Prisma

Marhaban

Lirik azan yang menyambut angkatan santri yang baru memang tak pernah berubah. Namun seringkali terdengar variasi baru dalam nada, irama dan tekanannya. Dan sangat boleh jadi, angkatan yang baru itu pun kemudian akan memperdengarkan variasinya sendiri pula. Kurun yang berbeda memang sering membawa semangat dan pengalaman lain, yang membuat angkatan baru itu lantas memperagakan corak dan ragam yang lain pula. Gambaran tentang sebuah angkatan yang lain ini agaknya memang memenuhi ruang model experiential Huntington, yang dikembangkan dari kreasi Mannheim, tetapi justeru relevan karena arus perubahan yang begitu pesat di sini.

Tetapi yang kita hadapi bukanlah suatu keterputusan total. Bahkan untuk menyebut telah terjadinya suatu major discontinuity pun masih terasa serampangan. Sebab, betapapun lain nada, irama dan tekanannya, tetapi lirik yang dikandungnya masih berasal dari azan yang sama. Angkatan yang baru itu memang masih memikul misi religius yang trans-historis dan transsosial—untuk meminjam ungkapan Arkoun—tetapi menghadapi situasi yang berbeda, mereka lantas memberikan jawaban yang berbeda pula. Tentu saja mereka masih membawa memori kolektif dari angkatan sebelumnya, bahkan ikut dalam pasang dan surutnya, namun kemudian mereka menyusun kearifan sendiri dari kegagalan dan keberhasilannya. Dalam proses ini, sikap kritis terhadap angkatan sebelumnya memang tak bisa dielakkan. Dalam bentuknya yang runcing, mungkin malahan terasa nada yang menghujat, ketika babak baru yang harus mereka mainkan ternyata masih menghadapi bercak-bercak trauma yang tertinggal dari babak-babak sebelumnya.

Sedikitnya ada tiga luka lama yang masih membekas pada angkatan ini. Yang pertama adalah goresan yang terjadi oleh perbenturan tradisi dan modernisme, yang selama setengah abad telah menimbulkan peradangan pada urat nadi umat. Yang kedua adalah trauma yang timbul dalam persaingan menciptakan ikatan komunitas pasca kolonial, antara ikatan keagamaan dan kebangsaan. Trauma ini menjadi berlarut-larut bukan saja karena tingginya suhu politics of meaning menurut perspektif Geertz, tetapi juga karena soal-soal praktis percaturan kekuasaan. Dan yang ketiga adalah skisma kultural santri-abangan, yang sebagian merupakan akibat usaha pemurnian, tetapi yang kemudian justeru menempatkan umat pada batas lingkaran kauman yang sempit. Rumitnya lagi, ketika goresan ini justeru saling berpaut, atau malahan merupakan tiga dimensi saja—religius, politik, dan kultural—dari persoalan lama yang belum ketemu jawabnya.

Bercak-bercak yang masih tertinggal dari perbenturan tradisi dan modernisme tampaknya lebih cepat disembuhkan, terutama karena kesepakatan tentang soal-soal yang lebih mendasar, dan adanya penghargaan baru terhadap khasanah lama tanpa menutup kemungkinan untuk keragaman pemahaman dan penafsiran baru. Tetapi bekas-bekas trauma politik lebih sulit dihapus, barangkali karena penyempitan lorong politik itu sendiri. Stigma sebagai kaum fanatik setiap kali bisa menghantui. Dan kecemasan terhadap tuduhan warisan itu memang sulit diredakan, sebab di lorong politik itu tak dikenal asas ne bis in idem. Maka, wajarlah jika terdapat nada pembelaan yang berapi-api, karena dirasakan tuduhan itu telah diulang bertubi-tubi.

Adapun skisma kultural santri-abangan, tampaknya memerlukan terapi kebesaran hati. Angkatan ini sedang merambah citra Islam yang inklusif, yang lebih pradah, dan membiarkan jalan menuju penyempurnaan—udkhulu fissilmi kaaffah—ditempuh dalam proses kesadaran tanpa hardikan dan hura-hura. Dengan begitu, sebenarnya angkatan ini sedang berusaha keluar dari kungkungan nasib sebagai minoritas politik menuju mayoritas budaya yang lebih besar.

Walhasil, ketika medan permainan tak lagi terperangkap dalam medan politik, maka persoalannya bukan lagi bagaimana berbagi porsi dan menagih janji. Dalam medan budaya yang lebih besar, persoalannya adalah bagaimana terus mencipta dan memperkaya. Di sini, mungkin sekali telah banyak teman yang menanti. Sesudah pancang-pancang yang sempit dan mengungkung dicabuti, mereka bisa bersama-sama merambah jalan menuju ufuk Indonesia yang baru—di mana usaha mewujudkan daulat rakyat yang hakiki dan melepaskan diri dari belenggu kepapaan dan ketimpangan sosial sudah menunggu terlalu lama. Jalan ke ufuk itu sudah pasti curam dan berliku-liku, barangkali malahan memerlukan beberapa angkatan lagi untuk sampai ke ujung. Tetapi suatu angkatan tidak dilahirkan untuk menyudahi. Seperti bait-bait azan dari menara, mereka justeru datang untuk memulai.

Anda dapat membaca versi lengkap Artikel edisi ini di LP3ES-Prisma Digital format cetak maupun e-magazine.

Untuk melakukan pemesanan dapat melalui link berikut: LP3ES-Prisma Digital

Bagikan