Prisma

Perbenturan dengan Barat: Reaksi dan Akibat

Pengantar

Kekuatan Barat yang tersebar di Asia Tenggara menjelma menjadi perusahaan-perusahaan dagang yang bersifat unit politik, pada masa pengertian tentang perang, dagang dan petualangan sangat kabur. Lewat keadaan seperti itulah kehadiran Barat menjelma menjadi kolonialisme, kata Sejarawan Dr. Onghokham. Timbullah berbagai perubahan, yang secara sosial budaya, membawa impak yang dalam. Pada abad XVIII, hidup suatu peradaban yang menurut Onghokham merupakan respons kaum pribumi terhadap kekalahan.

Respons rakyat terhadap keadaan itu, antara lain adalah apa yang oleh ahli sejarah dari Fakultas Sastra Universitas Indonesia ini, disebut sebagai kesadaran kelas primitif: dalam bentuk kepercayaan kepada jimat, kesaktian dan ramalan-ramalan, serta bentuk-bentuk kepanikan. Begitu juga dengan bentuk militansi kesadaran kelas primitif. Menurut Ong, itu bukanlah akibat ketidakrasionalan para petani, tapi ada sebab-sebab sosialnya. Ini, katanya, menunjukkan bahwa masyarakat Indonesia, bukanlah nrimo pada keadaan yang berkembang.

Ekonom, Dr. Thee Kian-wie, membicarakan penetrasi kekuatan Barat tersebut dalam hubungannya dengan akibat-akibat yang muncul di sektor perekonomian. Peneliti ahli dari Lembaga Ekonomi dan Kemasyarakatan Nasional-Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (Leknas-LIPI) itu berpendapat, buat menelaah keadaan ekonomi Indonesia sekarang, kita dapat mencari latarbelakangnya pada abad XIX, yakni masa di mana pengaruh Barat tersebut menjadi sangat menentukan. Thee Kian-wie juga menguraikan bagaimana mundurnya Indonesia dari arena perdagangan dunia, terpukulnya pelayaran, tak munculnya golongan kapitalis pribumi yang dapat menggerakkan perekonomian Indonesia secara otonom, industrialisasi dan dualisme ekonomi Indonesia. Menurut dia, keadaan sekarang sebenarnya tak banyak berbeda dengan struktur yang diciptakan kolonialisme Belanda tempo hari. Di situ tersangkut masalah peranan atau fungsi perantara dan juga ketidak-siapan Indonesia dalam penyediaan tenaga ahli.

“Dialog” kali ini, menampilkan pula budayawan Prof. Sutan Takdir Alisjahbana, yang melihat bahwa kebudayaan Indonesia yang terlalu menekankan nilai estetis, tidak dihubungkan dengan rasio, telah membuat Indonesia lemah ketika harus berhadapan dengan Barat. Dia melihat, orientasi estetis itu harus diubah menjadi orientasi progresif. Jalan satu-satunya, menurut Sutan Takdir, adalah pendidikan di segala bidang.Sasterawan ini banyak menekankan pembicaraannya pada keadaan masa kini. Kita, katanya, sekarang berada dalam sebuah Achsenzeit yang lebih besar daripada Achsenzeit yang melahirkan tokoh-tokoh seperti Plato. “Saya”, kata Sutan Takdir, “penganut teori kebudayaan yang sifatnya universal.” Dia menyayangkan bahwa kita masih berpikir dalam lingkup batas-batas negara, padahal dunia, masyarakat dan kebudayaan baru sudah tumbuh—yang menuntut agar kebudayaan Indonesia juga dapat mendukungnya. Ketiga tokoh tersebut, berbicara mulai dari perbenturan pertama dengan kebudayaan Barat, sampai pada tuntutan yang muncul pada masa sekarang.  Redaksi

Reaksi terhadap Kekalahan, Onghokham, Pengajar Ilmu Sejarah di Fakultas Sastera, Universitas Indonesia

