Prisma

Dialog: Remaja di Mata Remaja

Pengantar

Persoalan remaja cenderung disorot tajam oleh banyak kalangan. Apakah masalahnya begitu serius? Perkelahian antar remaja, penyalahgunaan narkotika, kebebasan seks, sikap santai dan tak memperdulikan masa depan, sering merupakan topik yang dibicarakan secara hangat. Kenyataan ini adakalanya sungguh memprihatinkan banyak tokoh masyarakat apalagi bila dikaitkan dengan penyiapan kaum belia.

Secara jujur beberapa remaja dari Jakarta dan kota lain, di sini berusaha menceritakan dirinya dan masalah kelompoknya. Mereka membicarakan soal pendidikan, seks, orangtua, agama, hobby, pemanfaatan waktu luang, cita-cita, pemahaman kemasyarakatan, orientasi pekerjaan dan masa depan mereka.

“Dialog” Prisma kali ini menampilkan pengalaman dan pendapat Sergius Sutanto, pemenang pertama Lomba Karya Ilmiah Remaja Bidang Sosial Budaya, 1985; Ira Wibowo, Seorang remaja kelahiran Jerman Barat yang aktif sebagai anggota drumband dan pernah main filem; Hapri Lanudjun, anggota Pasukan Pengibar Bendera Pusaka (Paskibraka) 1985, siswa sekolah menengah di Kendari, Sulawesi Tenggara; Hidayat Jati, remaja kota Jakarta yang pernah mengikuti program “Summer Course” di Inggeris; dan Agus Mujiyanto, seorang remaja desa yang telah menamatkan pendidikan SMTA dan kini berusaha mengadu nasib untuk mencari pekerjaan di kota. Di mata remaja, kehidupan remaja itu sendiri terlihat dalam rupa yang bermacam-macam. Redaksi.

Pelajaran tentang Hidup, dari Pengemis

Sergius Sutanto, pelajar kelas III jurusan Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) SMA Don Bosco, Jakarta, tahun ini memenangkan Lomba Karya Ilmiah Remaja (LPIR) bidang Sosial Budaya, yang diselenggarakan LIPI bekerja sama dengan TVRI. Topik karya ilmiahnya ini tentang Pengemis di Jakarta. Tahun 1984 lalu dia juga memenangkan lomba yang sama, dan kajiannya adalah “Satu Sisi Kualitas Remaja Indonesia”. Atas prestasinya itu putera pertama dari lima bersaudara ini diberi beasiswa selama setahun dari sekolahnya. Orangtuanya tergolong berpenghidupan sederhana.

Lahir di Jakarta, 30 Oktober 1967, Sergius Sutanto menampilkan diri sebagai remaja yang ingin mandiri, peka terhadap lingkungannya, bahkan cenderung “menentang” gaya hidup teman sepermainannya di sekolah dan tempat lain. Dia sering melakukan penelitian, pendakian gunung, keluar masuk perpustakaan dan menulis artikel untuk berbagai media di Jakarta. Sergius memang tampak “aneh”. Di kalangan teman-temannya dia dianggap sok moralis dan idealis, bahkan dipandang “sombong” karena tidak dapat menyesuaikan diri dengan gaya hidup remaja kota. Bagaimana pendapat dia mengenai dirinya sebagai remaja kota, pendidikan, kemasyarakatan dan cita-citanya?

Fisik dan Bakat untuk Jadi Polisi

Hapri Lanudjun, seorang anggota Pasukan Pengibar Bendera Pusaka (Paskibraka) 1985 yang berasal dari SMPP Negeri 59, Kendari, Sulawesi Tenggara, menampilkan sisi lain dari wajah remaja/generasi yang lahir pada masa Orde Baru. Lahir di Kendari, 5 Oktober 1966, dari keluarga pegawai negeri, Hapri mempunyai tinggi tubuh 175 cm dan berat 65 kg. Postur tubuh yang jangkung dan berisi tampaknya cukup ideal untuk menunjang cita-citanya menjadi militer. Barangkali merupakan sesuatu yang kebetulan kalau anak nomor tiga dari 12 bersaudara yang lahir bertepatan dengan hari ABRI ini ingin jadi tentara. Tapi menjadi anggota Paskibraka 1985 pernah diimpikannya, setidak-tidaknya itulah cetusan kata hatinya tatkala menonton siaran TV-RI pada acara memperingati Detik-detik Proklamasi, 17 Agustus 1983.

