Prisma

Radang-radang Perubahan

Baru sejak Perang Dunia Kedua kawasan kita ini resmi disebut Asia Tenggara. Sebelumnya, bentangan antara Asia dan Australia ini dikenal dengan berbagai nama, seperti K’un lun, India-Jauh, atau Asia-Muson, sesuai dengan angin Muson yang senantiasa menerpa wilayah ini. Dan seperti laiknya hembusan Muson, wilayah ini terus-menerus jadi medan persaingan budaya dan politik: India dan Cina di masa purba, Islam dan kuasa maritim Eropa, blok Barat dan blok Timur hingga apa pun yang muncul di sini harus berdamai dengan arah badai. Kuasa-kuasa politik lokal datang dan pergi, dan setiap kali harus meminjam legitimasi dari budaya yang lebih unggul. Begitulah konsep-konsep tentang kuasa raja, hirarki dan tata masyarakat menyerap konsep-konsep dari India, kesultanan Islam abad tengah, dan akhirnya serta republik serta konstitusionalisme moderen. Tak aneh jika pada tiap perubahan, orang suka melacak pengaruh dan campur tangan dari luar, sementara pada situasi yang lebih sial, seringkali kuasa lokal memang tak lebih dari semacam agen dari kuasa dunia yang lebih besar.

Lagipula, apakah yang bisa bertahan lama di atas daerah aliran sungai dan delta yang lembek ini? Orang berbicara tentang bangunan kartu domino yang rapuh. Dan seperti halnya aliran sungai dan migrasi purba, kartu-kartu itu cenderung rubuh dan bergeser ke arah Selatan. Maka, kita pun mudah cemas dengan apa yang terjadi di Utara: kemelut Vietnam, Kamboja, dan belakangan ini, Filipina. Selalu timbul pertanyaan: kapan kartu-kartu itu bergulir ke Selatan? Barangkali kecemasan ini pun tak lebih dari purbasangka. Yang jelas, dalam arus perubahan yang kronis ini, kita cenderung mencari sesuatu pola. Dan impian yang hidup adalah impian untuk menegakkan identitas, kepribadian, pola-budaya dan tata kuasa yang khas, yang sedapat mungkin tahan terhadap musim dan cuaca. Impian ini mungkin saja universal, tetapi terasa lebih mencengkam di kawasan yang terus menerus dilanda perubahan ini.

Malangnya, seringkali upaya menggapai mimpi ini serasa menegakkan benang basah, atau ibarat menegakkan tiang pancang di atas lempung. Tiap kali pancang yang sudah dibuat tegar itu justeru tergelincir dan jatuh berdentam. Begitulah tatanan yang hendak bertahan atas dasar kekerasan, diktator-diktator yang sepintas seperti tak terkalahkan, tiba-tiba tumbang dalam sekejap. Lebih tragis lagi, semua itu selalu menimbulkan peradangan dan luka yang berkepanjangan. Masyarakat terguncang-guncang, dan darah orang pun tertuang.

Maka, soalnya bukanlah memperkeras tiang-tiang pancang, bukan pula memperketat anyaman cakar ayam. Justeru yang diperlukan adalah pola bangunan yang lebih lentur, agar getaran gempa dan terpaan badai itu bisa diserap pada tingkat guncangan yang minimal. Memang, setiap perubahan akan membawa kepedihan. Senantiasa mencengkam berpisah dengan yang lama, seperti hanya selalu nyeri melahirkan yang baru. Tetapi karena perubahan itu sendiri adalah alami, maka pedih-pedih itu memang tak bisa dihindari. Kepemimpinan yang arif barangkali justeru terletak pada kesanggupan melancarkan perubahan tanpa peradangan dan luka yang berkepanjangan.

Anda dapat membaca versi lengkap Artikel edisi ini di LP3ES-Prisma Digital format cetak maupun e-magazine.

Untuk melakukan pemesanan dapat melalui link berikut: LP3ES-Prisma Digital

Bagikan