Pada awal kedatangan orang Barat ke Indonesia, orang Indonesia sudah pernah mendengar nama mereka. Mereka disebut Peringgi atau Farang. Kata kedua itu tentunya berasal dari kata France. Mereka diwartakan oleh orang-orang Arab Persia dan Timur Tengah. Di antara orang Barat sendiri ada satu-dua yang sebenarnya pedagang-pedagang besar yang pernah tinggal di Eropa, di Banten, Aceh ataupun Malaka, dan kota-kota lain di Asia Tenggara. Mereka tinggal di kota-kota Asia Tenggara dan bertindak sebagai penghubung. Bagi orang Barat sendiri, Asia Tenggara bukanlah tempat yang begitu asing berkat pendekatan Marco Polo dan juga Kublai Khan, serta penakluk-penakluk dari Mongolia. Dunia Barat dan Asia Tenggara dengan begitu sebenarnya sudah tidak saling merasa asing lagi.

Kolonialisme dan Ekonomi Indonesia, Thee Kian-wie, Ahli Peneliti pada Lembaga Ekonomi dan Kemasyarakatan Nasional – Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LEKNAS – LIPI), Jakarta.

Masa yang paling menentukan untuk pengaruh Barat terhadap perekonomian Indonesia ialah abad XIX. Waktu itulah penetrasi Barat dimulai, walaupun sebelum tahun 1800 penetrasi tersebut memang sudah memperlihatkan pengaruh negatif di beberapa tempat di Indonesia. Misalnya, Pulau Banda. Pada masa Jan Pieterszoon Coen—dengan hongitochten—ekonomi pertanian di sana dihancurkan karena melanggar monopoli Vereenigde Oost Indische Compagnie (VOC). Lambat laun pihak Barat makin kuat, dan kerajaan-kerajaan di Indonesia—di Jawa misalnya—kian lemah. Kemudian, pada masa pemerintahan Hindia Belanda, setelah kepergian Inggeris tahun 1818, pengaruh Barat itu mulai sangat menentukan. Artinya, latarbelakang ekonomi Indonesia setelah kemerdekaan bisa dicari pada abad XIX itu. Latarbelakang dualisme ekonomi sekarang, sebagai contoh, dapat kita lihat lewat keadaan pada abad XIX tersebut.

Terlalu Halus, Itulah Kelemahan Kita, Sutan Takdir Alisjahbana, Rektor Universitas Nasional, Jakarta.

Kebudayaan renaissance tidak berkembang di negeri kita. Sebelum kita bertemu dengan kebudayaan Barat, kita dikuasai oleh kebudayaan Hindu yang lekat sekali dengan spiritualisme. Pada masyarakat kita, kebudayaan estetika terlalu kuat. Semua soal selalu dihubungkan dengan nilai estetika atau kehalusan. Ia tidak dihubungkan dengan rasio. Karena demikian halusnya, kita tak dapat bergerak lagi. Kita tak dapat melangkahi adat-istiadat. Itulah kelemahan kita yang membuat kita tertinggal dibandingkan dengan bangsa lain, walaupun sudah melakukan kontak dengan kebudayaan Barat tersebut.

Terlalu Halus, Itulah Kelemahan Kita, Sutan Takdir Alisjahbana, Rektor Universitas Nasional, Jakarta.

Kebudayaan renaissance tidak berkembang di negeri kita. Sebelum kita bertemu dengan kebudayaan Barat, kita dikuasai oleh kebudayaan Hindu yang lekat sekali dengan spiritualisme. Pada masyarakat kita, kebudayaan estetika terlalu kuat. Semua soal selalu dihubungkan dengan nilai estetika atau kehalusan. Ia tidak dihubungkan dengan rasio. Karena demikian halusnya, kita tak dapat bergerak lagi. Kita tak dapat melangkahi adat-istiadat. Itulah kelemahan kita yang membuat kita tertinggal dibandingkan dengan bangsa lain, walaupun sudah melakukan kontak dengan kebudayaan Barat tersebut.

Anda dapat membaca versi lengkap Artikel edisi ini di LP3ES-Prisma Digital format cetak maupun e-magazine.

Untuk melakukan pemesanan dapat melalui link berikut: LP3ES-Prisma Digital

Bagikan