Di sekolahnya Hapri dinilai mampu sebagai “pemimpin”. Karena itulah setiap upacara bendera dia diminta maju ke depan untuk mengatur jalannya upacara. Begitu pula bila ada perlombaan gerak jalan hampir dipastikan Hapri tampil sebagai “komandan”. Kepemimpinan dan keaktifannya ini ternyata “diintip” guru pengamat. Hapri Lanudjun – tanpa seleksi di sekolah – langsung dicalonkan sebagai wakil provinsi Sulawesi Tenggara untuk menjadi anggota Paskibraka 1985. Di pusat pendidikan Cibubur, Hapri termasuk regu “Tombak”, yaitu remaja putera yang bertinggi tubuh minimal 174 cm. Dan pada upacara di Istana Negara, 17 Agustus 1985, Hapri Lanudjun termasuk anggota “Kelompok 17” yang berjalan paling depan.

Usia 17 itu, Rasanya Tak Istimewa

Ira Wibowo, berdarah “Indo”. Dia dilahirkan dari ayah berkewarganegaraan Indonesia dan ibu dari Jerman Barat. Ira menampilkan sisi lain dari wajah remaja kota Indonesia yang terlihat dalam banyak aktivitas. Pelajar kelas III IPA SMA Tarakanita, Jakarta, yang khusus untuk murid puteri ini, bertindak sebagai mayorette drumband di sekolahnya dan sering muncul dalam berbagai acara penting di Jakarta, bahkan baru-baru ini melawat ke berbagai negara Eropa Barat. Memiliki tubuh setinggi 167 cm, Ira Wibowo memang pantas untuk berdiri paling depan dalam barisan drumband sekolahnya. Dara berwajah ayu ini juga pernah main filem, antara lain dalam Penjuru Cinta, Hidup Bisa Diatur dan Gantian Dong. Kadang-kadang bila masih ada kesempatan, Ira berlatih tari pada grup Cipta Indonesia, asuhan Guruh Sukarno Putro. Tentang olahraga yang digemarinya, selain renang, remaja puteri kelahiran Jerman Barat, 20 Desember 1967 ini senang menunggang kuda.

Selama 15 tahun Ira tinggal di luar negeri sebelum kembali ke Indonesia tahun 1982. Masuk kelas III SMP Tarakanita, dia harus menyesuaikan diri dengan lingkungan barunya dan jenis mata pelajaran yang tak pernah dikenyamnya, seperti Sejarah Indonesia.

“Mencari Pekerjaan Kok Susah, Ya !?”

Agus Mujiyanto, 18 tahun, adalah seorang remaja desa yang saat ini sedang terombang-ambing antara pilihan mencari pekerjaan atau melanjutkan sekolah. Mengantongi ijazah SMA, jurusan IPS, di Wonosari, Gunung Kidul, Yogyakarta, dia ingin meninggalkan kampung halamannya dan mengadu nasib di kota. Di desa Prigi, Kecamatan Tepus, Yogyakarta ini tak tersedia lapangan kerja. Pada musim kemarau lahan di daerahnya kering kerontang. Kebun milik orangtuanya tak dapat ditanami lagi karena tiada air. Remaja seusia dia pada umumnya telah “lari” ke kota mencari pekerjaan. Ada yang berjualan bakso, menjadi buruh bangunan atau jadi pembantu rumahtangga.

Berasal dari keluarga militer – ayahnya bertugas di Koramil Tepus – Agus masih beruntung bisa bekerja serabutan. Untuk mengisi waktu luangnya, anak sulung dari tiga bersaudara ini ngompreng. Familinya meminjamkan Colt untuk mengangkut penumpang, trayek Tepus–Wonosari. Uang setoran sehari Rp 7 ribu; dan dia dapat mengantungi uang Rp 3 ribu sehari. Orangtuanya pernah mencegah dia menjadi supir angkutan umum ini. Tapi Agus nekat. Tampaknya kenekatannya ini juga didorong oleh emosi remajanya. Permintaannya untuk dibelikan sepeda motor tak diluluskan orangtuanya. Bagaimana wajah remaja desa yang kecewa ini tentang diri dan masa depannya?

“Jadi Presiden: Apa Saya Sanggup?”

Hidayat Jati, pelajar kelas 1 SMA Santa Maria, Jakarta, merupakan gambaran kehidupan remaja kota besar yang memiliki prinsip. Dilahirkan di Jakarta, 25 Maret 1969, dari keluarga mampu, tampaknya Si Bung-bung – demikianlah panggilan akrabnya di rumah – tidak terseret arus gaya hidup “remaja jet set” kendati teman sepermainannya tidak sedikit jumlahnya yang mengarah ke gaya hidup mewah. Jati juga menilai, bahwa kenakalan remaja yang diributkan masyarakat tidak seluruhnya telah melebihi batas kewajaran, karena masih cukup banyak remaja yang menonjol prestasi pendidikannya.

Anda dapat membaca versi lengkap Artikel edisi ini di LP3ES-Prisma Digital format cetak maupun e-magazine.

Untuk melakukan pemesanan dapat melalui link berikut: LP3ES-Prisma Digital

Bagikan