Prisma

Tentang Cermin yang Suram

Masa remaja ialah kurun peralihan. Dan seperti semua peralihan, ia menimbulkan gerah dan gelisah. Dunia anak yang riang baru saja lewat, tetapi pintu ke dunia dewasa belum lagi terbuka. Dan kalau kedua dunia itu ibarat lingkaran yang jelas dan mapan, maka dunia remaja merupakan wilayah perbatasan yang mengandung ketidakpastian.

Panjang dan pendeknya berubah-ubah, sesuai dengan pasang surut masyarakatnya. Sebab, konon, dalam masyarakat yang lebih sederhana, peralihan itu pendek saja. Tidak ada apa yang disebut “masa peralihan yang penuh ketegangan” – Sturm und Drang – seperti pada masyarakat yang lebih majemuk. Pada yang terakhir ini, keremajaan jadi memanjang, sebab dunia dewasa meminta syarat yang lebih berat. Seseorang menjadi dewasa bukan saja setelah perkembangan fisik dan jiwanya mantap, tetapi juga setelah secara sosial ekonomi mampu bertanggung jawab. Seorang remaja boleh jadi siap berumah tangga secara fisik dan kejiwaan, tetapi tak boleh melakukannya, karena secara ekonomi belum dianggap mampu berdiri sendiri. Terjadi pelebaran jarak antara kematangan biologis yang berjalan normal dengan kematangan sosial. Jarak ini menjadi medan pertarungan di antara berbagai dorongan. Di sini aneka ragam eksperimen muncul, mulai dari perpanjangan masa pacaran, kawin gantung, sampai pergaulan bebas dan kumpul kebo. Maka, konflik dengan ukuran-ukuran dunia dewasa pun bermunculan, menghasilkan kesan-kesan suram, bahkan sampai kepada umpatan-kutukan.

Ini bisa makin runyam, kalau dunia dewasa sendiri mulai mendua, mulai memperkenalkan ukuran ganda. Di satu pihak kesalehan dianjur-anjurkan, tetapi di belakang layar orang tua sendiri melanggar. Maka remaja lantas tampak sebagai cermin yang menjengkelkan; tiap kali dibanting, justeru karena ia menunjukkan wajah dunia dewasa yang mulai peot dan bopengan. Masalah remaja lantas memperoleh dramatisasi, justeru karena orang dewasa cemas melihat dunianya sendiri yang digerogoti kemerosotan.

Mengendurnya wibawa kalangan dewasa dan makin kuatnya pengaruh kelompok sebaya, juga menjadi sumber kecemasan lainnya. Pada titik yang ekstrim, ini sering muncul dalam bentuk adu jagoan antar gang dan aneka jenis ugal-ugalan untuk memperagakan identitas kelompok. Dunia dewasa jadi khawatir. Padahal, ugal-ugalan antara kalangan dewasa justeru bisa lebih parah lagi. Kadang-kadang malahan berbau darah dan mesiu. Keberandalan anak muda mungkin juga bisa sangat berbahaya, tetapi seringkali lebih bersifat pameran. Barangkali mereka mau memancing perhatian atau menggapai kembali keanggotaan yang hilang. Sebab, setelah tak lagi layak menjadi anak, sementara belum lagi diterima dalam lembaga sosial yang mapan, ke mana lagi mereka harus mencari rujukan? Lantas ketika mereka tak tahan lagi dan ingin melarikan diri dari kenyataan, lewat minuman atau obat bius, dunia dewasa jadi berang. Ini dirasakan sebagai pemusnahan masa depan, dan semua liku-liku yang menuju ke arah itu dicoba dihantam.

Dunia dewasa selalu betul. Tetapi haruskah cermin dibelah, bila buruk muka sendiri? Sebab, siapakah sebenarnya yang bertanggung jawab terhadap kurun yang kini mengepung mereka? Modernisasi telah memperpanjang kurun yang menggelisahkan itu. Tetapi siapakah yang memulainya? Siapakah yang menyuruh anak-anak muda itu berlomba merebut bangku di sekolah dan perguruan tinggi, untuk kemudian bertemu dengan pintu yang sempit ke tempat kerja? Kalau dalam hal ini tertanam kesan tentang harapan dan janji yang dikhianati, siapakah yang salah? Kalau angka putus sekolah begitu tinggi, pengangguran begitu besar, dan kalau kelahiran mereka yang terlalu banyak dianggap sebagai pangkalnya, siapa pula mesti bertanggung jawab?

Tak adil untuk begitu saja mempersalahkan mereka. Apalagi karena dunia mereka ialah dunia yang goyah. Banyak impian dan kenyataan, dorongan dan pemenuhan, seakan-akan berada pada ujung yang tak bersambung. Semua barangkali menimbulkan bayangan yang suram dan kelam. Tetapi mereka adalah cermin kita. Dan apa yang suram dan kelam di sana, kalau benar adanya, boleh jadi merupakan sebagian wajah kita juga.

Anda dapat membaca versi lengkap Artikel edisi ini di LP3ES-Prisma Digital format cetak maupun e-magazine.

Untuk melakukan pemesanan dapat melalui link berikut: LP3ES-Prisma Digital

Bagikan