Pengantar
Pembangunan nasional dilakukan berdasarkan tahap-tahap pertumbuhan tertentu; di dalamnya terdapat keterkaitan perkembangan antar sektor; dan lokasi pembangunan pun menyebar ke berbagai daerah dan kelompok masyarakat demi mewujudkan pemerataan pendapatan antar daerah serta antar kelompok masyarakat. Teknologi digunakan untuk memacu perputaran roda pembangunan tersebut sedangkan industrialisasi dilaksanakan agar sektor industri mampu memberikan kontribusi kekuatan ekonomi nasional sehingga dapat dijadikan landasan bagi tahap pembangunan selanjutnya, terutama pada tahap lepas landas (take off) pada Pelita VI.
Melalui perencanaan top down, pembangunan industri nasional telah mencapai taraf perkembangan positif berupa makin meningkatnya volume, mutu dan jenis industri. Di samping itu industrialisasi telah menciptakan kemampuan mengelola unit usaha yang dibarengi perluasan kesempatan kerja dan berusaha, menyebarkan kegiatan pembangunan di daerah, memperbesar jumlah tenaga terampil dan meningkatkan penguasaan teknologi. Namun di tengah kemajuan yang menggembirakan itu, menurut Menteri Perindustrian Ir. Hartarto, dunia industri nasional masih menghadapi masalah mendasar yaitu lemahnya struktur industri yang ditandai lemahnya kaitan-kaitan antar industri, serta antar sektor industri dan sektor ekonomi lainnya. Selain itu, masalah permodalan tetap menjadi hambatan, termasuk penguasaan teknologi rancang-bangun serta rekayasa. Untuk memecahkan masalah ini ditampilkan konsep program keterkaitan dan pohon industri dalam berbagai kelompok industri.
Dikaitkan dengan program pemerataan, kata Hartarto, masing-masing kelompok industri memang memiliki misi-misi khusus, mengingat teknologi yang digunakannya serta tenagakerja yang dibutuhkannya. Industri hulu memiliki misi pertumbuhan ekonomi dan penguatan struktur dengan mengandalkan teknologi maju dan sifat usaha yang padat modal. Sedangkan industri hilir — kelompok Aneka Industri — mengemban tugas pertumbuhan ekonomi dan pemerataan dengan mendasarkan usahanya pada teknologi maju dan madya, serta sifat usahanya padat modal dan padat karya. Khusus untuk kelompok industri kecil/rumahtangga, tugas pemerataan memang terletak di pundaknya, karena sifat usahanya padat karya dengan menggunakan teknologi madya dan sederhana.
Bagi Prof. Hasan Poerbo, Ketua Pusat Penelitian Lingkungan Hidup (PPLH-ITB) di Bandung, perencanaan industri “dari atas ke bawah” harus diikuti perencanaan sosial di tingkat bawah. Pertumbuhan yang terjadi di berbagai sektor seringkali dihasilkan oleh proses sosial, ekonomi dan politik, bukan karena proses alokatif dan lokasional. Industri ini di tingkat bawah harus ditumbuhkan — dan ini perlu dampingan lembaga swadaya masyarakat — sehingga sektor komunitas tidak selalu terdesak dan kalah dalam “permainan pembangunan” menghadapi sektor pemerintah dan swasta. Tumbuhnya industri di desa sebenarnya mengandung unsur pemerataan karena ia menarik kembali nilai tambah (value added) yang terlalu besar dinikmati kelompok swasta dan pemerintah untuk disebarkan ke komunitas.
Mengenai teknologi yang digunakan untuk mencapai target yang telah ditetapkan menuju tahap “lepas landas”, menurut budayawan Y.B. Mangunwijaya, sifat eksploitatif teknologi harus dicegah. Jumlah korban akibat teknologi yang tak terelakkan ini harus dikurangi. Persoalan yang dihadapi bukanlah soal teknologi tinggi, menengah atau rendah, melainkan apakah kita berteknologi secara benar atau tidak. Memang teknologi itu penting, kata Romo Mangun kepada Mursidi Musa yang membantu Prisma di Yogyakarta, tapi jangan dimutlakkan, karena teknologi bukanlah Tuhan.
“Dialog” Prisma kali ini membincangkan masalah perencanaan industri, dampak teknologi kepada masyarakat, serta pemerataan pendapatan ke berbagai daerah dikaitkan dengan misi masing-masing kelompok industri. Redaksi
Menumbuhkan Pohon Industri dan Keterkaitannya, Hartarto, Menteri Perindustrian RI.
Pembangunan sektor industri yang merupakan bagian integral dari pembangunan nasional, sejak Pelita I hingga Pelita III, telah menunjukkan hasil yang positif di samping kita masih terus menghadapi beberapa masalah fundamental yang perlu segera diatasi. Keberhasilan sektor industri pada tiga Pelita yang lalu adalah berupa peningkatan volume, mutu serta perluasan jenis industri. Pembangunan sektor industri pada kurun waktu tersebut telah menciptakan kemampuan mengelola unit-unit usaha industri yang dibarengi oleh meluasnya kesempatan usaha dan bekerja, menyebarnya industri ke daerah, meningkatnya tenagakerja terampil dan ahli, berkembangnya penguasaan teknologi dan sebagainya.

Di Tingkat Bawah, Industri Harus Ditumbuhkan, Hasan Poerbo, Guru Besar pada Institut Teknologi Bandung dan Kepala Pusat Penelitian Lingkungan Hidup (PPLH), Bandung.
Dalam permainan pembangunan (development game) di Indonesia terdapat tiga pemain atau pelaku pembangunan secara sektoral: pemerintah, swasta dan masyarakat atau komunitas. Tapi dalam bermain, kedudukan masyarakat selalu terdesak dan kalah. Ini dapat dilihat pada pengelolaan sumberdaya (manajemen sumber daya). Kita ketahui, sumberdaya utama masyarakat adalah tanah. Tapi saat ini sumberdaya milik sebagian besar masyarakat kita telah habis. Baik tanah di desa dan di pinggir kota telah semakin berkurang akibat pertambahan penduduk, industrialisasi, lokasi proyek dan lain sebagainya.

Apakah Kita Berteknologi Secara Benar atau Tidak? Y.B. Mangunwijaya, Budayawan dan Pastor paroki di Salam, Muntilan, Yogyakarta.
Secara de facto, teknologi memang menerobos berbagai jenis kebudayaan. Tapi hampir tak pernah ada suatu jenis kebudayaan yang siap menerima segala macam teknologi. Di negara-negara Barat pun orang dulu belum siap untuk itu, sebab, secara historis teknologi itu tidak datang begitu saja. Kedatangannya melalui proses panjang.
