Prisma

Dialog: Kekhawatiran dan Keragu-raguan Tahun 1985

Pengantar

Keraguan dan kekhawatiran sementara kalangan terhadap prospek pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun 1985 muncul di tengah masyarakat tatkala penilaian atas situasi perekonomian tahun-tahun sebelumnya menghasilkan kesimpulan yang memprihatinkan. Pesimisme ini makin lebih besar lagi bila perhitungan kuantitatif diikutsertakan. Kemandegan sektor industri tahun 1984, yang sebenarnya ditetapkan sebagai tulang punggung peningkatan ekspor dan pertumbuhan ekonomi nasional, pada tahun 1985 masih akan berlanjut terus, atau dengan kata lain, sektor industri belum akan berkembang sebagaimana harapan kita. Kalau pada tahun-tahun sebelum resesi dunia sektor industri berada di peringkat pertama dalam sumbangannya bagi pertumbuhan ekonomi, maka pada dua tahun yang lewat sektor ini bergeser ke peringkat kelima.

Situasi pasar dalam negeri dan luar negeri yang lesu memang berpengaruh besar bagi perekonomian Indonesia secara keseluruhan. Daya beli masyarakat yang rendah mengakibatkan pabrik-pabrik tidak mungkin bekerja secara penuh. Perputaran arus barang dan arus uang bergerak tidak wajar. Barang-barang menumpuk di gudang dan perusahaan harus mengeluarkan biaya ekstra untuk penyimpanannya. Rentetan dampak lemahnya arus barang ini adalah kemacetan pembayaran cicilan bunga bank, sebagaimana disinyalir Prof. Dr. J. Panglaykim, seorang pengamat ekonomi dan Presiden Direktur PT Sejahtera Bank Umum, Jakarta. Saat ini banyak bank besar menempatkan pegawainya di perusahaan-perusahaan yang lalai mengembalikan kredit sebesar Rp 10 milyar ke atas, suatu tugas tambahan yang merepotkan lembaga-lembaga keuangan.

Situasi perdagangan luar negeri juga belum pulih dari pukulan hebat resesi dunia. Ekspor minyak dan gas bumi Indonesia malah makin melorot dari tahun ke tahun akibat krisis harga patokan OPEC. Organisasi negara-negara penekspor minyak ini pun retak, sementara saingan dari negara-negara non OPEC makin gencar. Konsumsi minyak di dunia kian kendur setelah negara-negara maju berhasil menemukan energi pengganti. Perbaikan di bidang teknologi bidang mesin dan kendaraan pun telah berhasil menghemat pemakaian bahan bakar sampai 38 persen. Berdasarkan kenyataan inilah Dr. Juwono Sudarsono, pengajar pada Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia, Jakarta, memprihatinkan prospek minyak pada tahun 1985/86. Juwono juga berbicara tentang konsolidasi Jepang-AS serta dampak politik dan ekonominya bagi wilayah Asia Pasifik.

Ekspor non minyak dan gas bumi yang diharapkan dapat berperan lebih baik setelah dikeluarkannya Paket Ekspor Januari 1982, ternyata berkembang masih jauh dari harapan. Prof. Dr. Suhadi Mangkusuwondo, Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan, Departemen Perdagangan, menilai basis komoditi ekspor non migas terlalu sempit, pasarnya terbatas, dan harganya kurang kompetitif. Efisiensi dan produktivitas pabrikan masih rendah sehingga harga jual barang tinggi. Banyak alasan dikemukakan tentang high cost ini, mulai dari biaya produksi, sewa gudang, jasa dan masalah angkutan Prof. Dr. J. Panglaykim, menunjuk lebih pada faktor non ekonomi sebagai penyebab kenapa harga barang ekspor Indonesia lebih mahal dibandingkan dengan negara lain, sehingga pemecahannya pun harus secara struktural.

Injeksi uang ke pasar dalam negeri berupa kenaikan gaji pegawai dan pencairan dana Sisa Anggaran Pembangunan (SIAP) tahun 1985 tampaknya baru akan meramaikan perdagangan di tingkat kaki lima, belum sampai mempercepat perputaran roda mesin industri. Investasi baru tidak akan tampak, karena para pengusaha akan lebih menitikberatkan kegiatan pada upaya pemutaran secara penuh dari kapasitas terpasang.

“Dialog” Prisma kali ini melihat prospek ekonomi Indonesia tahun 1985, setelah memberikan penilaian terhadap situasi ekonomi tahun-tahun sebelumnya. Tapi kita bukannya tanpa potensi untuk keluar dari kesulitan. Redaksi

Prospek yang Cukup Meragukan, Suhadi Mangkusuwondo, Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan, Departemen Perdagangan.

Resesi yang melanda dunia pada tahun 1980-an mengakibatkan pengadaan devisa Indonesia menjadi sulit. Neraca pembayaran tahun 1982 misalnya, mengalami defisit sampai US $ 4,2 milyar. Keadaan ini diperburuk lagi oleh larinya modal (outflow capital) ke luar negeri pada akhir 1982 hingga Maret 1983. Pada waktu itu orang-orang khawatir sekali situasi perekonomian akan bertambah parah lagi untuk tahun-tahun berikutnya.

Tak ada investasi? J. Panglaykim, Presiden Direktur PT Sejahtera Bank Umum, Jakarta.

Daya beli (daya beli) yang rendah dari masyarakat merupakan inti kelesuan bisnis nasional tahun 1984. Kelesuan ini adalah lanjutan keadaan tahun 1983. Perputaran arus barang (aliran barang) dan arus uang (aliran uang) yang merupakan dasar suatu bisnis bergerak tidak wajar. Ini berakibat langsung dan tak langsung pada sendi-sendi kehidupan ekonomi secara keseluruhan.

Stabilitas Politik dan Ekonomi Asia Tenggara, Juwono Sudarsono, ahli ilmu politik, pengajar pada Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia, Jakarta

Volume perdagangan Amerika Serikat (AS) dengan wilayah Asia Pasifik dalam setahun, kini mencapai US$ 174 milyar. Kombinasi kekuatan ekonomi AS dan Jepang sekarang sama dengan sepertiga dari Gross Domestic Product (GDP) negara-negara seluruh dunia. Lewat fakta ini, kentara sekali bahwa kombinasi AS dan Jepang di Pasifik Barat memiliki dampak langsung terhadap seluruh kehidupan ekonomi, politik, dan keamanan di Asia Pasifik.

Anda dapat membaca versi lengkap Artikel edisi ini di LP3ES-Prisma Digital format cetak maupun e-magazine.

Untuk melakukan pemesanan dapat melalui link berikut: LP3ES-Prisma Digital

Bagikan