Prisma

Dialog: Ilmu Sosial dan Realitas Indonesia

Pengantar

Himpunan Indonesia untuk Pengembangan Ilmu-ilmu Sosial (HIPIS) berdiri antara lain disebabkan oleh adanya keyakinan bahwa para ilmuwan sosial sesungguhnya dapat memberikan sumbangannya lewat disiplin mereka sendiri. Ironisnya, kata Dr. Taufik Abdullah, karena coraknya yang lebih bersifat forum, bukan organisasi kekuasaan, dan tidak pula lembaga pendidikan atau laboratorium, HIPIS lebih menonjolkan perwujudan kritik sosial dari ilmu sosial. Dengan kritik sosial yang disuarakan HIPIS, menurut Ketua HIPIS pertama—periode 1974-1979—ini, diharapkan academic enterprise akan bisa berkembang lebih baik. “Tempat memupuk academic enterprise adalah universitas,” kata Taufik Abdullah. Karena itu pula, dalam perdebatan teori, HIPIS tak memperlihatkan sumbangan yang lebih langsung.

“Dialog” kali mencoba menelusuri perkembangan pemikiran dan peranan ilmu-ilmu sosial dalam keberadaannya di tengah realitas masyarakat Indonesia. Dr. Alwi Dahlan, Ketua HIPIS periode 1984-1986 berpendapat, seperti terlihat dalam Seminar Nasional IV HIPIS di Palembang, 19-22 Maret 1984, ilmu sosial memiliki potensi dan mampu berperan dalam menghadapi pembangunan jauh ke depan. “Kualitas Manusia”, yang dipilih sebagai tema seminar tersebut, menurut dia, memiliki relevansi untuk masalah Indonesia dewasa ini. Masalah kualitas manusia tersebut baru sekarang dibicarakan, kata Alwi Dahlan, karena kini kita berada dalam tahapan memusatkan perhatian pada kemampuan lepas landas dalam segala segi. “Kita”, katanya, “ingin mendorong pemikiran lebih banyak ke masa depan.”

Sejarah pemikiran HIPIS, apa yang sudah dilakukan dan apa yang hendak diperbuat ilmu sosial di masa datang, dapat diikuti dalam “Dialog” berikut ini. Redaksi

Kenapa HIPIS?, Taufik Abdullah, Ketua HIPIS pertama, selama dua periode (1974—1979).

Sejak berdiri, Himpunan Indonesia untuk Pengembangan Ilmu-ilmu Sosial (HIPIS) lebih merupakan suatu forum komunikasi daripada suatu organisasi profesi yang ketat. Yang diajak ikut serta dalam HIPIS adalah mereka yang langsung terlibat dalam pengembangan ilmu-ilmu sosial, yaitu para pengajar, peneliti, dan penulis/pemikir. Keanggotaannya tidaklah berdasarkan jenis ijazah yang dimiliki.

Pemikiran untuk Masa Depan, M. Alwi Dahlan, Ketua Panitia Pengarah Seminar HIPIS IV di Palembang, Ketua Umum HIPIS periode 1984 — 1986.

Dalam menelaah persiapan seminar dan kongres Himpunan Indonesia untuk Pengembangan Ilmu-ilmu Sosial (HIPIS) di Palembang, perlu dilihat keadaan yang meliputi organisasi dan suasana ilmuwan sosial pada saat itu. HIPIS pada waktu itu baru saja melewati masa “tidur” yang cukup lama sejak seminar dan kongres terakhir di Malang tahun 1979. Beberapa usaha dilakukan untuk mencoba menggerakkan organisasi dan mengadakan kongres, yang seharusnya dilakukan tahun 1981. Namun selalu tidak berhasil karena berbagai hal: Pertama, kepemimpinan yang kosong sejak meninggalnya Profesor Harsoyo beberapa bulan setelah menjabat Ketua Umum; kedua, stigma yang hinggap di kalangan banyak ilmuwan sosial, yang merasa seolah-olah ruang gerak ilmuwan dan ilmu sosial dibatasi.

Anda dapat membaca versi lengkap Artikel edisi ini di LP3ES-Prisma Digital format cetak maupun e-magazine.

Untuk melakukan pemesanan dapat melalui link berikut: LP3ES-Prisma Digital

Bagikan