Kurang dari enam bulan setelah beredarnya Common Sense, pamflet Thomas Paine setebal 47 halaman yang terbit 10 Januari 1776, kemerdekaan Amerika Serikat diproklamirkan. Yang menulis pernyataan kemerdekaan itu memang bukan Paine. Tetapi gagasannya telah membuat penduduk koloni di benua Amerika berpikir tentang kemerdekaan. Dia bekerja dan berhubungan erat dengan Thomas Jefferson ketika pernyataan kemerdekaan tersebut disusun. Dasar-dasar yang dikemukakan dalam Common Sense dimasukkan ke dalam manifesto yang jaya itu. Paine adalah pencetus inspirasi.
Namun, belakangan, sepulangnya ke AS setelah menetap 15 tahun di Eropa, hidup sang pencetus inspirasi dirundung prasangka dan dikepung kebencian. Karyanya, The Age of Reason, yang dia tulis untuk membendung gelombang atheisme yang memukul Perancis selama revolusi, dan mengandung kritik terhadap Perjanjian Lama, melahirkan cap baginya sebagai manusia murtad. Ketika kembali ke AS pada tahun 1802, dia tak disambut sebagai pahlawan. Di New Rochelle, New York, tempat dia menetap kemudian, Paine tak diberi hak mengikuti pemilihan umum.
Penyokong revolusi, pembela pikiran demokratis yang menulis The Rights of Man yang masyhur itu, di mata sedikit penyanjungnya tetap terlihat sebagai orang yang berhak akan gelar Penegak Kemerdekaan. Baru tahun 1945, empatpuluh lima tahun setelah Ruang Kemasyhuran Orang-orang Besar Amerika didirikan, nama Paine dimasukkan di dalamnya. Tapi selama tujuh tahun dalam akhir hidupnya di AS, bagi Paine adalah masa yang pahit: penuh penghinaan, dibenci, tak dipedulikan, melarat, dan serba tidak sehat. Ketika meninggal dalam tahun 1809, bahkan izin untuk ditempatkan di pemakaman kaum Quaker tak diberikan kepadanya.
Nasib Paine adalah nasib sebuah gagasan yang melejit jauh, meninggalkan dan kritis terhadap kenyataan pada zamannya. Barangkali itulah nasib pengibar panji-panji aspirasi. Dia terkadang membangkitkan kekhawatiran. Ada yang masygul akan apa yang ia lontarkan. Ia pada suatu saat bisa dipandang sebagai “bahaya” terhadap suatu kemapanan. Dan kemasygulan, yang agaknya timbul oleh kecemasan yang berlebihan bisa terjadi di mana-mana, seperti sejarah yang bisa terulang di mana-mana. Ide pemerdekaan politik maupun ekonomi, bisa juga dicegat oleh kecemasan seperti itu. Kadangkala kita memang tak luput dari kecemasan yang ditimbulkan ide pemerdekaan itu sendiri.
Tapi haruskah ide atau gagasan selalu dikepung kekhawatiran, sehingga harus memasygulkan barangsiapa yang melihatnya? Kecemasan seperti itu pada galibnya membuat ada nilai-nilai kemerdekaan itu sendiri yang terlepas dari genggaman. Ia, kemerdekaan itu, adalah ide kemanusiaan. Ia berpihak pada kedaulatan, dan seandainya ada nilai kemerdekaan itu yang terlepas dari genggaman, ia mungkin akan menjadi bukti keingkaran terhadap semangat kemerdekaan itu sendiri. Ia akan jadi saksi keingkaran terhadap kemanusiaan makna kemerdekaan yang hakiki.
Agaknya, setelah empatpuluh tahun menghayati kemerdekaan, cara kita memandang kemerdekaan itu harus dikembalikan pada maknanya yang hakiki ini. Pengalaman bernegara empat dasawarsa telah mengajarkan ikhwal yang telalu banyak bagi kita. Neraca tentang ini akan memperlihatkan, apa yang menjadi perolehan, dan apa yang terlepas dari genggaman. Dan jika kemerdekaan itu adalah suatu alat, mungkin di situ kita memeriksa kembali, alat seperti apa yang kita pakai dan bagaimana kita mempergunakannya, untuk sampai pada tujuan dunia baru dengan martabat kemanusiaan.
Bagaimanapun, perjalanan telah kita awali empatpuluh tahun yang lalu. Kita kini mengembara di antara dua dunia: dunia lama yang sudah kita tinggalkan, dan dunia baru yang belum kunjung rampung kita tegakkan. Dan, ketika dalam perjalanan itu, ada gagasan yang ingin mencoba mendekatkan kita pada tujuan, kiranya tak perlu ada yang merasa dimasygulkan.