Pengantar
Pergantian kepemimpinan, menurut tata krama kita, adalah sesuatu yang tak baik dibicarakan. Ia hendaknya jangan dilakukan dengan terlalu menantang. Tapi, bagaimanapun, masalah ini adalah persoalan yang tak mungkin dihindarkan. Menurut Menteri Luar Negeri, Prof. Dr. Mochtar Kusumaatmadja, jika semuanya itu kita persiapkan lewat pembinaan suatu sistem, ia tidak akan melahirkan masalah. Tapi, katanya yang lebih penting adalah lembaga-lembaga yang menurut konsepsinya dimaksudkan sebagai badan legislatif dan lembaga kontrol, agar betul-betul diarahkan untuk menjalankan fungsinya. Prof. Mochtar, yang dikenal sebagai Menteri yang lebih terbuka dalam memberikan keterangan, menyebut, kebiasaan untuk tak suka menerima kritik sedikit demi sedikit harus pula dihilangkan.
Bagaimana masalah pergeseran kepemimpinan ini di negeri-negeri Asia Tenggara lainnya? Menlu tak mau berbicara terlalu jauh tentang ini. Namun, katanya, di hampir semua negara ASEAN ada kecenderungan yang dia namakan “gejala Timur”: kengganan ‘melawan’ generasi tua. Bahkan di negeri yang dianggap sangat rasional dan maju dalam pemikiran sekalipun — seperti Singapura — gejala seperti itu tetap ada.
Masalah pergantian kepemimpinan ini agaknya memang amat berbeda antara negara maju dengan negara sedang berkembang. Dampak kegagalan kepemimpinan di negeri maju, tidak akan sebesar ketidakberhasilan kepemimpinan di negara sedang berkembang. Karena itu, kata Menteri, di negara sedang berkembang, gejala untuk meneruskan kepemimpinan yang baik — tanpa hirau betul akan persoalan pergantian kepemimpinan — tak usah dilihat secara a priori bahwa itu jelek.
Dalam “Dialog” ini, Menteri Mochtar Kusumaatmadja, juga berbicara tentang stabilitas Asia Tenggara, Wawasan Nusantara, serta perkembangan kerjasama ASEAN. Redaksi
