan kita mencanangkan pembangunan manusia seutuhnya sebagai tujuan besarnya.
Namun kalau kali ini kita mengetengahkan kembali tema tentang manusia, bukanlah maksud kita sekedar mendendangkan lagu lama. Lebih dari itu, kita sebenarnya insaf bahwa pada tahap perkembangan sekarang, soal manusia dan kualitas hidup kemanusiaannya justru semakin menonjol, setelah sekian lama perhatian kita terpaut pada soal-soal sumberdaya, prasarana dan rekayasa tekno-ekonomis dalam babak-babak pertama pembangunan. Kini orang berbincang tentang tinggal landas—istilah yang jadi populer tetapi menimbulkan aneka tafsir tentang arti dan ketepatan penerapannya di sini—yang diharapkan merupakan suatu tahapan baru di mana faktor manusia jadi lebih penting lagi.
Sebutlah misalnya soal jumlah penduduk, yang pasti membawa konsekuensi terhadap mutu kehidupan yang layak bagi kemanusiaan. Soal kesempatan kerja, pengangguran dan pengangguran tersembunyi muncul di sini. Belum lagi soal-soal yang menyangkut usaha memenuhi kebutuhan fisik minimum, kesehatan, pemukiman, pendidikan, dan sebagainya. Tercakup dalam hubungan ini soal partisipasi politik dan regenerasi yang makin hari makin mendekati kulminasi.
Mungkin sudah tiba saatnya sekarang untuk menengok kembali, sejauh mana kita sudah membuat kemajuan dalam bidang-bidang ini. Barangkali memang ada kekurangan di sana-sini, lantas kita coba menelaah hal-hal apa yang mempengaruhi, dan bila mungkin kita cari daya upaya untuk meraih kemajuan yang lebih besar lagi. Tentu kita perlu berendah hati dalam hal ini, sebab bukan pretensi ilmu untuk menyajikan rumus ajaib yang siap pakai.
Dari segi keilmuan, kita kadang-kadang malahan harus menengok dulu ke tingkat yang lebih awal, seperti soal paradigma teori dan asumsi-asumsi kita sendiri dalam membahas kualitas manusia. Ada bahaya bahwa di sini kita lalu asyik dengan diri sendiri, berlamalama menyusuri liku-liku perbincangan state of the art. Malahan ada saja risiko bahwa sebenarnya kita belum memiliki peralatan keilmuan yang memadai untuk mendekati masalah itu. Namun semua itu bukanlah alasan untuk menepiskan pembahasan terhadap soal yang demikian penting itu.
Karena itulah Prisma, bekerjasama dengan Himpunan Indonesia untuk Pengembangan Ilmu-ilmu Sosial (HIPIS), kali ini mengetengahkan kembali tema yang pernah dibahas dalam Seminar Nasional IV HIPIS di Palembang pada tanggal 19-22 Maret 1984. Ini merupakan awal dari rangkaian penerbitan HIPIS selanjutnya. Tentu tidak mungkin menyajikan semua makalah, bahkan dalam bentuk ikhtisar sekalipun. Kita hanya bisa memilih sejumlah tulisan yang dari lingkup persoalan yang dibahasnya bisa mewakili aspek-aspek pokok tema tentang kualitas manusia. Dalam komposisi begini, kita berharap dapat merentangkan benang yang mengikat satu aspek dengan aspek lainnya dalam tema umum itu. Dalam hubungan ini, kita undang Ignas Kleden, yang sekalipun tak sempat hadir dalam seminar, untuk menyusun kesan dan penilaian, dengan menelaah seluruh makalah yang ada. Ini mungkin menimbulkan kontroversi; tetapi dalam perkembangan ilmu, hal itu tak dapat dihindari. Apalagi jika kita ingat kata orang bahwa ilmu bergerak dari pembenaran dan sanggahan, berdasarkan logika dan bukti-bukti nyata. Dalam semangat serupa itulah kami antarkan edisi khusus ini ke hadapan pembaca. Prisma dan HIPIS